Ketika Bani Ahok Keok Diujung Jari Bani Adam

Bani Ahok makin sempoyongan. Bani Adam bagai pasukan lebah yang siap menyengat bila ada Bani Ahok yang bergerak.

Bani Ahok adalah mereka yang mendukung Ahok, yang sebelumnya menjadi pendukung Jokowi-Ahok dan Jokowi-Jusuf Kalla.

Bani Adam adalah mereka yang menolak kebijakan Ahok terkait penggusuran dan reklamasi plus mereka yang marah karena mulut tajam (kepribadian) Ahok dan penistaan agama.

Mereka inilah yang disebut Hersubeno Arief, jurnalis senior dengan perumpamaan lebah yang menyengat setiap pergerakan Bani Ahok.

Efeknya gawat, LSI menyebut elektabilitas Ahok terus menurun, dari 59,3 (Maret 2016) menjadi 49,1 (Juli 2016) dan menjadi 31, 4 (Oktober 2016). “Sejak Maret 2016 Ahok sudah dijadikan musuh bersama di media sosial, ” tulis media pada Selasa, 4/10 mengutip keterangan LSI.

Menurut pendiri LSI, Denny JA, berdasarkan survei terbaru, popularitas Ahok terus menurun. “Saat ini elektabilitas Ahok sudah dibawah 30%, atau hanya 24,6%,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (10/11/2016).

Hersubeno Arief dalam ulasannya, Sabtu (10/12) di Republika, mengutip ata yang dirilis oleh Politicawave, sebuah lembaga yang mengamati lalu lintas percakapan di sosial media, pada dua pekan masa awal kampanye (23 Sept- 3 Okt), pasangan Ahok-Djarot sangat mendominasi. Dari total 243.859 percakapan, pasangan Ahok-Djarot  memimpin dengan 146.460 percakapan, atau total share of awareness-nya sebesar 60.06 %.   Net sentiment (selisih dari sentimen positif dengan sentimen negatif)  Ahok-Djarot juga  paling tinggi dibandingkan dua pasangan lainnya.

Situasinya menjadi berubah drastis setelah munculnya Aksi Bela Islam (ABI) I dan II  sebagai buntut pidato Ahok di Pulau Seribu yang menyinggung tafsir Surat Al-Maidah 51. Pada tanggal 23 Sept-5 Okt 2016 ada sebanyak 117.039 percakapan tentang Ahok, 63.81 persen positif.  Percakapan tentang Ahok  pada tanggal 6 0ktober -20 November, atau setelah kasus Al-Maidah 51 melonjak  menjadi hampir dua kali lipat sebesar 216.466 percakapan. Namun sentimen negatifnya lebih besar dibanding yang positif. Tercatat  126.872  (58.61 persen) negatif. 

Sentimen negatif terhadap Ahok terus meningkat  setelah aksi 212 (ABI III). Ahok tetap paling banyak dibicarakan, tapi dengan sentimen negatif yang sangat tinggi, yakni sebesar -92,047. 

Dua tahun lalu, Desember 2014 sentimen negatif dan positif terhadap Ahok nyaris seimbang.

Yustina Tantri dari Awesometrics, sebagaimana dilansir media beritatagar mencatat selama periode pemantauan, “Ahok” termuat sebanyak lebih dari 176 ribu kali di berbagai media. Dengan rincian sentimen: 31% positif, 24% negatif, dan 45% netral.

Hal yang sama juga terjadi pada hari terakhir pemantauan (17 Desember), terutama kaitannya dengan kebijakan pelarangan motor di jalur protokol. Dari sekitar 14 ribu percakapan yang terjaring: 30% bersentimen positif, 22% bersentimen negatif, dan 47% bersentimen netral.

Di linimasa Twitter, puncak percakapan “Ahok” justru terjadi pada 13 Desember 2014. Ketika itu suara yang dominan muncul adalah tuntutan warga agar Ahok melakukan razia PSK. Adapun suara bernuansa positif, bisa dilihat ketika Ahok mengumrohkan 30 penjaga mesjid.

Akankah Bani Ahok bisa keluar dari “sengatan” Bani Adam, dan akankah Bani Adam terus mengunci pergerakan Bani Ahok di media sosial? Semua masih mungkin terjadi!

Munawar Tungkop, penikmat kopi di Lampriet, Banda Aceh

KOMENTAR FACEBOOK