Pengembangan Keilmuan Geografi Sejarah Aceh

Geografi sejarah adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia, fisik, fiksi, dan fakta geografi pada masa lampau. Disiplin ilmu ini memiliki bahasan yang sangat luas dan beragam. Umumnya membahas tentang geografi masa lalu dan bagaimana perubahan sebuah wilayah atau tempat berdasarkan waktu. Selain itu juga membahas tentang hubungan manusiadengan lingkungan dan menciptakankebudayaan alam.

Pembahasan geografi sejarah juga mencari bagaimana kebudayaan manusia itu muncul dan berkembang dengan pemahaman hubungan manusia dengan lingkungan. Khusus Aceh adalah daerah Istimewa serta kaya akan sumber daya alam letak strategisnya di wilayah pertemuan Selat dan arus Samudra Hindia.

Menyikapi persoalan itu, sudah sepatutnya kita sebagai generasi emas ini mempelajari berbagai ilmu tak terkecuali bidang yang jarang orang kita Aceh membahasanya, yaitu Geografi Sejarah. Aceh terkenal sebagai bagian dari (Ring Of Fire), wilayah jalur gempa bumi serta lempeng tektonik Sumatra Megathrust.

Menjelang akhir abad ke-18, perkembangan geografi semakin pesat. Pada masa ini berkembang aliran fisis determinis dengan tokohnya yaitu seorang geograf terkenal dari USA yaitu Ellsworth Hunthington. Di Perancis faham posibilis terkenal dengan tokoh geografnya yaitu Paul Vidal de la Blache, sumbangannya yang terkenal adalah “Gen re de vie”. Perbedaan kedua faham tersebut, kalau fisis determinis memandang manusia sebagai figur yang pasif sehingga hidupnya dipengaruhi oleh alam sekitarnya. Sedangkan posibilisme memandang manusia sebagai makhluk yang aktif, yang dapat membudidayakan alam untuk menunjang hidupnya.

Setelah peristiwa gempa bumi dan disertai tsunami pada tahun 2004 di Provinsi Aceh. Saya selaku pengamat muda, khususnya Sejarah Geografi sangat berkeinginan memperkenalkan kembali salah satu sub keilmuan Geografi Sejarah bagi penerus generasi Indonesia khususnya wilayah yang sering terjadi bencana alam di negeri ini.

Sejak tahun 2004 saat tsunami melanda Aceh hingga berbagai gempa yang terjadi rentan 2005 – 2016, serta baru baru ini Gempa Pidie Jaya yang diakibatkan oleh aktifnya beberapa sesar daratan diwilayah Aceh itu sendiri.

Ini membuktikan telah banyak sekali perubahan secara topografi, perubahan fisik kewilayahan pulau Sumatra. Inilah yang harus sama-sama butuh kajian Geografi Sejarah itu sendiri. Semoga bermula dari hal mempelajari keilmuan ini kembali, maka dapat menjadi referensi pemetaan wilayah bencana, mengetahui lokasi rawan bencana gempa, serta baru baru ini Pemerintahan Aceh menuntut adanya SOP Kebencanaan.

SOP kebencanaan tidak akan efektif diterapkan tanpa membuka kembali arsip arsip lama tentang catatan catatan kebecanaan khususnya berkenaan dengan ilmu Geografi Sejarah serta penjelasan kebencanaan kepada masyarakat wilayah rawan bencana.

KOMENTAR FACEBOOK