Tentang Seorang Muslim

Benarkah manusia idealis sudah lama mati? Atau begini–agar lebih jelas– Benarkah orang baik dan gemar menegakkan kebenaran sudah tidak ada lagi di dunia ini? Pertanyaan ini muncul setelah sekian banyak manusia mulai meragukan tentang masih banyaknya manusia idealis yang hidup di lingkar pinggang kita.

Dalam ilmu hikmah disebutkan, banyak orang di dunia mengukur sesuatu dengan alat ukur yang diciptakan sendiri, sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki olehnya. Sehingga melahirkan hasil analisa yang bertolak belakang dengan ilmu pengetahuan. Bahkan –lebih ekstrim– tidak sesuai dengan fakta.

Baiklah, sebagai contoh, saya akan bercerita tentang seorang Muslim. Ya, namanya Muslim. Seorang lulusan akutansi di universitas ternama di Aceh, dan kini memegang jabatan sangat strategis di salah satu kabupaten/kota di Aceh.

Akhir-akhir ini ia dilanda dilema. Pasalnya hampir semua orang memilih tidak percaya bahwa sesungguhnya Muslim bukanlah pejabat yang kaya raya. Kemana -mana ia naik sepeda motor. Bahkan uang yang ada di kas pribadinya sesuai dengan amanah undang-undang.

“Mobil mewahnya, Bapak umpetin di mana?” Tanya koleganya.

“Pak, bagi dong sikit rezekinya,” sindir yang lain.

Muslim tentu kelimpungan menjawab. Sebagai pejabat yang ramah dan tidak pelit–walau tidak pun sangat royal– ia menjadi bingung dengan cara teman-temannya menilai.

“Sepertinya aku berhenti saja dari pekerjaan ini. Terlalu tidak adil, ketika mereka menilaiku demikian,” ujarnya suatu ketika.

Ya, Muslim memang galau. Namun, sebagai sosok yang mengemban amanah yang cukup besar, kegalauan itu tentu tidak boleh lama-lama. Karena dunia bukanlah tempat untuk meluruskan hal-hal demikian.

Muslim adalah satu contoh tentang orang jujur yang dianggap berperilaku seperti orang yang tidak jujur.

Di Bireuen, Teungku H. Muhammad Yusuf (Tu Sop) yang merupakan pimpinan salah satu dayah besar, dihujat habis-habisan, karena maju sebagai salah satu calon Bupati Bireuen. Berbagai isu ditimpakan kepada sang inspirator tersebut. Ulama nan energik yang setiap ceramahnya bernuansa sejuk itu, ditimpa berbagai fitnah oleh lawan politik. Ia disebut ulama yang hubbud dunia. Ulama yang tidak patuh terhadap ulama yang lebih senior–ada sekitar dua ulama senior yang menyatakan ke publik via media bahwa tidak sepakat atas pencalonan Tu Sop–, korupsi 28 miliar, penyelewengan dana YADARA, dan sebagainya.

Pada akhirnya, seperti disampaikan oleh Tu Sop dalam beberapa tablig, bahwa banyak orang yang terjebak dalam pikirannya sendiri. Mempersepsikan orang lain, dengan menggunakan metode yang salah. Bahasa kasarnya si A melihat si B sebagai dirinya sendiri si A. Sehingga yang muncul adalah bayangan si A yang ditimpa paksa ke si B.

Teman, dunia hanyalah panggung sandiwara. Semakin teguh tekad seseorang untuk memperjuangkan kebenaran, maka semakin gencar pula panah fitnah ditusukkan ke tubuhnya.

Hal yang paling indah adalah tidak pernah dilahirkan. Bila sudah dilahirkan maka sebaiknya mati muda. Karena dunia anak-anak tidaklah abadi. Pergaulan tanpa benturan kepentingan hanya ada saat kanak-kanak. []

KOMENTAR FACEBOOK