Asal Mula Nama Bireuen

ACEHTREND.CO-Walau telah lama berperang dengan Aceh, Belanda baru menguasai Aceh secara de facto pada tahun 1904, ketika jatuhnya Kuta Glee(benteng) di Batee Iliek–sekarang bagian dari Kecamatan Samalanga.

Pada 7 September 1934, sesuai SK Vonder Gouvernemet General van Nederland Indie, Aceh dibagi menjadi enam afdeeling (setingkat kabupaten). Salah satunya adalah Afdeeling Noord Kust van Aceh (Aceh Utara) yang dibagi lagi menjadi tiga onder afdeeling yaitu Onder Afdeeling Bireuen, Onder Afdeeling Lhokseumawe dan Onder Afdeeling Lhoksukon.

Jauh sebelum Bireuen diangkat menjadi onder afdeeling –sejajar Kewedanan– nama Bireuen sudah menggema sebagai salah satu permukiman yang cantik dipandang mata serta strategis. Di balik kisah daerah yang dijuluki Kota Juang, asal muasal nama Bireuen pun terus menuai polemik.

Setidaknya ada tiga haba jameun (kisah lampau) tentang riwayat nama Bireuen. Pertama Biruweung. Kata ini berasal dari kalimat perintah dari pengawal Sultan Iskandar Muda,Raja Kerajaan Aceh Darussalam, yang sedang berkunjung ke kawasan itu. Segala rakyat isi negeri tumpah ruah ke jalan untuk melihat kegagahan Iskandar Muda yang berkendara seekor gajah besar nan rancak.

“Biruweung! Raja geuneuk lewat,” artinya pengawal memerintahkan rakyat untuk membuka jalan agar rombongan raja bisa lewat.

Ditilik dari tradisi silam, di mana rakyat sangat menghormati raja, menjadi mustahil bila berani mengerubungi raja hingga menyulitkan rombongan untuk lewat.

Cerita kedua, dulu di Bireuen pernah ada pasar hewan yang dalam tiap transaksinya tidak ada istilah hutang. Kasih barang maka langsung serahkan uang. Disebut-sebut Bireuen berasal dari kata Biren yang artinya bayar cash (?).

Kalimat yang paling dekat dengan Bireuen adalah birrun. Kata dalam bahasa Arab yang bermakna kebajikan. Dari penelusuran aceHTrend, kata ini lebih mendekati kebenaran asal mula nama Bireuen.

Dalam sebuah riwayat juga disebutkan, saat Belanda berhasil menguasai pantai timur dan utara Aceh, salah satu yang ikut diduduki adalah Cot Hagu–nama lama untuk perkampungan kecil– yang berpaut beberapa kilometer dari Kuala Raja. Belanda kemudian memindahkan sejumlah keturunan Arab yang bermukim di Pante Gajah, Peusangan. Orang-orang Arab itu pun mengadakan semacam kenduri kecil dan menjamu “tamu” yaitu pasukan Belanda. Perjamuan itu disebut dengan birrun yang bermakna perbuatan yang baik. Lokasi perjamuan itu di pendopo Bupati Bireuen sekarang.

Orang-orang Belanda itu tertarik dengan kata birrun. Akhirnya mereka ikut menyebut kawasan itu dengan nama Birrun yang seiring perjalanan waktu menjadi Bireuen. []

KOMENTAR FACEBOOK