Tsunami, Kisah Nyata Penuh Haru dan Ajaib Muslahuddin Daud dan Keluarganya (1)

Hari ini (26/12) dua belas tahun yang lalu, di pagi buta dengan motor roda dua besi tua, aku meluncur menuju Alue Naga,  menyalurkan hobi memancing dan menikmati indahnya pemandangan laut. Inilah caraku mengembalikan energi, mendapatkan inspirasi sekaligus memenuhi hajat tubuh yang berstamina tinggi. 

Matahari baru saja menampakkan diri dua depa di ufuk timur. Aku persis sudah berdiri di atas batu besar paling ujung kuala Alue Naga, entah kenapa ada dorongan batiniah yang membawaku ke tempat ini, biasanya pilihan utamanya adalah kuala Gampong Jawa, lokasi dimana sejawat memancing sudah sangat mengenal diriku sangat lihai dalam mengangkat satu persatu ikan segar dari berbagai jenis.

45 menit berlalu, namun belum ada satupun sentuhan pancingku, umpan udang hidup masih segar menari menggoda sang pemangsa. Tiba-tiba, batu besar tempatku berdiri bergoyang sangat kencang, mula-mula aku menjaga kestabilan posisi sambil berdiri, tapi kemudian aku tak kuasa, terpaksa duduk melepaskan gagang pancing, dan memegang erat batu yang masih kokoh berdiri. Beberapa kali tanganku hampir telepas dari pegagangan akibat kuatnya goyangan, bila tanganku terlepas, mungkin aku jadi korban gempa 8,9 SR pertama.

Mataku masih sempat memandang jauh suasana pinggir pantai, pohon kelapa saling bertabrakan, para nelayan yang masih di pinggir pantai tidak ada yang sanggup berdiri, semuanya terduduk dengan tangan di atas pasir menjaga keseimbangan tubuh. 7-8 menit goyangan yang menakutkan berhenti.

Aku masih di atas batu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, sejenak aku tertegun ternyata batuku tempatku duduk merupakan satu satunya batu yang tak bergeser dari posisinya. 2 menit aku bingung mau melakukan apa, mataku kemudian tertuju pada pancing yang mata ujungnya masih ada udang yang masih menari dengan mata yang bercahaya, aku tergoda untuk kemudian melempar lagi pancingku, tetapi tiba-tiba ombak normal setinggi 3 meter menerjang batu tempatku berdiri, ini tidak biasa, rasa takutpun menghampiri. Perlahan aku meninggalkan lokasi melewati bongkahan batu yg sudah dipenuhi air laut. 7 menit aku membutuhkan waktu hingga tiba di bibir kuala Alue Naga.

Setiba disana aku disambut lelaki tua yg berusia 74 tahun, tanpa sungkan kami langsung terlibat diskusi gempa yang menurutnya pernah terjadi tahun 1964 dengn kekuatan yang hampir sama. 

Tiba-tiba pemandangan aneh di depan mata terjadi, air laut di bibir sungai bergerak sangat cepat menuju laut, sebuah tarikan yang sangat dahsyat, aku kehilangan kata, hingga mata tertuju pada ikan yang menggelepar di dasar sungai, melihat nelayan yang berlabuh di lautan kering. 

Aku gelisah, tidak tau apa yang sedang kusaksikan, pak tua menyuruhku memanggil nelayan pulang, aku gunakan suara terbesarkan memanggil mereka. Saat itulah dari kejatuhan aku melihat semacam gelombang berdinding meluncur dengan cepat menuju pantai. Naluri nelayan ku berkata, kenapa gelombang ini tidak pecah? Ini pasti ada sesuatu yang salah, tanpa pikir panjang kuhidupkan sepeda motor melaju kencang menuju arah simpang mesra.

Tapi perjalananku tidak mulus, jalan yang ku lalui sudah ambruk longsoran akibat gemba, tidak ada pilihan lain, motorku harus kumasukkan dalam lobang, aku tidak mengerti mengapa aku terlalu kuat mengangkat motor ku dari dalam lobang. Setelah lobang pertama, aku kembali meluncur hingga masuk lobang ke dua dengan melakukan hal yang sama. Namun sesampai di lobang ke tiga, aku merasa ajal ku tiba lobangnya menganga cukup besar, aku tidak ada pilihan motor kembali kumasukkan dalam lobang dan dengan sekuat tenaga ku angkat kembali.

