Selamat Hari Ibu & Perempuan

Judul di atas sengaja ditulis dengan kata “Hari Ibu dan Perempuan”. Mengingat pemaknaan Hari Ibu sekarang ini lebih difokuskan kepada jasa ibu terhadap anaknya.

Padahal, jika merujuk pada sejarah dan hari penetapan Hari Ibu oleh Presiden Soekarno pada 22 Desember melalui Dekrit Presiden Nomor 316 Tahun 1959 hari tersebut lebih cocok diucapan dengan kata “Hari Perempuan”, karena pada saat Kongres Perempuan pertama 22 Desember 1928 yang diadakan di gedung Mandala Bhakti Wanitatama Jogjakarta tersebut, tidak hanya menghadirkan kaum ibu, tetapi juga kaum perempuan dari berbagai latar belakang usia.

Walaupun demikian, tepat pada hari ini, sudah 56 tahun Hari Ibu diperingati oleh penduduk Indonesia, tapi masih banyak masyarakat yang simpang siur dengan makna Hari Ibu tersebut. Bahkan ada yang bertanya “kenapa ada hari ibu 22 Desember, bukankah Hari Ibu seharusnya dispesialkan setiap hari”?

Seiring bergantinya zaman, pemaknaan terhadap peringatan Hari Ibu mulai bergeser. Hari Ibu yang pada hakikatnya diperingati untuk mengenang perjuangan kaum perempuan di zaman perang kemerdekaan, kini lebih banyak dimaknai untuk mengingat jasa-jasa ibu terhadap anaknya. Namun demikian, tidak salah, selama pergeseran makna ini, tidak membuat kita lupa akan akar sejarah yang sebenarnya.

Peringatan Hari Ibu tidak hanya dilakukan di Indonesia, tetapi juga dilakukan Negara luar seperti, Autralia, Kanada, Jerman, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, peringatan hari tersebut, mereka menyebutnya sebagai “Hari Ibu atau Mother’s Day” yang dirayakan pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei.

Lain dari itu, beberapa Negara Eropa dan Timur Tengah juga merayakannya, mereka menyebutnya dengan “Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day” yang diperingati setiap tanggal 8 Maret. Dalam tulisan ini juga ingin membantah tulisan Sutarno yang dirilis Kompasiana 23 Desember 2012 yang mengatakan bahwa Hari Ibu merendahkan wanita.

Perintah Berbakti Kepada Ibu

Berbakti kepada orang tua harus dilakukan setiap hari, tidak hanya terfokus pada 22 Desember saja, mengingat jasa kedua orangtua terutama ibu ketika mengandung kita selama 9 bulan, melahirkan dengan mempetaruhkan nyawa (antara hidup dan mati), dan juga menyepih selama 2 tahun.

Tentu dalam waktu yang tidak begitu singkat membuat kita tidak akan bisa melupakan seluruh jasa dan pengorbanannya kepada kita, kecuali bagi mereka (anak durhaka) yang telah di khatam/tutup Allah hatinya.

Begitu besarnya jasa kedua orang tua, sehingga apapun yang kita lakukan untuk berbakti kepada mereka, tidak dapat membalas jasa keduanya, walaupun dengan menggendongnya untuk naik haji atau umrah.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari disebutkan, ketika Abdullah bin Umar melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf di Ka’bah dan kemana saja sang ibu menginginkan.

Lalu orang tersebut bertanya kepada Abdullah bin Umar, Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku? Abdullah bin Umar menjawab, Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu”.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, seseorang datang kepada Rasulullah Saw seraya berkata , “Siapakah orang yang paling berhak untuk saya temani dan saya layani? Rasulullah menjawab, Ibumu, laki-laki itu bertanya lagi, Kemudian siapa lagi? Rasulullah menjawab, Ibumu, laki-laki itu bertanya lagi, Kemudian siapa lagi? Rasulullah menjawab, Ibumu, laki-laki itu bertanya lagi, Kemudian siapa lagi? Rasulullah menjawab, ayahmu”. (HR Bukhari dan Muslim).

