Tsunami dan Salaman Terakhir Mamak

Malam minggu 12 tahun silam itu sangat bahagia. Kedua orang tua saya saling bercerita berbagi kebahagiaan. Saat itu, sebagai anak sulung dari 4 bersaudara, saya masih kelas 5 SD. Kami tinggal di Pasir Batu Putih Kota Meulaboh, hanya berjarak sekitar 100 Meter dari pinggir pantai, saat itu Alm Ibu saya baru saja melahirkan adek kecil yang berumur 10 hari.

Adek pertama saya Nazita baru berumur 4 tahun dan adek ketiga, Dek Tasya berumur 2 Tahun.

Pagi itu, 26/12 ayah lagi menyuci pakaian adek bayi, mamak lagi nyusuin si kecil, dan kami berkumpul menemani mamak, saat itu suasana penuh dalam canda tawa, tiba tiba rumah kami terasa berayun, ayah tampak berlari keruang tamu dan mengajak kami keluar rumah, suasana rasa takut yang begitu mendalam, hanya tangisan dan zikir yang kami dengar sesama tetangga, saya menangis dan terus memeluk mamak, begitu juga dengan adek-adek.

Tidak lama kemudian gempa-pun usai, suasana hening, masyarakat sibuk melihat ruko di kota yang hancur, saya dan keluarga kembali kerumah, kami membersihkan rumah secara bersama karna banyak barang di rumah yang jatuh berhamburan.

Ketika saya lagi memandang mandang adek bayi, masyarakat berteriak kalau air laut surut dan banyak masyarakat yang mencari ikan di laut, tak lama kemudian, teriakan-teriakan dan tangisan pecah, air laut naik, air laut naik, kala itu saya memegang Dek Tasya, ayah mengendong Dek Nazita, dengan suasana masih sakit mamak juga ikut berlari, kami terus berlari, saya melihat air ombak laut yang besar akan segera datang.

Ayah sambil menangis memanggil saya, dan berseru: “kakak lari terus duluan dengan Dek Zita, biar Dek Tasya Ayah gendong.” Ayah lari dibelakang sama Mamak, sayang mamak gak sanggup lari, mamak-pun meminta saya bawa lari Dek Zita, saya salami mamak, saya liat mamak tidak sanggup lagi berlari, beliau duduk di halte, saya tidak menyangka kalau salaman mamak adalah salaman terakhir saya, sambil menangis saya berlari bersama Dek Zita.

Saya memandang kebelakang melihat kedua orangtua saya, pandangan itu sudah tertutup oleh ratusan manusia lainya yang ikut berlari.

Saya dan Dek Zita dibantu oleh tetangga, saya diangkat ke mobil truck, mobil terus berjalan, saya terus memandang kebelakang melihat kedua orangtua saya, disaat saya memandang kebelakang sungguh air laut sudah mencapai ditempat kedua orang saya berteduh, saya hanya bisa memeluk Dek Zita dan terus menangis.

Kamipun sampai di Peureumbeu, yang jaraknya sangat jauh dari laut, banyak orang berkumpul, menangis dan berzikir, kami hanyut dalam tangisan, karena kami tidak tau bagaimana nasib kedua orangtua kami.

Saat sore hari, mobil kembali menuju kota Meulaboh, saya di ajak sama tetangga kembali ke Meulaboh, saya tiba di Mesjid Agung, Alhamdulillah saya jumpa dengan acut dan pipi, Abang dan adek mamak.

Saya hanya bisa menangis bersama adek memanggil mamak, ayah, Dek Tasya dan adek bayi. Kamipun ngungsi ke Lapang dirumah saudara.

Keesokan paginya kami kembali ke kota, dengan harapan bisa ketemu kembali bersama mamak dan ayah, jenazah berhamburan dipinggir jalan, kota sudah hancur lebur, saya terus berdoa dan menangis, dengan harapan saya bisa jumpa kembali dengan mamak.