Tanpa ku sadari, gelombang Tsunami (waktu itu belum tau namanya) siap menerjangku dari belakang, benar saja, air kencang bak air bah itu menghantamku saat tenaga terakhirku mengangkat motor dalam lobang Jalan, akupun tak mengerti mengapa tenagaku belum habis padahal 2 lobang sebelumnya telah menguras tenaga cukup banyak. Tsunami membasahi tubuh dan motorku, tapi ajaib lagi motor yang basah tapi masih bisa hidup.

Aku beruntung lobang ke tiga itu hampir mendekati jembatan Krueng Cut, sebenarnya air mencapai 10 meter, tapi kerena dua sisi jalan sungai mengering akibat air surut ke laut hingga tidak sepenuhnya tumpah. Dalam kondisi yang sekarat dan basah kuyup, ada sempat menoleh ke belakang gelombang kedua datang, saat itulah jembatan Alue Naga dengan panjang 100 meter patah dihantam gelombang dengan suara yang bergemuruh.

Dalam kondisi ketakutan, aku terus melaju dengan kencang menghindari kejaran air, sampailah ke Simpang Mesra, dipersimpangan itu, aku berhenti 5 detik berpikir kemana aku akan berlari, arah motorku berputar menuju Jeulingke, aku terbayang wajah putriku yang berumur 8 bulan, Aisya Zakia Safira (Icha)

Hanya butuh 3 menit aku tiba di rumah, aku memandang sekeliling melihat wajah-wajah yang pucat sedang duduk bersimpuh menanti datangnya gempa susulan. Saat itulah aku berteriak “air laut naik, air laut naik, kita harus lari!”

Dan benar saja, tiba-tiba aku mendengar suara gemuruh yang sangat besar, sulit dilukiskan dengan kata-kata, aku hanya punya kesempatan menarik tangan istriku, Tia, yang di tanga menghampiriku saat motor yang kuparkir. Ketika ku ajak lari dia malah masuk kamar, rupanya dia ambil uang cash kami 26 juta yang sengaja aku ambil untuk membeli tanah yang jatuh tempo pembayaran hari itu. Setelah dia keluar, gelombang besar dengan warna hitam pekat bercampur lumpur tambak desa Tibang siap menghantam kami, lari adalah solusi, namun hanya mampu 30 meter, gelombang tsunami sudah membalut kami dalam lumpur dan berbagai jenis material bangunan seperti besi, seng, potongan kayu dan lainnya.

Air terus menyeret, hingga poisisi kami berada diantara arus besar dan pintu pagar sebuah rumah. Beruntung kami tidak terseret dalam arus besar kerena jalur sudah penuh sesak dgn mobil-mobil hayut dan bangunan lain. Air mematahkan pagar dan membawa kami persis di depan pintu rumah itu. Tiba-tiba mobil kijang hanyut pas di depan kami dan siap menghimpit kami ke dinding rumah, kalau itu terjadi, kami sudah tiada, tetapi ketika kami menutup mata menanti himpitan mobil, tiba-tiba suara besar menggelepar, pintu rumah patah dan menyeret kami masuk ke dalam rumah. Tia, tiba-tiba pingsang, tubuhnya nyaris tak berbenang, ketika air memutar2 kami dalam ruang tamu itu, aku masih mampu mengontrol agar benda tajam tidak menusuk kami.

Aku berupaya menggunakan apapun untuk bisa terapung, akhirnya aku menemukan lemari piring yang sedang berputar mengitari ruangan. Aku berusaha menaiki lemari itu sambil mengangkat istriku, akhirnya kami berhasil naik dan air menyeretnya ke sudut ruangan dan tidak berputar lagi. 

