Musda KNPI Bireuen, Antara pengangguran dan Narkoba

Hari ini, Minggu (11/12/2016) setidaknya ada tiga orang yang sudah menyatakan diri maju sebagai calon ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bireuen. Mereka adalah Saiful Hadi, SE, Agusni, SP, dan Asnawi, S.Sos. ketiganya mewakili semangat generasi millenium ketiga. Walau berbeda usia, namun dalam kesehariannya trio ini selalu bertemu dalam berbagai isu.

Walau beberapa waktu lalu, KNPI bukanlah organisasi yang menjadi perhatian–dikarenakan isu kedaerahan yang mencuat– pelan namun pasti, pasca damai antara GAM dan RI terajut di Finlandia pada 16 Agustus 2016, seiring dengan tenggelamnya isu kedaerahan dan rontoknya berbagai organisasi kepemudaan yang berskop Aceh, KNPI kembali ke khittahnya, sebagai organisasi payung yang mumpuni dan punya peran yang besar.

Maka berebutlah berbagai kelompok politik dan kepentingan, untuk bisa menguasai KNPI. Mulai dari kelompok politik yang beraroma Jakarta, maupun yang bernuansa Aceh, ramai-ramai memainkan tarian politiknya, untuk dapat menduduki jabatan sebagai Ketua KNPI. Bahkan di beberapa kabupaten/kota, ada pihak yang mewajibkan kelompok tertentu untuk menguasai KNPI.

Khusus untuk Bireuen, saat ini untuk isu kepemudaan, ada dua hal yang paling menjadi perhatian–bagi mereka yang berpikir– yaitu pengangguran dan peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Menurut rilis dari Kata Data, sepanjang 2007-2013, angka pengangguran di Bireuen semakin meningkat. Hingga 2013, jumlah penduduk Bireuen yang menganggur 17,3 ribu jiwa. Mayoritas adalah kaum muda –tenaga produktif–.

Di sisi lainnya, peredaran narkoba dan penyalahgunaan narkoba kian marak di Bireuen. Hasil sebuah riset independen beberapa waktu lalu, dalam sebuah kampung, Minimal 10 pemudanya sudah mengonsumsi narkoba dan terlibat dalam jaringan peredaran benda haram itu. Dalam tiap kecamatan, lebih dari tiga bandar sabu bertaraf besar bercokol. Belum lagi adanya bandar sabu yang tidak lagi bisa “disentuh” hukum karena rapinya cara kerja.

Efek dari meningkatnya pengangguran dan maraknya peredaran narkoba, tingkat tindak pidana pencurian kian meningkat di kampung-kampung. Rata-rata pelaku pencurian, merupakan pengguna narkoba atau diduga pengguna narkoba di tataran paling bawah. Jenis barang curian pun berupa bebek, ayam, padi dan kini piring desa yang disimpan di gudang meunasah, pinang yang sedang mengkal di batang, kelapa, pisang dan hasil kebun lainnya.

Nah, Ketua KNPI Bireuen, sebagai pemegang mandat induk organisasi kepemudaan, haruslah mampu menjadi pioneer dalam rangka mendorong Pemerintah Kabupaten Bireuen untuk menjadikan isu pengangguran dan penyalahgunaan narkoba, sebagai main issue dalam membangun Bireuen.

Nah, siapapun yang kelak akan menjadi Ketua KNPI Bireuen, kita harus pastikan bahwa ianya adalah tokoh pemuda yang siap berjibaku dengan waktu dan segenap usaha, untuk menyuarakan pengurangan pengangguran dan pembasmian peredaran narkoba di Bireuen tercinta.

Kita juga harus pastikan, bahwa di antara ketiga calon tersebut, bahwa semuanya benar-benar punya komitmen untuk memperjuangkan aspirasi pemuda dan melawan narkoba. Pada akhirnya, uang tidak akan bermakna, bila pemudanya rusak.

Untuk itu, saga secara pribadi punya harapan, semoga pemilik suara, kali ini benar-benar memanfaatkan peluang ini untuk memilih Ketua KNPI–ketiganya baik– yang terbaik. Lupakan ragam kepentingan yang bersifat sementara.

Selamat bermusda. Semoga terpilih yang terbaik di antara yang baik. []

KOMENTAR FACEBOOK