Hari menjelang sore, saya melihat sosok ayah datang bersama keluarga lainya, ayah memeluk kami erat-erat, kami terus menangis, ayah juga menangis, dan semua menangis, saya dan Dek Zita terus menanyakan mamak dan Dek Tasya, ayah hanya bisa menangis tanpa ada jawaban, saya melihat luka di dada ayah yang amat parah, kata ayah tertusuk benda tajam dalam gelombang laut yang amat besar.

Dengan kondisi ayah yang sakit kami berusaha mencari mamak dan Dek Tasya, Namun Allah tidak mempertemukan kami lagi.

Ayah bercerita, di saat gelombang pertama datang, ayah tidak melepaskan mamak dan Dek Tasya, ayah tersangkut bersama mamak dalam kayu-kayu besar, saat itu adek bayi terlepas dari mamak, ayah, mamak, terus berdoa, sambil memegang Dek Tasya, ayah melihat gelombang kedua begitu besar, ayah sudah pasrah, ayah peluk mamak kuat kuat, dan ayah bilang ke mamak, kita akan selamat dan kita akan selalu bersama.

Ayah dihantam gelombang yang amat dasyat, di saat ayah menyadari, mamak dan Dek Tasya tidak ada lagi dalam pelukan ayah, ayah hanya bisa menangis dan memohon kepada Allah agar mamak dan kalian semua selamat, ayah bercerita sambil menangis dan menahan sakit di dada yang semakin parah.

2 Januari 2005, hari itu ayah sakit semakin parah, linangan air mata terus mengalir dipipi beliau, beliau berpesan: “kakak yang rajin belajar, jaga adek baek baek, jadilah anak yang baek dan sabar, ayah dan mamak sayang sama kakak, kakak jaga adek selalu.” Dan kami sekeluarga besar terus mengdampingi Ayah, menjelang magrib ayahpun pergi untuk selamanya.

Ayah pergi meninggalkan saya dan Dek Zita, saya hanya bisa menangis dan terus menangis.

Saya tidak pernah tahu dimana makam mamak dan Dek Tasya, tapi saya tetap bersyukur masih bisa berziarah ke makam ayah dilapang, dan terus mengirimkan doa buat mamak dan Dek Tasya.

Bunda (adek mamak), dan keluarga membesarkan kami, saya tidak pernah patah semangat untuk belajar meskipun kedua orangtua saya telah tiada, saya bisa lulus di SD 14 dengan nilai yang memuaskan, dan melanjutkan ke MTSN Model Meulaboh, sekolah yang sangat dibanggakan di Meulaboh, saya pernah dapat rangking 2 disekolah, hingga akhirnya saya bisa lanjut ke MAN Meulaboh-1, saya pernah mewakili Aceh Barat mengikuti olimpiade kimia tingkat Provinsi di Banda Aceh.

Alhamdulillah dengan semangat belajar yang tinggi saya lulus di MAN MEULABOH tahun 2012 dan mendapat undangan kuliah di UNSYIAH jurusan FKIP matematika, dan lulus tahun 2016 di UNSYIAH dengan beasiswa Bidikmisi, dan adek saya Nazita sekarang kelas 2 SMA di pesantren Darul Aitami Meulaboh.

Insya Allah, jika Allah mengizinkan saya akan lanjut S2, dengan harapan saya bisa menjadi dosen, agar saya bisa berbagi ilmu kepada siapapun, hidup ini sangat sederhana, bersyukur dengan apa yang kita punya, bersabar dengan semua cobaan yang kita hadapi dan ikhlas menjalani setiap proses kehidupan dari waktu ke waktu semata-mata karena Allah SWT, hanya kepada Allah saya memohon ampun, semoga kedua orang saya dan Dek Tasya serta keluarga yang telah tiada senantiasa dalam kasih sayang Allah dan Allah tempatkan mereka disisi-Nya. Aamiin Ya Allah.

#Tulisan ini saya bagi sebagai bahan renungan dan perjuangan buat saya kedepan…

#Tulisan ini ditulis oleh Bang Zulkifli Andi Govi, Ketua Umum IPELMABAR Periode 2013-2015