Karl May dan Hasan Tiro

Sumber foto: Internet

Karl May (1842-1914) adalah seorang pembual hebat yang mampu mengarang cerita lewat novel-novelnya yang masyur. Berkat kepiawaiannya meramu kata, telah pula membuat dirinya melanglang buana sampai ke Asia Tenggara.

Lelaki berkaki bengkok itu, seandainya bukan seorang penulis, bukanlah siapa-siapa. Tampilan fisiknya jauh dari sempurna. Akan tetapi dia berhasil menggenggam pengaruh, karena telah menjadi master chef kata-kata.

Dia pernah menjejakkan kakinya di tanah Aceh pada 1899. Sepupunya adalah pemilik Hotel Rosenberg di Kutaraja. Lelaki kelahiran Jerman itu dikagumi oleh Adolf Hitler. Kemanapun sang Fuhrer melangkah, diketiaknya selalu dikepit buku Karl May. Semua orang sepakat, bahwa watak rasis yang dimiliki oleh pemimpin Jerman itu, dipengaruhi oleh pikiran penulis buku Un Friede auf Erden (Dan damai di Bumi). Ini adalah satu-satunya buku non fiksi yang sempat dituliskan oleh Old Shatterhand tersebut.

Karl May adalah seorang lelaki yang punya fantasi yang luar biasa. dia banyak melahirkan novel seperti Robert Surcouf (1882), Am Stilen Ocean (di lautan Fasifik, 1884), An der Tigerbrucke (Di Jembatan Macan).

Sebagai orang asing, Karl juga ikut menentang perang yang digelar oleh Belanda di Aceh dengan anggaran 45 juta Gulden. Dia menyarankan, dengan dana sebesar itu, ada baiknya pemerintah membeli tanah yang satu hektar seharga 1.140 gulden. Sehingga mereka punya kawasan sah seluas 40 ribu hektar. Nasehat ini tidak pernah digubris.

Hingga kini, banyak pihak yang terus mengupas Karl May dan karyanya dalam bentuk berbagai kajian. Dia terus hidup dalam rentang yang dirinya sendiri tidak lagi hadir untuk mengisi ceritera.

Aceh, sebagai salah satu bangsa –entitas politik- juga pernah memiliki penulis hebat yang bernama Hasan di Tiro. Lelaki flamboyan yang selalu berpenampilan necis tersebut adalah pengarang beberapa buku, yang semuanya kental bernuansa politis etnonasionalisme keacehan.

Berbeda dengan karl May yang sastrawan-walau juga disebut pembohong besar, karena karyanya yang selalu melebih-lebihkan sesuatu- Hasan Tiro adalah agigator, politisi dan ideolog Aceh Merdeka. Tulisan-tulisan yang dilahirkan banyak berupa agitasi dan propaganda untuk melawan hegemoni Jawa-dilihat sebagai suatu sistem politik.

Hasan juga diklaim sebagai pembual yang sok feodal. Namun sebagai seorang panutan-dia menyebut dirinya Wali Negara Aceh- Hasan Tiro berhasil membangun nasionalisme keacehan yang mumpuni untuk diresapi dan diamalkan oleh pengikutnya.

Bila Adolf Hitler menjadi rasis karena terpengaruh dengan tulisan Karl May, maka banyak pula orang Aceh yang melihat dirinya lebih tinggi derajatnya dari bangsa lain, karena terpengaruh tulisan yang dibuat oleh lelaki asal Pidie itu.

Aceh dan Jerman memang tidak ditakdirkan untuk bergerak dan rasis dalam waktu yang bersamaan. Ada ruang yang memisahkan ketika pelan-pelan negeri Arya runtuh dan kemudian terpaksa menerima demokrasi sebagai landasan hidup.

Aceh yang baru terbuka kepada dunia pasca tsunami 2004, kemudian bertransformasi sebagai daerah –sub Indonesia- yang harus melalui tahapan demokrasi post conflict. Tentu banyak pihak yang terkaget-kaget dengan pemaknaan demokrasi oleh orang Aceh yang pernah menjadi gerakan perlawanan. Tapi ini persoalan waktu.

Pasca perang memang melahirkan orang-orang tamak, egois dan tidak jujur. Ini wajar. Akan tetapi menjadi tidak wajar, bila masih ada pihak-pihak yang masih mencoba menggiring mantan kombatan GAM untuk terus melawan dengan senjata api.

Bagi mantan petempur GAM, mungkin salak senapan tidak asing bagi mereka, sama seperti para sutradara yang beranggapan bahwa para eks kombatan adalah objek yang tidak asing untuk terus dijerumuskan dalam liang konflik yang tidak berujung.

Di akhir riwayatnya, Hitler sadar bahwa apa yang dia bangun selama ini telah membuat dirinya menjadi musuh bersama oleh sekutu. Dia menjadi tidak macho dimata negara-negara yang menjadi lawannya. Wibawanya hilang. Kerasisan yang dilahirkan karena terlalu mengagumi Karl May, berakhir dengan bunuh diri.

Lalu, haruskah eks GAM juga bernasip sama? Saya kira eks petempur dan kekuatan politik lokal dominan sudah harus menyadari, bahwa kekuatan mereka semakin melemah dan semakin kehilangan tempat di hati rakyat. Bila tak ingin benar-benaqr dilupakan, maka kembalilah ke jalan yang “benar”. []

Tulisan ini pernah tayang di blog Jambo Muhajir. Dengan penyesuaian seperlunya.

KOMENTAR FACEBOOK