Rohingya Sengsara, Aku Malu Menjadi Indonesia

Islam, telah menjadikan mereka terasing di buminya sendiri. Hanya karena mengikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, etnis Rohingnya dibantai oleh ektrimis Budha yang berjubah agama dan serdadu taghut yang berpakaian militer Burma. Kini, hari-hari mereka dipenuhi dengan deraian air mata duka. Di mana Indonesia?

Rohingnya adalah manusia yang harus dihormati dan dihargai oleh manusia lainnya. Mereka memiliki hak yang sama dengan manusia lainnya. Namun, oleh ekstrimis Budha yang berasal dari berbagai kuil di sana–Dibantu oleh tentara Burma– mereka memburu dan membantai kaum muslim etnis Rohingya.

Human right tidak pernah berlaku untuk kaum yang terbuang setelah beberapa dekade berjaya di Rakhine. Mereka dilarang sekolah, dilarang berdagang dan dilarang menjadi pegawai pemerintah. Nasib mereka gelap sehitam kulit yang membalut daging muslim yang bernenek moyang bangsa Bangla di India.

Ketika kaum ini dibantai, hanya sedikit lembaga internasional yang berteriak. United Nation (UN) pun tidak nampak berbicara. United State of Amerika (USA) pun terlihat tidak hendak menegakkan demokrasi di Rakhine. Mungkin kawasan itu tidak seksi seperti Jazirah Arab ysng kaya raya. Tenyata, keadilan bagi orang miskin masih sebatas teori dalam seminar. Tak ada implementasi. Rohingya dilupakan, layaknya dunia melupakan Somalia.

Tidak sedikit dari etnis Rohignya yang nekat melarikan diri. Mereka terombang ambing di lautan. Mereka ternista, mereka terhina. Rohingya dibuang. Bagi mereka yang bertahan, tiap hari harus siap dibantai oleh ekstrimis Budha yang mayoritas di sana.

Sejatinya, Rohingya punya saudara seiman di dekat mereka. Yaitu Indonesia. Sebagai negara yang mayoritas muslim serta memiliki militer hebat, sejatinya Indonesia adalah satu-satunya harapan. Apalagi TNI tidak punya lawan sepadan di dalam negeri. Namun Indonesia sepertinya tidak begitu peduli. Baik pemerintah maupun oposisi, sibuk bertengkar saling menjegal. Bahkan hanya dengan seorang Ahok saja, bisa berlarut-larut.

Rohingnya tentu tidak pantas berharap kepada Indonesia. Punggawa negeri ini, jangankan untuk menerjunkan pasukan TNI ke Burma, untuk memenjarakan seorang penghina Quran saja, membutuhkan demo besar. Bangsa ini, walau mayoritas Islam, tapi elitnya adalah orang yang malu-malu mengakui keislamannya. Mereka lebih senang menjadi liberal, daripada menjadi muslim yang peduli terhadap muslim lainnya.

Saudaraku, Rohingya. Aku malu menjadi bagian dari bangsa ini. Indonesia suatu entitas yang dipimpin oleh kaum sok nasionalis yang nyaris tak pernah punya sikap ketika entitas Islam dibabat.

Bayangkan, demikian berat pembantaian etnis Rohingya, Indonesia belum berani bersikap. Presiden terlalu hati-hati bersikap. Akibatnya, Pemerintah Burma tak pernah merasa harus berbaik hati terhadap Rohingya. Bersebab, negara dengan muslim terbesar di dunia saja, serta tetangga paling dekat dengan mereka, justru tak bersikap.

Ah, aku sudah kehilangan kata-kata. Penguasa negara ini sudah sangat kehilangan jati diri. Mereka malu-malu terhadap Burma. Untuk mengusir Duta Besar Burma saja, mereka tidak bwrani. Konon lagi, mengirimkan TNI ke Rakhine untul membela Rohingya.

Tulisan ini mungkin terlalu bodoh bagi sebagian orang. Namun bagi saya, apa gunanya kita punya TNI yang mayoritas muslim dan Panglimanya yang gagah perkasa? Apa gunanya kita sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia? Bila tak mampu membela saudara seagama yang ditindas oleh ekstrimis Budha yang diback up oleh pemerintah Burma.

Oh iya, saya lupa, jangankan peduli terhadap Rohingya, di dalam negeri saja, Islam masih seperti tamu. Ah, aku malu menjadi Indonesia. []

KOMENTAR FACEBOOK