Ketika berada dalam posisi pojok, aku berpikir sudah aman dan air tidak naik lagi, tiba-tiba mataku menoleh ke dinding sebelah kanan, aku terkejut bahwa posisi air dua meter lebih tinggi dari posisi di atas lemari. Tiba2, suara seperti halilintar terdengar, ternyata dinding rumah patah, dan tak ayal lagi air kembali naik dan mengangkat posisi lemari dimana kami naiki, beruntung air tidak membawa lemari keluar rumah, lemari itu dihimpit pojokan dinding beton, air terus naik hingga menghampiri plafon lantai 2, aku berharap plafon itu triplek agar dapat kutinju untuk bisa tembus ke atas, tapi apa daya, plafon itu cor beton padat. 

Saat itulah aku pasrah, ketika ruang bernafas tinggal 5 cm lagi, aku sudah berucap, “Ya Allah, aku ini hambaMu dan milikMu, dariMU aku berasal dan sekarang saatnya aku siap kembali padaMu”. Aku semakin tak mengerti, akhir kalimatku itu sekaligus mengakhiri masuknya air gelombang tsunami, Allah memberi sisa ruang bernafas di atas lemari dan plafon rumah, tentu aku belum lega kerena bisa saja semenit kemudian air naik lagi. 

Dalam pikiran yang tidak menentu tangisan anak kecil masuk ketelinga ku, aku menoleh sekeliling ternyata anak itu berada di atas kayu tidak jauh dari ujung kakiku, dengan sekuat tenaga kakiku meraih kayu dan berhasil menarik anak itu di atas lemari. Dengan sisa tenaga tangan kananku menopang istriku dan tangan kiri menopang anak laki berusia 2,5 tahun.

2 jam lamanya aku bertahan dalam dengan tangan telentang memopong dua manusia hingga terdengar suara desiran air turun dengan sangat pelan. Tepat jam 2 siang, aku bisa melepaskan mereka, menyandarkannnya disudut dinding seraya mengambil kayu, mengukur kedalaman air dalam rumah. Ketika air tersisa 1,5 meter, kemudian aku mencari tau dimana tangga lantai dua rumah, mengangkat istri dan anak itu ke lantai 2 rumah, sesampai disana aku teringat sesuatu, ternyata uang 26 juta yang mengitari pingganggku telah hanyut dibawa air. Aku belum menangis, tapi hatiku sangat sesak, ketika melihat pemandangan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, gedung, rumah, toko, sekolah semua sudah rata, hamparan lautan sepajang Mata memandang.

Tubuhku bergetar, tak bisa bersuara namun air mata mengalir tak terkendali, mataku terus menatap hampa, liar dan tak menentu. Setiap detik pergerakan air terus kuikuti hingga tertuju pada moment yang paling menarik dimataku. Mataku berhenti sejenak, tertuju pada pohon mangga didepan rumah itu yang meliuk-liuk diterpa air tsunami. Akupun terkesima, menggeleng kepala ketika dari pohon itu keluar suara perempuan tua 70 tahun yang masih bernyawa, kain sarungnya tersangkut di dahan sembari dia peluk dahan yang hanya sebesar betis, masya Allah dia selamat ditempat yang tidak diduga, dia bernyawa diantara bagunan kokoh yang rata dengan tanah

Belum habis keherananku, mataku lurus kedepan melihat detik2 pandangan aneh, satu mobil L300 terapung 40 meter depanku ternyata disana ada 5 mayat berjejer saling terikat satu sama lain. Itulah mayat pertama yang kulihat dengan posisi diluar nalar manusia.

Belum habis keheranan ku melihat dua hal, tiba-tiba satu orang dengan setengah berenang melintasi rumah tempat kami selamat, ternyata dia Bang Ayi, tetangga depan rumah kami. Aku tidak percaya dia memanggi nama ku:

“Muuuusss, apakah kamu ada di ataasss, aaannnakkkmu masih hidupp si Ichaa, masih aaadaa.”

Aku gemetar mendengar suara itu, sudah 4 jam aku tidak bersuara, tiba2 pita suaraku meledak:

“Yaaa aku disini! Dimana si Icha.”
“Dia ada di toko Lantai Dua,” sahut bang Ayi.

