EDITORIAL: Dana Otsus, Apa atau Siapa?

Dana Otsus Aceh itu sejatinya adalah “dana kompensasi perang. ” Demikian meminjam istilah Alfian dari lembaga antikorupsi Aceh, MaTA.

Berpijak dari landasan itu, semestinya bicara soal Dana Otsus bukan bicara soal siapa pengelolanya, tapi apa yang mesti dikelola dengan Dana Otsus itu.

Apa yang mesti dikelola dengan Dana Otsus itulah yang tidak mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang berlangsung di ruang sidang DPRA, Rabu (23/11).

Provinsi, dengan berbagai alasan ingin menarik kembali pengelolaan seluruh Dana Otsus di provinsi, dan sebaliknya pihak kabupaten/kota ingin tetap ada transfer Dana Otsus ke kabupaten/kota.

Padahal, jika semua pihak memiliki ingatan pada riwayat konflik di Aceh, harusnya sejak 2008, terkhusus lagi saat ini, semua pihak, baik provinsi maupun kabupaten/kota, bersemangat untuk menghadirkan rancangan program pembangunan yang bersifat monumental, yang oleh generasi kini, bisa dijadikan bukti kepada generasi berikutnya, bahwa inilah hasil dari Dana Otsus Aceh.

Pertanyaannya, coba tunjukkan beberapa proyek yang monumental, dan itu bisa dibanggakan oleh generasi korban konflik Aceh, dari 42,2 triliun Dana Otsus Aceh (2008-2015).

Itu baru pertanyaan sekedar soal kebangaan, belum lagi pertanyaan yang lebih utama, yaitu proyek apa yang sudah dilakukan dengan Dana Otsus Aceh yang membuat daya ungkit ekonomi Aceh menggeliat, jumlah orang sakit menurun, jumlah orang pinter makin ramai.

Sekarang, dengan sisa Dana Otsus Aceh yang berbatas limit itu, masih belum juga ada satu suara untuk melakukan apa, masih tetap pada siapa. Padahal, jika sudah jelas “Apa yang Disepakati untuk Dilakukan dengan Dana Otsus,” maka bisa dicari siapa layak dan logis untuk melakukan pengelolaan Dana Otsus Aceh.

Masih ada waktu untuk memikirkan Apa yang paling monumental untuk dibuat bagi kawasan Utara dan Timur, Aceh, apa yang pantas untuk kawasan Tengah dan Tenggara, Aceh, apa yang disepakati untuk dibangun di Barat dan Selatan, Aceh, dan apa yang tepat untuk dibangun di pulau-pulau di Aceh, termasuk apa yang bagus dibangun untuk di pusat kota, Aceh. Ayo, berpikirlah sejatinya manusia damai. Bek gadoh dakwa ngon peng griek. []

KOMENTAR FACEBOOK