Habib Rizieq Harus Masuk Politik Praktis

Kemarin (20/12/2016) dua organisasi masyarakat Tionghoa KomTAK (Komunitas Tionghoa Anti Korupsi) dan MusTI (Muslim Tionghoa Indonesia) melakukan konferensi pers guna menobatkan Habib Rizieq Shihab sebagai Man Of The Year 2016.

Rencananya, penyerahan penghargaan Habib Rizieq sebagai “Tokoh Indonesia 2016” itu akan dilaksanakan 28 Desember 2016 di Pesantren Habib Rizieq yang berlokasi di Bogor, demikian menurut Lieus Sungkharisma, koordinator kegiatan.

Menarik bila kita menelaah argumen kedua ormas tersebut, menurut mereka Rizieq telah mampu mengembalikan potensi Ummat Islam dengan tetap menekankan cinta tanah air. Aksi 4/11 dan 2/11 merupakan salah satu bukti nyata kharismanya.

Terlepas dari pro kontra, Ahok yang menjadi sumber masalah dan Buni Yani sebagai pemberi kabar, pantas mendapat posisi kedua dan ketiga. Kasus Ahok memang mendunia bukan hanya menasional, begitulah fakta yang kita saksikan bersama.

Tak salah argumen kedua ormas tersebut, sejak aksi 2/11 Ummat Islam telah bergairah bersatu. Semua potensi Ummat mulai beranjak, bahkan kabarnya market 212 yang bakal hadir akan mampu menyaingi swalayan mapan milik Taipan.

Habib Rizieq memang pantas dinobatkan sebagai Man Of The Year 2016. Lihat saja bagaimana perbedaan mazhab dapat direduksi sehingga Ummat Islam bersatu, menyuarakan yang sama.

Kecurigaan pastilah muncul, isu pergantian level FPI menjadi parpol hingga isu Habib Rizieq Capres 2019 pun sempat terdengar guna melemahkan semangat jihad Ummat Islam. Sosok Habib Rizieq yang digambarkan sebagai sosok kasar padahal tegas, seolah lenyap dengan sendirinya.

Habib Rizieq yang sebenarnya manusia biasa yang memahami Islam sesuai yang dengan keyakinannya. Kalau kita telaah lagi, rumahnya yang berdekatan dengan gereja dan anggota FPI mengatur lalulintasnya, hal itu menunjukkan toleransinya juga sangat tinggi.

Walaupun demikian bukan berarti Habib Rizieq tak boleh kita kritisi, terutama bila melihat fenomena politik nasional kita. Tokoh berintegritas sepertinya enggan masuk ranah politik, dampaknya politik diisi mereka yang tak bermoral walaupun beragama Islam.

Gerakan moral seperti aksi 211 hanya temporer, tanpa ucapan Ahok yang dianggap menista Ummat Islam belum tentu memiliki inisiatif untuk melakukan gerakan tersebut. Walaupun secara dimensi transedental semua kehendak Allah SWT. Namun semua punya sebab.

Habib Rizieq harus berani melangkah lebih, memasuki ranah politik dan menjadi pengambil kebijakan bagi kemaslahatan bangsa dan negara. Pada saat itu barulah ujian integritas dia yang sebenarnya, saat di ranah itu ia harus mampu menjadikan Islam sebagai rahmatan lil alamin di negeri ini.

KOMENTAR FACEBOOK