KMPAN, Mau Dibawa Kemana?

Komite Mahasiswa dan Pemuda Aceh Nusantara (KMPAN) adalah organisasi yang dibentuk tahun 1998 guna mempersatukan pergerakan mahasiswa dan pemuda luar Aceh di Nusantara. Amat menyedihkan jika organisasi sekaliber KMPAN harus terbengkalai dan tak ada yang mau peduli. Sebagai sebuah wadah pergerakan mahasiswa Aceh di Nusantara kedudukan KMPAN pernah merebut hati rakyat Aceh khususnya dari kalangan mahasiswa dan pemuda.

KMPAN lahir dalam euforia kemenangan rakyat setelah sukses menggulingkan rezim Suharto dari singgasana kepresidenannya. Mungkin wajah KMPAN tak setenar Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) yang berhasil mengumpulkan jutaan rakyat Aceh pada tahun 1999 dalam Sidang Umum Masyarakat Peduli Referendum (SU-MPR) di Ibukota untuk “menuntut referendum” (bukan “referendum”). Tapi yang perlu diingat, SIRA adalah anak kandung KMPAN dari hasil perkawinannya dengan Koalisi Aksi Reformasi Mahasiswa Aceh (KARMA) melalui Kongres Mahasiswa dan Pemuda Aceh Serantau (KOMPAS) I.

Mula hadirnya KMPAN lebih kepada upaya untuk merespon kondisi sosial politik di Aceh khususnya dalam mengampanyekan perlawanan untuk penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), anti-militerisme dan konflik bersenjata antara Pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Republik Indonesia (RI) yang sedang bertikai. Dalam perjalanannya, terutama setelah tahun 2005, kondisi sosial-politik di Aceh praktis mengalami perubahan. Hal ini menjadikan KMPAN seperti kehilangan momentum dan orientasi pergerakannya. Sehingga lambat laun keberadaan organisasi ini mulai terkikis perlahan dari ingatan masyarakat.

Sudah hampir satu dekade wadah pergerakan mahasiswa dan pemuda Aceh di Nusantara ini mengalami kevakuman. Hasil kongres ke V tahun 2007 di Semarang adalah periode kepengurusan terakhir dari eksistensi KMPAN setelah amanah untuk kongres di Padang tahun 2009 gagal diselenggarakan.

Menjelang berakhirnya tahun 2016 ini KMPAN mencoba untuk bangkit kembali, bangun dari tidur panjang dengan semangat baru, gagasan dan pemikiran baru, serta beberapan personil keanggotan presidium persiapan setelah beberapa waktu mengalami masa kevakuman. Beberapa presidium mencoba untuk membangun dan menjalin kembali hubungan komunikasi demi keberlangsungan organisasi ini dengan menyelenggarakan kongres VI. Jalinan komunikasi ini terwadahi dalam pertemuan di Malang. Pertemuan yang dihadiri oleh beberapa presidium ini memutuskan untuk mengadakan pra-kongres pada 22 Oktober 2016 di Semarang.

Hasil pra-kongres di Semarang memutuskan Yogyakarta di bawah naungan presidium TPA untuk menjadi tuan rumah penyelegaraan kongres VI yang dilaksanakan pada tanggal 9-11 Desember 2016. Kongres ke VI di Yogyakarta beberapa hari yang lalu terbilang cukup lancar dan berjalan dengan baik. Setelah menjalankan proses sidang dan musyawarah yang cukup panjang akhirnya kongres VI membuahkan hasil yang menunjuk M Imam Abdul Aziz, calon dari presidium TPA Yogyakarta sebagai sekretaris jenderal sekaligus formatur tunggal KMPAN untuk periode dua tahun kedepan.

Sejauh ini KMPAN telah mengomandoi sebelas presidium tetap yang terdiri dari Ikatan Pelajar Tanah Rencong (IPTR) Medan, Himpunan Mahasiswa dan Pelajar Aceh (HIMPAC) Sumatera Barat, Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh (IMAPA) Jakarta, Ikatan Mahasiswa tanah recong (IMTR) Bogor, Ikatan Pelajar Aceh (IKAPA) Bandung, Ikatan Pelajar Aceh Semarang (IPAS), Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta, Persatuan Mahasiswa Kekeluargaan Tanah rencong (PMKTR) Surabaya, Ikatan Pemuda dan Pelajar Mahasiswa (IPPMA) Malang dan dua presidium tambahan; Ikatan Mahasiswa Aceh Surakarta (IMASKA) Solo dan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Aceh (IPMA) Riau yang baru disahkan setelah kongres ke VI kemarin.

Kita mafhum akan situasi Aceh yang cukup berbeda dimana saat KMPAN pertama kali dibentuk dengan kondisi saat yang sekarang ini. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi dewan kepengurusan untuk periode yang baru terpilih dalam menjalankan dan mengarahkan roda organisasi ini. Lalu muncul satu pertanyaan dari benak kita. Kini KMPAN, mau dibawa kemana, arah perjuangannya?

Wallahu a’lamu bi al-shawab