Melihat “Cengkrama” Jakarta dari Aceh

ACEHTREND. CO, Banda Aceh – Jakarta, pusat kekuasaan itu kini sedang gelisah. Poros kanan agama dan poros kanan kebangsaan sedang saling “bercengkrama” dalam bentuk mobilisasi massa.

Kanan agama, dengan daya paham radikal (mengakar) nya terus menjaga simbol-simbol agama dari segala bentuk penistaan. Sama dengan kanan kebangsaan, dengan daya paham radikal (mengakar) nya juga terus merawat simbol-simbol kebangsaan.

Bagi poros agama, kitabullah dan nabi serta para pemuka agama adalah simbol yang tidak boleh dinista. Sebaliknya, NKRI, Pancasila dan kebhinnekaan tidak boleh disentuh, harga mati oleh poros kebangsaan.

Bagi poros agama, pernyataan “dibohongi pakai surah al-maidah:51” oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok adalah sumber masalahnya dan dipandang sebagai bentuk penistaan agama.

Sebaliknya, bagi poros kebangsaan keberadaan elit poros agama dengan segenap sepak terjangnya baik secara naratif maupun secara aksi, dipandang sebagai sumber rusaknya kemajemukan bangsa.

Akhirnya, kedua pihak saling unjuk kekuatan massa. Poros agama muncul dengan Aksi Bela Islamnya, dan poros kebangsaan tampil dengan Aksi Kebinnekaan dan Aksi Kebangsaan.

Aksi paling terkini adalah Aksi Bela Islam III yang digelar dalam wujud doa, zikir dan shalat jumat yang akhirnya juga dihadiri oleh Presiden dan Wakil Presiden, Panglima TNI, Kapolri dan sejumlah menteri dengan khatib Imam Besar Front Pembela Islam, Habib Rizieq.

Aksi yang digelar di Monas Jakarta pada 2/12 itu kini juga ditandingi oleh poros kebangsaan, dengan menggelar unjuk kekuatan yang direncanakan mencapai 500 ribu orang, Minggu (4/12).

Bedanya, jika Aksi Bela Islam sukses mobilisasi massa akibat efek penistaan al-maidah:51 sebagaimana disampaikan Habib Rizieq dalam khutbah jumatnya, maka sukses Aksi Kebangsaan karena kekuatan perintah yang didukung keuangan elit partai, elit ormas, elit pengembang plus pemerintah.

Dengan peta “cengkrama” Jakarta terkini maka bisa dicermati arah perjalanan politik Jakarta, yaitu makin dipercepat kembali menuju ke zaman orde baru. Sebuah zaman yang sukses merawat simbolisasi keagamaan dan kebangsaan, namun pada waktu bersamaan berhasil menyimpan aroma amis di bawah karpet pembangunan.

Lantas, apa yang bisa disikapi oleh Aceh? Apakah Aceh juga akan mengikuti irama pusat Jakarta, atau akan kembali lagi mencetus perlawanan baru, perlawanan atas penistaan agama yang lebih substansial, yaitu meruntuhkan berhala-berhala yang memuja kekuasaan, meruntuhkan sistem ekonomi yang membangun ketimpangan sosial, memerangi politik yang merawat kebodohan rakyat di akar rumput sebagai bank suara di musim pemilu, dan memperbaiki tata sosial agar lebih progresif, egaliter dan humanis? Hasil Pilkada 2017 menjadi bahagian dari cara kita menjawab arah zaman. []

KOMENTAR FACEBOOK