Tulangku yang hampir remuk, seakan bertenaga lagi. Aku hanya mengangguk minta permisi sama Tia istriku untuk turun mencari posisi Icha. Kakiku telanjang, sandal sudah tersapu air, perlahan aku turun dalam air pekat hitam, kakiku terus mencoba mencari posisi untuk bisa diinjak tetapi memang saangat sulit, runtuhan bangunan dengan benda tajam seakan memagari setiap langkah dan benar saja baru 10 kali melangkah aku harus rela darah ku bercucuran karena terkena seng yang remuk digulung air. Hanya semangat yang terus menggerakkan langkah walau darah terus berkucuran hinggaku tiba pada tujuan.

Icha, yang pada saat itu masih dalam pelukan Miwanya (Ruhama), menangis tiada henti. Disitulah tangisan ku meledak, tidak mampu kubendung, aku tidak tau seberapa besar teriakanku sambil memeluk Icha tanpa busana, seluruh tubuhnya berlumpur dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tak ada pilihan bagiku selain menghirup lumpur yang ada dalam hidungnya supaya dia bisa bernafas. Icha berhenti menangis dalam pelukanku, aku minta izin saya Kak Ru untuk membawa ke pangkuan ibunya. Meski berjarak hanya 200 meter, namun aku butuh waktu lebih 40 menit untuk mencapai rumah tempat istriku berada. 40 menit terlalu lama bendengar suara tangis yang perlahan mulai terdengar dari atap rumah, toko, bahkan pepohonan, aku hanya fokus menghindari agar kaki ku tidak terluka ke sekian kalinya dan kalau itu terjadi anakku akan jatuh dalam lumpur.

Ketika dari jarak 50 meter istriku sudah bisa memandang Icha, aku melihat dia tidak sanggup memandang ke arah kami, dia mengarahkan mukanya ke dinding rumah dengan tubuh bergetar tak bersuara. Dan ketika sampai ku serahkan Icha ke Ibunya, suaranya tangisannya meledak kembali, aku tidak sanggup melihat adegan anak dan ibunya ini yang nyaris tidak berbaju.

Aku hanya berhenti sesaat di atas rumah, aku ingin mencari air untuk membasuh lumpur di tubuh Icha, tiada pilihan lain aku harus menyelam dan meraba dalam lumpur dengan harapan ada air mineral botol yang di bawa air. Satu jam berlalu aku belum berhasil, justru, aku memegang beberapa ikan Hiu sebesar betis yang sudah mati dan sejumlah binantang laut lainnya. Ketika aku ingin mencari tangga naik, kakiku terinjak kaleng, hatiku bergumam, semoga ini kaleng susu untuk anakku. Dan setelah berhasil mengangkat, ternyata benar itu susu utuh dalam kaleng merek morinaga yang selama ini diminum Icha, aku tidak tau justru susu itu yang membuatku kembali menangis tersedu, keajaiban demi keajaiban terus aku alami. Aku berusaha terakhir kali siapa tau ada botol air mineral masih ada, dan benar adanya aku menemukan botol aqua ukuran sedang. Sambil mata berkaca kubawa dua benda berharga itu ke atas rumah.

Belum sempat aku bicara sama istriku, aku mendengar suara panggilan Bang Din, abang Iparku, untuk mengambil ibu mertua yang terperangkap diatas rumah 200 meter dari tempat kami. Setelah melewati kesulitan yang sangat berat kami berhasil membawanya turun. Hari menjelang magrib, kami haru segera pindah dari tempat itu, suasana sangat mencekam, manyat-manyat mulai tampak bergelimpangan, kami harus memopong ibu mertua yang terus memeluk satu bantal lusuh yang telah penuh dengan lumpur. Ibu terus memeluk bantal tersebut sambil berujar bantal itu telah menyelamatkannya dari tiga kali tenggelam. Kami tidak punya tujuan yang pasti kami telusuri jalan Prada Utama menuju Ulee Kareng. Ketika jam 9 malam kami memutuskan masuk mesjid Annur Ie Masen Kayee Adang. (bersambung)

Dikisahkan Muslauddin Daud dari
Narathiwat, Thailand

KOMENTAR FACEBOOK