Ulama Riil vs Ulama Dunia, Tepatkah?

Foto milik warganet yang tersebar di media sosial

Salah satu luka sosial paling menyayat hati akibat efek “Lidah Liar Ahok” (meminjam istilah Buya Syafii Maarif) adalah munculnya informasi yang membenturkan pemuka agama. Ulama A dinilai lebih bagus dibanding dengan ulama B.

Ulama A disebut lebih riil, sedang ulama B lebih duniawi, dan dari cara mereka hidup, umat Islam diajak untuk menentukan kualitas keulamaan mereka. Sebuah dikotomi yang melukai.

Andai ini kritik murni, barangkali masih mungkin untuk diajak berdiskusi. Namun, jika ditilik dari penyebar informasi, mereka ternyata partisan, jadi informasi itu diperlukan untuk maksud politik semata. Kita doakan agar informasi yang ada tidak merusak kualitas rasa hormat kita kepada semua pemuka agama.

Saya yakin sekali, sesama ulama tidak akan terpengaruh dalam adu domba ini, dan saya yakin mereka saling beristighfar memohon ampun karena kerja dakwah mereka ternyata belum maksimal, sehingga masih bisa dikalahkan oleh motif-motif politik. Buktinya, ulamapun diadu domba dengan informasi yang tidak ada refensinya dalam khazanah kehidupan umat Islam.

Andai saja mereka lebih mau belajar sedikit sejarah, pastilah mereka paham bahwa dalam hidup berislam itu sama sekali tidak dilarang untuk hidup kaya dan memiliki harta. Salah satu tujuan syariah adalah perlindungan harta/properti, selain perlindungan akal, jiwa, agama, keturunan, dan bahkan lingkungan.

Banyak sekali catatan-catatan yang kini dapat dibaca bahwa nabi, dan beberapa sahabat nabi, bahkan juga umat Islam dibawah pemerintahan Islam hidup dalam kemakmuran. Jadi tidak benar jika ulama yang riil itu sudah pasti hidup miskin, lalu ulama duniawi itu adalah mereka yang hidup mewah.

Nabi punya kenderaan terbaik kala itu, kuda dan unta merah, dan lebih dari satu. Kala Muhammad kawin dengan Khadijah ada 100 ekor unta merah. Unta merah sangat spesial, jadi kala itu pasti mahal.

Begitu pula dengan sejumlah sahabat nabi, juga memiliki kuda tunggangan terbaik sehingga dapat dipergunakan ketika jihad memanggil. Juga punya unta sehingga bisa disumbangkan untuk keperluan dakwah dan umat.

Kini, sudah banyak pihak yang menerbitkan hitungan tentang besaran harta umat Islam awal baik hitungan jumlah kekayaan mereka plus hidungan sedekah mereka. Abu Bakar dan Umar bin Khattab tercatat sebagai dua sahabat yang saling berlomba dalam bersedekah, sehingga Umar mengakui tidak mampu menandingi kedermawanan Abu Bakar.

Tapi, itu tidak membuat Abu Bakar dan Umar berbeda kualitas keutamaan mereka sebagai elit muslim sehingga keduanya dipastikan nabi menjasi “asoe syurga.” Contoh nyata kekayaan sahabat yang masih ada sampai saat ini adalah kekayaan Usman bin Affan, yang karena dikelola secara Islam (waqaf) pada zaman awal Islam, keuntungan dari profertinya masih bermanfaat bagi umat Islam hingga saat ini. Contoh ini juga ada di ureueng Aceh. Berkat kekayaan Habib Burgak, yang diwaqafnya dahulu, manfaatnya bisa dipetik oleh jamaah haji asal Aceh.

Lantas, apakah anjuran menjemput kemakmuran harus menafikan orang-orang miskin? Tidak! Kehidupan hamba Allah harus dimuliakan, dihormati, bahkan ditempatkan derajatnya dalam kesetaraan, sebab yang hanya bisa membedakan adalah ketakwaan. Contoh sahabat nabi yang meskin bahkan buruk penampilannya tapi tetap disayangi dan diangkat derajat sosialnya adalah Juwaibar asal Yamamah.

Ada orang miskin dan orang kaya adalah fakta hidup, yang juga ada pada masa awal Islam. Hanya saja bedanya di masyarakat beriman adalah soal bentuk kecemburuan mereka. Dulu, mereka bukan cemburu karena mereka tidak mendapatkan haknya, bukan pula karena tiada yang peduli dan yang melindungi hidup mereka, tapi mereka bersedih hati karena tidak bisa beramal dengan kelebihan harta. Tapi nabi memberi solusi dengan arahan untuk bertasbih, bertahmid, dan bertakbir seusai shalat, yang bila dilakukan dengan baik bisa jadi mengalahkan amalan harta orang kaya.

Dan, ketika umat Islam berhasil mewujudkan pemerintahan Islam, rakyat juga pernah hidup dalam kemakmuran. Pada masa Umar bin Khattab di daerah Yaman sulit mencari orang miskin untuk diberi zakat. Begitu juga pada masa Umar bin Abdul Aziz, tidak didapati orang miskin.

Salah paham terbesar dan cenderung menyesatkan adalah pandangan bahwa zuhud itu adalah hidup miskin. Bukan, zuhud itu adalah tidak bangga karena memiliki dunia dan tidak sedih jika kehilangan dunia. Jadi, siapapun bisa menjadi diri yang zuhud dan wara’.

Orang yang tidak gembira jika hartanya bertambah, dan tidak bersedih jika hartanya berkurang, atau diri yang tidak diperbudak oleh harta, atau tidak menghalalkan segala cara untuk menumpuk harta, dan bersedia berbagi harta menurut haknya bagi jalan Allah adalah diri yang zuhud.

Jadi, tidak ada salahnya jika ada ulama yang memiliki kendaraan, apapun jenis dan berapapun harganya, manakala kendaraan itu tidak membuatnya lebih tertarik kepada dunia dan memalingkan diri dari Allah dan tugas-tugas keagamaan baik yang berkaitan dengan syiar maupun yang berkenaan dengan keummatan, dan pemerintahan. Juga tiada mengapa bila ada ulama yang menjaga dirinya dari sesuatu yang dapat memalingkan hatinya dari mengingat Allah Swt.

Maka oleh karena demikian mempersepsikan kualitas keulamaan melalui visual materi kekayaan, benda hak milik berharga, style sederhana atau trendy, bersorban, jas atau sarung ala kampung tidak relevan lagi dalam derajat komunikasi masa kini. Tempat mengikuti situasi zaman. Berhati-hatilah dengan informasi yang bisa membawa kita semua dalam adu domba politik. []

RR-TMY

KOMENTAR FACEBOOK