Kreatifitas Nakal Berbasis Aplikasi

Kemajuan tekonologi berbasis aplikasi menyebabkan arus globalisasi informasi menjadi suatu kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat kita saat ini. Era digitalisasi yang memberikan akses komunikasi berbasis aplikasi telah memberikan kepraktisan bagi masyarakat kita dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari.

Lihat saja, dalam kasus transportasi online beberapa saat yang lalu. Pemerintah dibuat kewalahan menghadapi bisnis ini, disatu sisi keberadaan regulasi menjadi penting untuk ditegakkan, namun disisi lain masyarakat juga sangat membutuhkan keberadaan moda transportasi yang efektif bagi mereka, selain alasan kesempatan pekerjaan yang juga menjadi poin keutamaan dalam persoalan ini.

Namun itu lah fakta, bahwa kehidupan masyarakat kita dewasa ini, tidak bisa dilepaskan dengan teknologi. Bahkan dalam hal pelaksanaan birokrasi sekalipun, pemerintah sudah mulai mengarahkan keseluruhan sistemnya kepada pelaksanaan e-government secara menyeluruh.

Untuk itu dibutuhkan berbagai macam instrumen teknologi yang mendukung jalannya birokrasi secara efektif dan tepat guna dengan mengembangkan inovasi teknologi berbasis aplikasi yang dikembangkan oleh pemerintah saat ini yang bertujuan untuk memangkas sistem birokrasi yang terkenal sulit.

Seperti aplikasi Qlue di jakarta dan aplikasi suwarga di banda aceh yang dikembangkan oleh pemuda aceh yang tergabung dalam tim aascenter untuk memudahkan masyarakat kita dalam berinteraksi memberikan informasi kepada pemerintah kota terkait keluhan warga sehari-hari, hal ini tentu sangat membantu masyrakat kita terutama dalam hal mendapatkan akses pelayanan dari pemerintah kota secara langsung.

Cyber City
Kehadiran aplikasi suwarga patut diapresiasi, ditengah keapatisan pemuda kita saat ini, ternyata aceh masih memiliki pemuda yang memiliki “ide liar dan nakal ” utamanya dalam berfikir secara out of the box dengan memberikan solusi melalui aplikasi yang sangat bermanfaat bagi masyarakat kota banda aceh.

Kehadiran aplikasi yang dibisa diunduh langsung ke ponsel kita ini, selaras dengan visi pemerintah kota banda aceh dalam menyongsong banda aceh islamic cyber city. Walaupun wacana cyber city di Indonesia bermula sejak akhir tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an melalui Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2001 yang mengatur tentang pusat informasi berbasis tekonologi informatika di komplek kemayoran, namun wacana ini kemudian dikembangkan oleh masing-masing daerah melalui peraturan daerahnya masing-masing.

Cyber City merupakan suatu kota yang memiliki infrastruktur yang mempunyai sarana dan prasarana teknologi informasi dan komunikasi yang lengkap, baik dari sisi kuantitasnya maupun kualitas dari sistem yang digunakan dalam komponen sistem yang ada di kota tersebut.

Implementasi cyber city ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi. Masyarakat yang semakin pandai menggunakan teknologi melalui pemanfaatan internet yang tersedia melalui hot spot Wi-Fi (wireless fidelity) di sejumlah tempat terbuka seperti taman-taman kota, warung-warung kopi, tempat-tempat olahraga, lokasi bandara, pelabuhan, terminal bis, pusat-pusat perbelanjan modern dan tempat-tempat wisata yang lain, juga sangat mendukung keberadaan cyber city.

Namun hal mendasar yang masih menjadi kendala dalam mengembangkan konsep cyber city ini adalah pada persoalan ketersediaan sumber daya manusia dalam mengintegrasikan konsep ini kepada masyarakat, walaupun secara umum pengkategorisasian SDM ini dapat ditujukan kepada pemerintah dan masyarakat umum akan tetapi masih sangat terbatas.

