Asnidar: Tsunami 12 Tahun Lalu Bagai Baru Kemarin Saja

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – “Rasanya baru kemarin, padahal sudah 12 tahun berlalu,” kata Asnidar, warga Kampung Mulia Banda Aceh yang kini sudah menetap di Jakarta, Senin (26/12).

Ibu dua anak itu mengaku, setiap tiba tanggal 26/12 ia tidak bisa tidak, pasti menangis. “Saya bukan menyesali apa yang sudah tiada, apa yang ada pada kita, keluarga dan harta hanya titipan, milik Allah, tapi peristiwa 12 tahun lalu itu memang menggetarkan, tidak mungkin dilupakan,” sebutnya.

Asnidar berkisah, malam Minggu itu, ia bersama anaknya yang baru berusia 1 tahun 5 bulan berada di Taman Sari Banda Aceh.

“Jam 8 malam kami tiba di Taman Sari, tapi suasana hening, pohon bagai tidak bergerak, suasana pun panas, tidak seperti biasanya, lalu kami pulang tidak jadi ke Ule Lheu, esoknya usai shalat subuh, saya tidur lagi, sekitar jam 8 pagi bumi terguncang,” kisah Asnidar mengenang gempa pertama di pagi Minggu (26/12) dua belas tahun lalu.

Di perkarangan rumah, ia melihat tanah retak dan mengeluarkan air usai gempa kedua yang lebih kuat. Saat itu belum ada yang menyadari apa gerangan yang bakal terjadi. Lalu, ibunya datang memberitahu jika ia mendengar suara seperti pesawat terbang bergemuruh.

“Tiba-tiba ada tetangga berteriak, air laut naik, dan saya reflek berlari bersama anak dalam gendongan,” tambahnya.

Singkat cerita, ia berlari hingga ke TPU Kampung Mulia, lalu dari situ naik motor dan terus berlari.

“Saya sempat melihat ke belakang, air setinggi pohon kelapa datang mengejar, airnya hitam bercampur beton, perahu, dan manusia yang berteriak-teriak, jarak dengan kami sekitar 20 meter saja,” kenang Asnidar.

Di Cot Mesjid, Lhung Bata Asnidar bertemu seorang kakek kurus, berpeci hitam, berdiri bersama sapi. Kakek itu meminta saya untuk menuju Lhong Raya agar aman. “Anehnya, sekejap kemudian si kakek menghilang,” sebutnya.

Asnidar lalu menuju Jambo Tape di warung Ujong Batee jelang siang, dan perutpun mulai diserang lapar. “Seorang china lalu datang memberi saya aqua dan sebubgkus indomie, dan aqua lalu saya berikan ke anak,” kenangnya.

Hari itu, dengan menumpang mobil orang Asnidar dan anaknya menuju Seulimum, dan di Keude Keumireu mereka tidur. “Saya dan anak berbaring di lapak ikan yang berbau amis, tapi saat itu sudah tidak tercium lagi, orang kampung ada yang mengantar pakaian bekas untuk kami, dan roti Marie untuk anak saya,” katanya lagi.

Esoknya, dengan kaki telanjang Asnidar berdiri di jalan untuk mencari tumpangan dan kemudian turun di Lambaro. Di sana manyat bergelimpangan, mulai kembung dan terkelupas. Dari Lamboro lalu menuju Simpang Surabaya, dan ke Jambo Tape serta mencoba ke Mesjid Raya. “Soalnya ada info jika mayat adik saya ada di sana, saat itu lutut saya terasa copot,” kenangnya lagi.

Asnidar kembali ke Keumireu dengan menumpang, dan esoknya kembali ke kota untuk mencari keluarga. Sempat ke Peunayong, dan lalu ke Rumah Sakit Kesdam. “Di sanalah As bertemu dengan mamak, setelah lelah mencari, lalu seseorang memanggil, nyak nyak, rupanya ia disuruh mamak untuk memanggil saya, dan saya menangis dengan sangat keras, soalnya muka ibu rusak, tulang rusuknya patah, dan baju compang camping, dan sesudah diupayakan hingga ke Lhokseumawe, ibu tidak tertolong, beliau berpulang, air hitam yang tertelan merusak tubuhnya,” kenang Asnidar.

Bagi Asnidar ibunya sangat bsrarti. Ia terharu pas gempa pertama, ketika ibunya memanggil-manggil nama. “Aneuk loen, aneuk loen ho,” kisah Asnidar yang sadar betapa ibunya begitu menyayanginya.

Kini, sudah 12 tahun berlalu. Bagi Asnidar, yang membuatnya menjadi kuat kehilangan orang tercinta adalah karena sadar bahwa apa yang ada di dunia ini semata titipan Allah, dan sebagai titipan pasti akan diambil kembali.

Asnidar juga tidak ingin larut karena ia juga menyadari bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan. “Milik Allah sudah diambil, dan saya yang ditingalkan pasti ada maksud Allah, barangkali ada banyak tugas yang perlu saya selesaikan,” tutupnya mengenang peristiwa gempa berujung tsunami, 12 tahun silam di Aceh. []

KOMENTAR FACEBOOK