412, Aksi “Bhinneka” II Kaum Hedonis?

Apa kalimat yang pantas diucapkan, ketika aksi 412, pawai kebhinnekaan tahap II, yang digelar pasca jutaan umat Islam tumpah di silang Monas, dalam rangka aksi super damai 212? Bentuk unjuk gigi kaum hipokrit? Atau show of force kelompok ultra nasionalis, marhaen, kiri tanggung, pengagum l***i dan h**o yang telah berhasil mencuri tempat di hati kekuasaan?

Atau ini bentuk perlawanan nyata terhadap “kekuatan” Islam –terlepas atas berbagai kepentingan– agar umat Islam ciut nyalinya? Apa pula kepentingan para pengusaha besar berupa developer, kementerian dan berbagai intansi lain, yang dengan nada pemaksaan memaksa PNS agar menyertakan keluarganya ambil bagian dalam parade massa? Aksi kebhinnekaan I sudah cukup menjadi bukti, bila aksi tandingan tersebut hanya bentuk pemuasaan libido pemerkosa bhinneka tunggal ika yang diikuti oleh banci kaleng dan identitas yang justru melecehkan Islam yang mayoritas di negeri ini.

Dalam tulisan yang pendek ini, saya mempertanyakan tujuan aksi. Bila maksudnya ini untuk mempertegas nasionalisme mereka, lalu apakah aksi 411 dan 212 adalah bentuk makar kaum muslimin? Atau maksudnya, apa?

Saya justru prihatin, mereka menyebut pawai 412 sebagai aksi kebangsaan, lalu apakah selama ini ada yang salah dengan bangsa ini? Sehingga harus memaksa para abdi negara untuk turut serta dalam kegiatan yang terkesan aksi show of force terhadap 212. Bila itu dilakukan, sungguh terlalu!

Saya ingin menyampaikan, kepada siapapun anda, marhaen, sosialis, ultra nasionalis, komunis, republiken abangan, bahwa umat Islam di Indonesia bukanlah ancaman bagi kebhinnekaan republik yang dibangun atas darah mayoritas umat Islam. Bahwa umat Islam di Indonesua yang berada dalam berbagai suku bangsa, merupakan perisai paling nyata bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Yakinlah, tanpa kami, kalian bukan siapa-siapa.

Terlepas bahwa aksi itu akan tetap digelar oleh mereka yang hanya berpadangan 5 centimeter, bahwa saya menyebut 412 sebagai pagelaran massa yang lebay nan ulok-ulok. Bagi umat Islam, tentu jangan terpancing. Hal paling penting, ke depan kita harus memastikan, baik presiden dan DPR haruslah kita pilih orang-orang yang benar- benar sudah teruji membela Islam.

Sudah waktunya kita gunakan demokrasi untuk memenangkan Islam. Karena saya berani menjamin, hanya di tangan para mujahid dan cendekiawan Islam non liberal,keutuhan NKRI akan terjaga.

Hidup NKRI!
Hidup Islam!
Merdeka!