Serius Untuk Kelucuan dan Kelucuan Untuk Keseriusan

Debat kandidat paslon cagub sudah berakhir dan banyak kisah yang tersajikan. Setiap kita punya opini dan penilaian yang berbeda namun ada frame besar opini dan pendapat yang disampaikan netizen, pakar, maupun konstituen umumnya.

Umumnya para penonton debat tertarik dengan Zakaria Saman. Aceh yang selama ini berpolitik dalam ketakutan seakan menemukan ‘obat’ pengocok perut dengan hadirnya Apa Karia. Joke politik menandakan demokrasi sudah mulai beranjak dewasa.

Negara-negara penganut demokrasi seperti Amerika Serikat misalnya, sejak lama menggunakan joke politik guna menyindir atau mengkritisi pemerintahan yang dianggap salah dalam mengambil kebijakan ataupun melanggar konstitusi serta perbuatan amoral.

Filosofi Apa Karia bisa jadi; canda namun hasil serius dari pada serius hasilnya canda. Konstituen yang jenuh dan trauma dengan politik jaim memang cenderung menyukai Zakaria Saman. Setidaknya dapat kita dengar komentar maupun pernyataan dari konstituen yang menyaksikan debat cagub (22/12).

Konstituen bosan dengan petinggi yang gembar gemborkan jaminan kesehatan namun berobat ke luar negeri. Jenuh dengan elit yang bicara kesejahteraan rakyat namun pernah menjadi tahanan KPK. Rakyat trauma dengan penjualan isu MoU namun KKR saja tak dibahas, dan implementasi setelah terpilih nol besar.

Fakta politik itulah yang sebabkan Zakaria Saman sangat dinanti. Namun demikian mengurus Aceh tidak bisa dengan joke semata. Rakyat Aceh juga bukan rakyat yang hanya pentingkan perut, tak elok bila telah beres perut semua jadi beres.

Kalau hidup sekedar makan, babi di hutan sekalipun makan, menukilkan perkataan Hamka. Data yang ditunjukan sebelum debat cagub sangat mencengangkan. Lulusan SMA masih mendominasi, belum lagi angka kemiskinan yang menjadi warisan rakyat.

Pembangunan rumah dhuafa yang masih ada praktek pungli, permainan obat-obatan dirumah sakit pemerintah juga belum jadi perhatian. Permainan proyek APBA yang masih sering terjadi, semua itu terkait dengan birokrasi pemerintahan Aceh.

Islam sebagai modal juga tak diurai, Islam hanya dijadikan label. MengAcehkan Al-Qur’an dan Hadist sebagai jawaban persoalan Aceh tak diuraikan dalam visi paslon cagub Aceh. Ulama masih diabaikan dalam visi mereka walaupun berkali bicara syariat Islam.

Pesantren dan dayah serta pendidikan tidak mendapat khusus. Benar ada kandidat yang bicara peningkatan mutu pendidikan namun itu seperti kebanyakan cagub dimasa kampanye tanpa uraikan dalam bentuk konsep yang matang untuk diimplementasikan.

Ini terkait track-record yang jelas pun dimanipulasi ketika menjabat, ambil contoh janji kampanye 1 Juta per KK. Tentu efeknya terlihat dalam pemaparan visi cagub dalam debat yang tak didengar lagi, konstituen lebih senang ucapan apa adanya milik Apa Karia.

Selain dunia pendidikan dan birokrasi, persoalan SDA Aceh yang sangat menggoda Asing maupun Jakarta, tak ada konsep yang dipaparkan para kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh. Padahal SDA Aceh terutama energi didalam bumi menjadi salah satu sebab konflik Aceh.

Kita lupa kandungan energi maupun emas dan perak Acehlah yang menyebabkan adanya triliunan uang mengalir ke Aceh. Aceh butuh BUMD yang serius dalam mengelola energinya sendiri. Konflik Aleppo, Irak-Iran maupun konflik di Afrika, semuanya bermuara pada energi yang semakin langka.

Kelangkaan itu sama halnya dengan langkanya politisi semacam Apa Karia barangkali, canda dengan hasil serius bukan serius dengan hasil canda. Saatnya Aceh memiliki pemimpin baru, bukan dari parpol berkuasa diparlemen, beranikah rakyat Aceh? we will see soon.

KOMENTAR FACEBOOK