Hasan Tiro & Damai Aceh Milik Kita Semua

Almarhum Hasan Tiro> Soource: AP Photo.

Pada Pemilukada lalu–sekarang Pilkada– Calon Bupati Bireuen, Teungku Nurdin Abdulrahman–salah seorang juru runding GAM di Helsinki– dipaksa untuk menggantikan semua APK yang memasang foto bersama juru runding GAM di Finlandia. Walau berstatus intelektual di tubuh GAM, Nurdin–kala itu– dianggap telah berkhianat oleh salah satu kelompok politik.

Awalnya Nurdin Abdulrahman yang maju melalui jalur perseorangan, menolak paksaan dari kelompok politik lokal dominan. Ia merasa bahagian tak terpisahkan dari perjuangan GAM dan perjanjian Helsinki. Namun, sikap itu harus ia kubur kemudian, karena yang ia hadapi di lapangan adalah kalangan buta huruf, buta sejarah dan broek akai. Mereka dengan tanpa merasa berdosa, merusak APK miliknya incumbent Bupati Bireuen, kala itu.

Pasca damai, MoU Helsinki memang seolah-olah telah dikooptasi. Para juru runding GAM yang di kemudian hari berbeda pandangan, satu persatu dikeluarkan –secara ilegal– dari sejarah yang sebenarnya. Kemudian muncul nama-nama baru yang sejatinya hanya rombongan foto bareng di luar gedung. Maka tidak heran, tokoh sekaliber Nur Djuli, Munawar Liza Zainal, Nurdin Abdulrahman, di kemudian hari dibuat semacam sigam P oleh si buta huruf dan broek akai.

Kini, tarung itu pun semakin meruncing. Sebelumnya, pihak Partai Aceh mengadukan Zakaria Saman, Ruslan M Daud dan beberapa calon lainnya, karena telah menggunakan simbol yang mirip dengan warna yang identik dengan PA. Bola pun berbalik, dengan sangat cepat, Zakaria saman kemudian berbalik, mengadukan PA ke Panwaslih, karena telah menggunakan foto Hasan Tiro dan Abdullah Syafii secara ilegal.

Saya teringat dengan pesan yang disampaikan oleh Nur Djuli. beliau berkata: Jikalau semua itu jadi masalah, lalu siapapa pula yang telah mengizinkan mereka menggunakan atribut dan identitas yang mirip dengan yang dipunyai oleh GAM?

Gugatan Nur Djuli, bukan hendak meminta semua pihak menanggalkan identitas keGAMan–bila ada–. Tapi hendak mengatakan bahwa Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang digagas oleh Tengku Hasan di Tiro adalah milik seluruh rakyat Aceh.

Saya sepakat dengan cara pandang Nur Djuli. Bahwa Hasan Tiro adalah milik semua bangsa Aceh. Demikian juga perdamaian. Juga miliknya bangsa Aceh. Bukan milik kelompok, apalagi milik pribadi.

Untuk itu, bila ada yang hendak mendirikan Partai untuk Masyarakat Aceh Sehat Lahir Bathin– Keanekaragaman Lingkungan Hidup (PUMASALAH-KAH) dan partai lainnya, maka memasang foto Hasan Tiro di back drop dan di alat kampanye manapun, tidak akan jadi permasalahan. Karena Hasan Tiro milik kita semua. []

KOMENTAR FACEBOOK