Melihat pernyataan hadis di atas, kita tidak bisa mempungkirinya bahwa peran seorang ibu begitu besar dan tidak mungkin dapat kita balas walau dengan emas permata intan mutiara. Sehingga tidak berarti mengesampingkan arti pentingnya seorang ayah, dan sama sekali tidak ingin merendahkan peran ayah, namun dalam rangka menyadarkan diri kita bahwa tingkatan Ibu adalah tiga kali lipat dibandingkan ayah.

Seandainya semua orang tahu bahwa begitu tingginya jasa seorang Ibu, tentunya di dunia ini tidak ada lagi anak durhaka kepada orang tua dan tidak ada cerita Malin Kundang.

Menjaga Perasaan Ibu

Kasih sayang ibu tiada bertepi, kasih sayang ayah sepanjang galah, begitulah pepatah yang seringkali kita baca dan kita dengar saat berbicara mengenai kasih sayang ibu dan kasih sayang anak. Bahkan beberapa penyanyi atau senian yang menciptakan syair yang isisnya mengenai kasih sayang seorang ibu.

Ini menunjukkan bahwa seorang anak wajib menghormati dan menjaga perasaannya jangan sampai terluka oleh tutur kata yang tidak sepantasnya kita ucapkan kepadanya. Sebab, bila hati ibu terluka disebabkan kita, maka tidak tertutup kemungkinan akan menjadi anak durhaka.

Maka wajar sekali Allah memerintahkan kepada sang anak melalui firmannya surat al-Isra’ ayat 23 agar melembutkan ucapan terhadap keduanya, jangan pernah mengatakan “ah dan membentak mereka”, tapi ucapkanlah perkataan mulia, agar hati mereka tetap terjaga.

Maka dari itu, tidak salah bila hari ini dijadikan sebagai hari spesial untuk mengenang/membalas kasih sayang ibu yang telah diberikannya kepada kita. Beri ucapan terimaksih kepadanya, atau mendoakannya agar dipanjangkan umurnya (bagi yang masih hidup), mendoakan agar diampuni dosanya dan dimasukkan ke dalam syurga (bagi yang sudah meniggal), atau membuat sesuatu yang menjadikannya senang dan tersenyum, karena ibu tidak pernah meminta balasan apapun atas pengabdiannya selama ini, juga tidak mengharapkan materi yang berlimpah sebagai hadiah atas pengorbanannya. Tapi yang ibu harapkan hanyalah sikap dan perilaku indah yang dapat membuatnya tersenyum dalam menikmati masa tuanya. Karena tumpukan harta tidak akan mampu menyembuhkan luka hati yang mereka rasakan. Dia dengan ikhlas menjadikan nyawa sebagai taruhannya dan menempatkan satu kakinya di liang kubur ketika melahirkan kita anaknya.

Lalu masihkah pantas keadaan yang demikian dibalas dengan perihnya luka hati akibat tutur kata dan perilaku kita yang merasa paling benar?

Jadi momentum yang dirayakan pada Hari Ini, tidaklah terkesan untuk merendahkan perempuan, malah sebaliknya, kita menjunjung tinggi jasa mereka yang selama ini diikhlaskannya semuanya, kita berhutang budi kepada mereka.

Oleh karena itu, hari ini sebagai ajang untuk mengingatkan kepada sang anak, agar selalu memberikan kasih sayang kepadanya, sebagaimana ia memberikan kasih sayang dulu dikala kita masih kecil.

Semoga, dengan peringatan Hari Ibu dan Perempuan di tahun ini, bisa menjadikan kita ke depannya menjadi anak yang saleh salehah, anak yang selalu berbakti kepada Ibu Bapak. Amin Ya Rabbal’alamin.

KOMENTAR FACEBOOK