Kill the Messenger 

Awalnya cuma sebuah pesan masuk: Kill the Messenger. Karena saya “sudah terikat sumpah pemuda berbahasa satu bahasa Indonesia” maka sms itu saya jadikan status di facebook: “Pu arti Kill the Messenger. ”

Sengaja saya tanya pakai bahasa Aceh, soalnya sekarang agak riskan menulis status, takut dijadikan tersangka. Halahhh, serius kalilah!

Pertanyaan itu ternyata mendapat komentar, yang awalnya saya duga sekedar jawaban candaan.

Kiban han, soalnya, masak diartikan “pesan pembunuh” oleh RV, “bunuh pembawa pesan” oleh Rahmat Saputra dan Zubier, “pembunuh pesanan” oleh Fauza. Lebih gawat lagi komentar Irma Coet: “bunuh yang bawa pesan. ”

Terakhir komentar “poh ureueng yang ba haba” oleh Sanusi Juned. Beliau adalah politisi senior keturunan Aceh yang kini sangat kritis mensikapi dinamika politik di Malaysia.

Oleh wartawan senior, Nurlis E Meuko dan J Kamal Farza meminta saya untuk nonton film berjudul “Kill the Messenger.”

Saya pun bergegas minta bantu Paman Google yang sedang naik daun karena data-datanya dipakai oleh pengguna media sosial yang kemudian dijadikan dasar untuk mengatakan adanya makar. Halahhhh, kok jadi serius lagi.

Oohhhhh Kill the Messenger rupanya kisah tentang jurnalis bernama Gary Webb yang mati terbunuh dengan dua luka tembakan di kepalanya. Tragis ya!

Tapi, kenapa oleh petugas sang penulis
laporan bersambung dengan judul Dark Alliance disebut bunuh diri? Apa karena Webb mengalami tekanan oleh atasannya bersebab media utama menyerang laporannya?

Atau, karena usai Webb mundur, lalu terkatung-katung, dan jadi pengguran, keluarnya menderita, dan ini jadi alasan bunuh diri?

Rupanya tidak. Webb tidak bunuh diri, melainkan dibunuh karena laporannya yang mengungkap kejahatan alat kekuasaan. Semua ini terungkap dalam buku yang Nick Schou, jurnalis LA Weekly, tulis berjudul Kill the Messenger: How the CIA’s Crack-Cocaine Controversy Destroyed Journalist Gary Webb.

Ngeri, ngeri, dan ngeri! Wah, sekarang kok saya yang malah takut, soalnya komentar rakan-rakan ada benarnya: bunuh si pembawa pesan alias “poh ureueng yang ba haba.”

Tapi, membawa pesan memang penuh resiko. Apalagi yang mengungkap kebenaran dan menjungkirbalikkan kejahatan. Jauh hari pengalaman pahit bagi pembawa pesan sudah di alami oleh Abu Dzar al Ghifari.

Kepadanya pula Nabi Suci Muhammad bersabda: “Katakan kebenaran, sekalipun pahit. ” Dan, ketika ia diminta ganti senjata besi dengan senjata lisan, akhirnya hidupnya berujung tragis karena kekuasaan begitu takut kepada lisan kebenarannya lebih tajam dari pedang.

Kinipun para pembawa pesan sedang dikembalikan kepada iklim self cencorship saking takutnya. Tidak perlu lagi sampai didatangi, karena sudah ada sensor diri. “Dari pada habeh teuh, leubeh get ta tuleh yang aman mantong. ”

Di Aceh, “pembunuhan atas pesan” juga pernah terjadi, yaitu pada masa Darurat Militer. Tidak ada berita yang muncul di media kecuali berita yang mendukung kekuasaan.

Bagaimana dengan masa kini? Jangan saya nilai ya, tapi kata orang jangan coba-coba ungkap kejahatan, nanti kamu jadi tersangka. Duh, takutnya. Takut apa mulai terjadi self cencor ya hehe.

Tapi, ureung Aceh memang banyak akal, termasuk cari jalan keluar. Ci bandeng: naik – ke atas, turun – ke bawah, masuk – ke dalam, tapi pas keluar tidak tahu ke mana. Beda ama orang Aceh, ek – u ateuh, troen – u baroeh, tamong – u dalam, teubit – ya u lua. Ada lagi, kalau Indonesia cuma ada dua alternatif, begini dan begitu. Beda dengan Aceh, meuno, meunan, meudeh. Ka serius loem haha.

Padahai, yang mau dibilang adalah, meski kekuasaan membatasi dengan mengerahkan segenap alat kekuasaan dan anggaran, jika rakyat sudah terluka oleh ketidakadilan, maka na saja yang bisa dilakukan.

Jadi, meski buku atau film Kill the Messenger mau menyampaikan pesan kepada kita bahwa “Terlampau berbahaya untuk berbicara ihwal kebenaran kepada kekuasaan” namun rakyat yang terluka akan menemukan sejuta cara untuk tetap berani melanjutkan apa yang sudah dirintis oleh Abu Dzar: “Katakan kebenaran, sekalipun pahit. “

KOMENTAR FACEBOOK