Semalam di Sabang

Ia begitu cepat akrab. Padahal kami baru pertama kali bertemu. Lelaki asal Madat itu punya segudang cerita tentang berbagai hal. Namun satu hal yang menarik. Ia siap mengabdi untuk Sabang.

Kami tiba di penginapan sekitar pukul19:30 WIB. Ombak Pantai Kasih sudah tak terlihat. Gelap dan rintik, telah membekukan waktu. Kota Sabang terlihat seperti gadis cantik yang dilamun rindu. Menggigil diterpa deru angin Samudera Hindia.

//Apa kabar? Enjoy// sebuah chattingan masuk. Saya melihat nama pengirim. Muslim Budiman Madat.

//Alhamdulillah, Bang. Kami baru pulang keliling Pulau Weh, Sabang. Ngopi di mana kita?//

//Terserah. Di manapun boleh//

//Saya “muallaf” di sini. Mohon petunjuk. Sekalian saya dan istri hendak makan mie jalak//

//Oke. Kita ketemu di warung mie jalak. Setelah itu baru ngopi//.

Hujan sudah berhenti. Dedaunan masih basah. Ombak dari laut terus-menerus menjilati Pantai Paradiso. Saya dan istri memacu sepeda motor ber plat Aceh Timur, dengan kecepatan rendah. Kota Sabang yang kecil namun sangat eksotis, terlalu sayang bila tidak dinikmati.
img_20161117_083320

Tidak begitu lama kami pun tiba di Jalan Perdagangan. Jalan ini merupakan salah satu pusat kuliner Sabang yang sudah berdiri sejak Belanda menguasai Teluk Sabang. Di dalam toko yang bercorak tahun ketika Belanda berjaya di Aceh, berbagai jenis makanan dijual.

Berbagai jenis mie dengan nama yang berbeda di jual di jalan ini. Tiap penganan memiliki sejarahnya masing-masing. Pemilik warung rata-rata etnis Tionghoa –kami menyebutnya Cina–. Penampilan mereka tetap sama dari waktu ke waktu. Baju kaos oblong, celana pendek, sandal jepit dan bahasa chengcuanya yang legendaris.

Karena masih dalam kawasan kota, harga makanan di jalan perdagangan masih aman untuk kantong rakyat jelata dan backpacker. Untuk seporsi mie–lumayan banyak– hanya Rp 10.000. Harga nasi juga masih standar. Di sini, tukang parkirnya pun patuh pada Perda. Tiap sepmor hanya dikutip 1000,00. Bila kita berikan lembaran 2000,00 pasti dikembalikan 1000. Hana istilah “Puna suwah lon balek, Bos?.”

Kembali ke topik awal. Di warung yang menjual mie jalak, seorang lelaki setengah muda sudah duduk dengan tertib. Ia tersenyum ketika melihat kami datang. Seorang pelayan segera menanyakan apa yang hendak kami pesan. Setelah itu, kami pun tenggelam dalam obrolan panjang dengan topik bebas. Tidak ketinggalan tentang media massa dan etos kerja etnis Tionghoa.

“Orang kita, yang pintar hanya memaki media orang. Naik turun jidatnya ketika menghardik koran atau web berita milik orang laim. Giliran ada media yang dibuat anak negerinya sendiri, jangankan memasang iklan, menulis opini saja enggan,” kata saya.

Muslim, begitu nama yang diberikan oleh almarhum ayahnya. Sang ayah, Teungku Budiman adalah panitia pembangunan mesjid di kampungnya. Di facebook, lulusan akutansi Universitas Syiah Kuala itu, menulis namanya:Muslim Budiman Madat.

“Menurut cerita, nama Madat itu, karena waktu zaman belanda kawasan tersebut dijadikan tempat bermadat (menghisap candu) untuk melalaikan pejuang Aceh. Hanya itu cerita yang saya dengar,” ujarnya, Rabu malam (16/11/2016).

Lupakan tentang itu. Bila ada kesempatan, saya ingin ke sana.

Kepada saya, Muslim –saya menyebutnya Bang Muslim– bercerita banyak hal tentang potensi Sabang. Laut dan pantai dengan warna biru serta terumbu karang, adalah anugerah Ilahi. Saya sepakat dengan apa yang ia sampaikan. Bagi saya, Sabang adalah hamparan ranah surga di ujung barat Pulau Sumatera.

Ya, laut, kelok jalan. Bukit dan gunung serta hutan hujan tropis yang lumayan lebat, telah menjadikan Sabang sebagai destinasi yang pantas dirindui. Kawasan ini berhasil membranding diri sebagai objek wisata dengan pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Saya pun pernah bermimpi, andaikan saya punya cukup uang, kiranya saya ingin berlama-lama di sini, untuk menulis dan menyelesaikan naskah novel. Kenapa? Karena tiap riak yang menyentuh pasir putih, tiap gedung tua nan bersejarah, telah dan terus memberikan energi bagi saya untuk mendapatlan inspirasi.

Keindahan Sabang tidak memberikan kesempatan pikiran untuk radikal. Ombak laut terlalu romantis. Liukan ekor ikan karang, terumbu yang beraneka warna, belaian angin pantai, telah menjadikan setiap jiwa menjadi melow. Dengan kondisi jiwa yang demikian, tentu yang selalu cocok didengar adalah lagu romantis. Sabang cocok untuk cinta, tidak pas untuk angkara.

Pada pengujung pertemuan, Muslim berkata “Saya PNS. Di mana ditempatkan, di sana tanah air saya. Di mana saya bertugas, disitulah saya mengabdi.” []