Dukungan pemerintah
Dalam mendukung keberhasilan kreatifitas nakal berbasis aplikasi seperti aplikasi suwarga di banda aceh ini, setidaknya ada tiga hal yang paling menentukan keberhasilan berkembangnya aplikasi ini, yakni pertama, terkait dengan pemberian insentif dari pemerintah kepada para inovator untuk mengembangkan hasil inovasinya. Kedua, pemberian perlindungan hak cipta melalui pemberian paten dari pemerintah kepada hasil inovasi, dan ketiga, terkait dengan keseriusan pemimpin dalam mengembangkan konsep ini melalui program nyata pemerintah.

Dalam hal yang pertama, terkait dengan adanya insentif yang diberikan kepada para inovator diharapkan dapat merangsang kreatifitas meraka dalam hal inovasi. Misalnya saja dalam konteks pelaksanaan tahapan pilkada saat ini, apabila para inovator tersebut serius mengembangkan teknologi tersebut, bukan tidak mungkin mereka bisa membuat aplikasi informasi pasangan calon kepada masyarakat, sekaligus memudahkan penyelenggara dalam mensosialisasikan pelaksanaan pilkada yang jurdil kepada masyarakat, bahkan apabila ditemukan pelanggaran terhadap pelaksanaan pilkada nantinya, masyarakat diharapkan dapat melaporkannya kepada panitia pengawas pilkada melalui aplikasi ini, tanpa perlu takut dengan ancaman intimidasi.

Selanjutnya, kedua, dalam hal pemberian perlindungan hak cipta melalui pemberian paten kepada inovator, hal yang harus diperhatikan pemerintah adalah terkait dengan karya yang dihasilkan oleh inovator tersebut adalah jelas keasliannya, hal ini memperhatikan bahwa hasil karya tersebut bernilai ekonomis, untuk kemudian didaftarkan menjadi suatu karya yang dipatenkan.

Setidaknya dalam konteks suatu karya tersebut layak dipatenkan atau tidak, bergantung pada tiga bentuk penemuan dan akibat yang ditimbulkan oleh hak paten itu sendiri, yakni pertama terkait dengan penemuan sebuah produk, kedua terkait dengan penemuan sebuah proses, dan ketiga, terkait penemuan dari sebuah proses yang menghasilkan suatu produk.

Selain itu, yang penting juga diperhatikan dalam hal pemberian paten kepada para inovator yang mengembangkan kreatifitas nakalnya melalui aplikasi ini adalah terkait dengan jangka waktu perlindungan paten tesebut, yang dimana apabila perlindungan berakhir, penemuan menjadi domain publik, yang membuka kemungkinan kepada setiap orang untuk melaksanakan penemuan itu tanpa harus membayar royalty kepada penemunya, sehingga peran pemerintah kedapan diharapkan tidak hanya sebatas pemberian paten semata namun juga harus memperhatikan keberlangsungnya.

Sedangkan ketiga, terkait dengan soal keseriusan pemerintah dalam mendukung keberadaan para inovator berbasis aplikasi ini , pemerintah seharusnya dapat memberikan akses kemudahan bagi para inovator dalam mengembangkan hasil karyanya. Misalnya saja di Amerika Serikat, pemerintah Amerika membuat peraturan yang membebaskan pajak bagi perusahaan yang melakukan inovasi tekonologi. Begitu juga dengan Singapura, yang memberikan kemudahan kepada status pelopor bagi tekonologi yang memperkenalkan teknologi baru/keahlian melalui pembebasan pajak penghasilan perusahaan selama lebih dari 10 tahun untuk biaya pematenan yang mendorong para inovator untuk mematenkan inovasi mereka.

Untuk itu disinilah keberadaan pemerintah dibutuhkan untuk mendukung perkembangan kreatifitas nakal berbasis aplikasi ini, sehingga diharapkan dengan kemudahan yang diberikan oleh pemerintah melalui pemberian insentif, paten, dan kemudahan pajak kepada para inovator diharapkan dapat menumbuhkan semangat inovasi sosial kepada mereka, untuk bisa menciptakan lapangan kerja kepada masyarakat, sekaligus juga menciptakan multiplier effect untuk menggerakkan roda prekonomian di masyarakat kita.[]

KOMENTAR FACEBOOK