Ini Kesalahan Fatal Habib Rizieq yang Bahkan Jarang Disadari Anggota FPI

Tuntutan pembubaran Organisasi Masyarakat (Ormas) Front Pembela Islam (FPI) sangat serius. Saking seriusnya Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi Tito Karnavian juga angkat bicara dan mengakui banyaknya tuntutan pembubaran ormas yang dipimpin oleh Muhammad Rizieq Shihab, yang populer dipanggil Habib Rizieq.

Besarnya tuntutan pembubaran FPI membuktikan adanya kesalahan fatal yang dilakukan oleh Habib Rizieq. Mungkin ini juga yang menjadi sebab mengapa website pribadi Imam Besar FPI diblokir sejak Minggu (27/11).

Andai saja Habib Rizieq bersedia mengikuti jalan yang sudah ditempuh oleh Ormas terbesar, seperti NU dan Muhammadiyah, pasti pemerintah dan sebagian besar orang akan welcome dengan Habib Rizieq. Buktinya, pemerintah sangat mendukung apapun gagasan besar kedua lembaga ini. NU dengan gagasan Islam Nusantara dan Muhammadiyah dengan gagasan Islam Berkemajuan.

Bahkan, andai Habib Rizieq bersedia tampil dengan amalan spiritual tersendiri, juga akan diterima baik oleh jajaran kekuasaan. Banyak sekali bukti bagaimana ramahnya penguasa terhadap tokoh-tokoh spiritual Islam yang datang dari berbagai belahan dunia, bahkan termasuk para pemikir besar Islam yang tampil dengan segenap atribut kecendikiaannya. Indonesia adalah negeri yang sangat ramah dengan segenap gagasan pemikiran Islam, baik yang sifatnya tradisional maupun yang modern.

Bahkan, berkembangnya berbagai teologi Islam ke arah yang sangat konprontatif di antara umat Islam sendiri, seperti Islam Sunni versus Islam Syiah, Islam Ahlusunnah Vs Islam Wahabi, juga tidak masalah, dan pemerintah tidak akan ikut campur tangan sejauh belum berwujud aksi kekerasan atau istilahnya pelanggaran hukum.

Sekiranya, Habib Rizieq menggerakkan berjuta-juta umat hanya untuk menjadi jamaah zikir dan doa semata juga tidak menjadi persoalan. Bahkan, banyak elit kekuasaan dan elit politik serta elit kelembagaan yang bakal menjadi pendukung, atau bahkan menjadi anggotanya.

Apa kesalahan Habib Rizieq yang sifatnya sangat fatal? Ada banyak sekali, tapi dalam ulasan kali ini hanya disebut tiga hal saja, yang bahkan jarang disadari oleh anggota FPI itu sendiri. Buktinya, ada banyak anggota FPI yang kewalahan saat berhadapan dengan kekuatan yang sangat menginginkan pembubaran FPI.

Kesalahan fatal pertama adalah Habib Riziq telah mengganggu dengan serius basis ekonomi mereka yang bergantung kepada aktivitas-aktivitas yang oleh anggota FPI disebut dengan kegiatan yang melanggar syariat, seperti kegiatan prostitusi, minuman keras, perjudian dan lainnya. Berbeda dengan Ormas Islam lain, FPI justru melakukan tindakan keras yang oleh berbagai pihak disebut sebagai aksi kekerasan.

Prostitusi, minuman keras dan perjudian memang melanggar syariat. Bukan hanya Islam, hampir semua agama lain juga melarang kegiatan ini. Tapi, ini juga “pasar” dimana uang mengalir deras di jalur ini untuk berbagai pihak. Di pasar ini, bukan hanya uang, tapi juga berbagai aliansi, persekutuan, relasi, juga melahirkan ragam keuntungan dalam berbagai bentuknya.

Bisa dibayangkan, apa jadinya nasib mereka yang membutuhkan pasar ini jika ada yang datang ingin menghancurkan pasar ini. Jika ada yang datang merebut tapi hanya sekedar menguasai jalur dan pengaruh agar bisa mendapat bagian lebih besar mungkin tidak masalah, tapi jika ada orang atau pihak yang datang dengan maksud menghancurkan, maka hanya ada satu kata, perlawanan balik.

Inilah yang dialami oleh FPI dibawah pimpinan Habib Rizieq. Habib Rizieq dengan FPI-nya tidak datang untuk menjadi “penguasa” yang menguasai atau memiliki kendali atas rupiah yang mengalir di pasar prostitusi, minuman keras dan perjuadian. Ia, datang untuk menghancurkan jalur ekonomi haram yang disepanjang sejarahnya ternyata tidak bisa dihancurkan oleh hukum, peraturan, aparat, kepemimpinan baru, bahkan oleh anjuran dan ajakan para pemuka agama.

Kesalahan fatal kedua adalah Habib Rizieq menghidupkan Islam Protes. Protes FPI yang tadinya lebih keras di jalur ekonomi haram, kini merambah ke protes politik. Andai saja Habib Rizieq fokus di jalur ekonomi barangkali musuh Habib Rizieq tidak seluas sekarang, tapi begitu memasuki protes politik maka musuh Habib Rizieq makin meluas.

Bagi Habib Rizieq umat Islam tidak boleh menjadi komoditi politik apalagi sampai menjadi korban politik. Umat Islam, menurut Habib Rizieq harus menjadi pemain utama politik agar seluruh produk undang-undang yang dihasilkan oleh legislatif dan yang dijalankan oleh eksekutif tidak diproduksi dan dilaksanakan oleh mereka yang berpotensi melanggar syariah apalagi sampai menegasikan umat Islam hanya sebatas komoditi dan korban politik.

