Jembatan Teupin Mane, Dibangun Insinyur Belanda, “Dirubuhkan” oleh Sarjana Indonesia

ACEHTREND.CO,Bireuen- Dalam rangka memperlancar moda transportasi antara Bireuen dan Takengon, Pemerintah Hindia Belanda di Aceh, mulai membuka ruas jalan Gayo. Karena kontur alam, penjajah kafir Belanda terpaksa harus membangun jembatan. Salah satu jembatan yang dibangun adalah Tutu Teupin Mane, Juli yang selesai dikerjakan pada tahun 1905. Tutu ini membentang di atas aliran Krueng Peusangan.

Bukanlah sebuah rahasia, bila jembatan ini terkenal kokoh. Walau aspalnya ditempel di atas balok-balok kayu, namun tak kunjung mengelupas. Demikian juga dengan temboknya yang dibangun kokoh. Insinyur Belanda memang benar-benar membangun sarana transportasi yang komperehensif dan berdayaguna panjang.

Di masa lalu jembatan Teupin Mane selalu coba dihancurkan oleh berbagai pihak yang bertikai. Antara 1942-1943 pihak Jepang pernah mencoba merubuhkan dengan cara mengebom dengan pesawat tempur. Namun jembatan itu tidak rubuh. Tujuan pengeboman ini agar pasukan Belanda dari Aceh Tengah tidak bisa turun ke Bireuen.

Tahun 1947, ketika Sekutu yang dibonceng Belanda melancarkan agresi militer pertama, jembatan ini ikut menjadi sasaran. Lagi-lagi, jembatan ini menunjukkan kelasnya. Ia tidak rubuh, walau wajahnya bopeng di sana -sini. Demikian juga pada 1950-an, ketika Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Aceh di bawah komando Daoed Bereueh, ikut mengebom jembatan tersebut. Sekali lagi, jembatan nan ramping itu tak juga rubuh.

Riwayat kegagahan jembatan yang dibangun oleh ribuan tenaga rodi itupun berakhir tahun 1970-an. Penebangan pohon-pohon besar di sepanjang DAS Peusangan, dalam rangka mewujudkan program pembangunan bendungan di Aceh, telah mengakhiri riwayatnya. Banjir luapan yang menghanyutkan balok-balok kayu seukuran badan truk, telah menghantam kuda-kuda jembatan dan akhirnya merubuhkan setengah jembatan ke dalam air.

Menurut cerita, proyek Repelita Soeharto yang memacu pembangun sektor pertanian, telah membuat sejumlah insinyur –sarjana–membuat perencanaan ruas sungai untuk dibangun bendungan, salah satunya di Teupin Mane.

Pada malam naas itu, hujan lebat terjadi di hulu. Ketika ratusan gelondongan kayu menghantam jembatan, sang insinyur sedang beristirahat di Bireuen. Memang, Pemerintah RI kemudian membangun jembatan baru di sisi barat, namun kualitasnya jauh tertinggal dibandingkan dengan jembatan yang dibangun oleh Belanda.

Tahun 1990-an, sisa jembatan yang masih berdiri dan yang sudah runtuh ke dalam sungai dipotong-potong oleh utusan pemerintah. Berminggu-minggu mereka bekerja memutilasi jembatan itu. Tahun 2000-an temboknya yang berpuluh tahun melawan arus Krueng Peusangan, akhirnya rubuh karena bebatuan dan pasir di seputar pinggangnya ditambang secara massif oleh warga setempat.
[]

KOMENTAR FACEBOOK