Mereka yang Mencoba “Uzlah”

Ilustrasi

Malam semakin larut. Dua lelaki berpendidikan magister–salah seorang sedang on going proces menuju doktoral di luar negeri– berbicara sembari bercanda. Keduanya adalah ahli keuangan yang seorang sedang menjabat dan seorang lagi sedang bebas tugas karena study.

“Saya sudah lelah juga dengan kondisi ini. Ingin bekerja ideal, kondisinya seperti ini. Dimusuhi dan kerap menjadi buah bibir. Ikut arus, entah untuk apa pula kita harus belajar agama? Sulit membawa agama dalam birokrasi, andaikan pemimpin tertinggi tidak punya semangat yang sama,” ujar salah satu di antara mereka sembari menghirup udara malam yang penat.

Keduanya, dalam pandangan saya adalah generasi emas yang kemudian “terperosok” pada sebuah lingkar setan yang terus berputar. Bekerja sesuai tupoksi dengan menghargai sumpah jabatan, telah membuat keduanya terjebak pada suatu kehidupan yang tidak ideal. Mereka yang seharusnya bekerja dengan rambu-rambu yang pasti, dipaksa ikut arus politik yang semakin rakus melahap jatah pembangunan.

Malam itu, saya jelas menangkap aura bosan. Bila yang satu lagi sembari tersenyum miris, sudah berhasil keluar dari sistem. Seorang lagi sedang mengumpukan keberanian untuk keluar. Alasan keduanya sama. Jenuh! Jenuh untuk terus menerus berbenturan dengan para pihak yang ingin berbuat sekehendak hati. Bosan, ya bosan berurusan dengan orang-orang–dengan jabatannya– ingin melabrak semua aturan yang ada.

Pada sesi tertentu, di tengah keasyikan mereka “curhat” saya mencoba masuk dan berkata: “Punca kekalahan adalah ketika orang baik merasa kalah dengan keadaan. Mereka yang terpilih namun gagal memahami mengapa Tuhan menempatkan dirinya di sana. Saat ini Tuhan belum mewajibkan uzlah ragawi. Yang dituntut adalah uzlah hati. Hati tidak boleh condong kepada kejahatan,” demikian saya mengulang kalimat Teungku Haji. Muhammad Yusuf. A. Wahab. Mendengar itu, keduanya sempat tersenyum–senyum miris–. Kemudian kembali tenggelam dalam diskusi tentang konsep pelarian diri yang sempurna.

Tuan, entah siapa Engkau itu? Lihatlah, betapa karena ulah busukmu, dua orang pemuda berintegritas sedang merencanakan pelarian yang abadi. mereka tidak nyaman , walau engkau menempatkan mereka di jabatan yang oleh para pencuri sangat diincar. Mereka bosan dengan lelaku busukmu yang tidak mengenal aturan.

Tuan, ah, Tuan sontoloyo, dua anak muda itu–aku meyakini ada ratusan bahkan ribuan– para abdi negara yang jujur, saat ini dilanda kebosanan. Mereka tidak bisa bekerja sesuai aturan. Karena segala sumpah jabatan, buyar begitu saja di hadapan engkau yang rakus akan segalanya.

Aku benar-benar dibuat pusing. Dua anak muda pilihan ini, yang dititipkan Tuhan untuk menjaga negeri ini, akhirnya mencoba menyerah dan get out dari amanah yang selama ini disandang.

Ah, malam itu akan hanya bisa berceramah saja. Mereka adalah penderita yang hari-harinya selalu penuh kecamuk siksa batin, karena harus melawan arus, hanya untuk mengatakan kepada yang tua-tua dan yang muda rusak akal “Ini tidak boleh. Jangan lakukan”. Mereka yang tertawan dengan beban kerja dan sumpah jabatan. Dengan segala derita batin karena selalu dihalangi untuk menegakkan aturan.

Oh, pada purnama 15 yang semakin pucat. Sampaikan pada Sang Pencipta, bahwa kedua anak muda itu–dan ribuan PNS baik dan jujur lainnya– agar tetap istiqamah di medan juang. Mereka jangan sampai menyerah pada keadaan.

Oh ilalang di gunung, bisikkan pada angin, serulah para pejuang itu agar tetap berdiri tegak dengan segala kehormatannya. Serulah mereka agar menguzlahkan hati, jangan sampai uzlah body. []

KOMENTAR FACEBOOK