Seandainya saja Habib Rizieq hanya sekedar menyampaikan gagasan atau pemikirannya terkait politik mungkin tidak terlalu masalah, namun begitu Habib Rizieq menjalankan aksi-aksi politik yang mengarahkan, menggalang, dan bahkan aktif melakukan advokasi politik yang dapat menurunkan dukungan suara untuk calon pemimpin non Islam dan atau partai politik yang dinilai anti penerapan syariat Islam maka ini jelas bahaya besar yang dapat merugikan.

Bagaimanapun di jalur kekuasaan ragam keuntungan bisa diperoleh oleh mereka yang menguasai kekuasaan. Partai politik manapun dipastikan sangat membutuhkan suara dari umat Islam. Untuk itu, aliansi kekuasaan dan partai politik dengan elit ormas Islam sangat diperlukan. Siapa yang bisa menguasai elit ormas Islam maka separuh kemenangan sudah ditangan.

Bagi elit ormas Islam juga sangat berkepentingan menjalin sekutu dengan elit kekuasaan. Karena itu wajar manakala di setiap pemilu elit ormas Islam berusaha menemukan calon potensial dan lalu membangun hubungan untuk membuka pintu masuk bagi calon guna bertemu dengan anggotanya. Jika semua calon dipandang memiliki potensi menang maka sikap netral akan diambil dengan harapan siapapun yang menang dapat tetap dibangun aliansi. Dalam hubungan persekutuan, bahkan ada elit ormas yang siap melindungi elit kekuasaan, termasuk dengan fatwa.

Jadi, ketika Habib Rizieq juga membawa spirit Islam Protes ke bidang politik, maka wajar jika ada elit kekuasaan, elit partai politik dan elit ormas yang “sijuk suum” (panas dingin). Bagi kalangan aktivis tentu sangat paham dampak revolusioner yang ditimbulkan oleh spirit Islam Protes. Revolusi di Iran dimulai dari kesadaran yang dimunculkan oleh Ali Syariati yang memperkenalkan Islam Pembebasan. Dalam sejarah yang jauh, umat Islam di Indonesia akan lebih tertarik dengan Islamnya Abu Dzar yang populis dikalangan rakyat ketimbang Islamnya Marwan bin Hakam yang populis dikalangan elit, dan kaum atau kelompoknya sendiri.

Kesalahan fatal ketiga adalah Habib Rizieq dengan memasuki zona politik telah membuat dirinya berhadapan secara langsung dengan Jokowi. Ini agenda yang dapat merusak kerja-kerja politik para pendukung Jokowi yang sedang membangun Poros Politik Jokowi guna memastikan Jokowi kembali bisa melanjutkan kepemimpinan di periode kedua. Segala kerja-kerja politik dan pembangunan yang dilakukan saat ini sangat kentara keberhasilannya mewujudkan Poros Politik Jokowi. Meski Jokowi bukan orang utama dan pertama di PDIP, gerak politik Jokowi dan para pendukungnya berhasil membuat banyak kekuatan partai politik bersekutu dengan Jokowi, termasuk Partai Golkar. Bahkan, Prabowo sebagai rival politik harus memilih jalur bersahabat dengan Jokowi.
Magnek Jokowi yang tampil cantik ini menjadi terganggu dengan magnek Habib Rizieq yang tampil dengan spirit Islam Protesnya. Buktinya, Istana Negara berhasil “terkepung” oleh jutaan massa yang digerakkan oleh Habib Rizieq pada Aksi Bela Islam II pada Jumat (4/11).

Aksi Bela Islam ini jelas sangat mengganggu. Buktinya, Jokowi harus mondar mandir melakukan pendekatan dengan berbagai ormas Islam, dengan ulama, dan bahkan melakukan konsolidasi dengan kepolisian dan TNI. Hasilnya, berbagai kekuatan pendukung Jokowi kembali mencoba melemahkan magnek Habib Riziek yang kembali menggelar Aksi Bela Islam III.

Bukan hanya Jokowi, para pendukungnya pun disibukkan dengan segenap argumen yang mereka sebut beragama dengan akal sehat, waras dan tidak bersumbu pendek. Puncaknya, mereka menggelar karnaval kebhinnekaan yang sayangnya kalah massal dengan massa pendukung Aksi Bela Islam II. Ujungnya, isu seputar makar pun dimunculkan, dan suara Habib Rizieq dieliminir, salah satunya dengan menutup websitenya.

Sayangnya, daya magnet Habib Rizieq bagai tidak terbendung lagi, bahkan upaya terakhir ormas Islam untuk mempengaruhi umat Islam lewat fatwa haram shalat jumat di luar mesjid juga berhasil dipatahkan. Bahkan, pihak kepolisian akhirnya memilih berdialog yang ujungnya melahirkan beberapa kesepakatan terkait Aksi Bela Islam III. Semangat umat Islam untuk mengikuti hajatan Aksi Bela Islam III yang diinisiasi oleh Habib Rizieq akhirnya mengukuhkan dua poros utama yang bisa jadi akan terus bertarung, yaitu Poros Islam Protes dengan tokoh utamanya Habib Rizieq dan Poros Kebhinnekaan dengan tokoh utamanya Jokowi. Apapun endingnya, semoga Indonesia tetap tumbuh dalam persatuan dan kesatuan. []

KOMENTAR FACEBOOK