Apa Karia, Tokoh GAM yang Meugampong

Zakaria Saman, calon gubernur Aceh dan Risman A Rachman, PU media aceHTrend, Jumat (11/11)

“Secara de facto dan de juro, lage na laju,” kata Apa Karia pada sesi debat kandidat tahap pertama yang disiarkan oleh televisi berbasis di Jakarta, pada akhir 2016 lalu. Kalimat itu disampaikan oleh Zakaria Saman untuk menyindir kandidat dari Partai Aceh, yang menurutnya acap menebar janji kosong kepada rakyat menjelang pemilu. Kalimat itu pula yang membuat Mualem nampak kengkot saat berdiri.

Zakaria Saman adalah fenomena baru dalam dunia perpolitikan Aceh. Ia yang disebut-sebut sebagai dalang dari beberapa aksi kekerasan di masa lalu, tampil sebagai kawah candradimuka dalam dunia politik kontemporer Aceh. Bila politisi lain tampil dengan gaya flamboyan, tutur kata yang teratur serta terkesan kalem, Apa justru sebaliknya. Ia–walau dalam balutan jas– tampil dengan gaya santai khas pembicara jambo jaga. Tajam, apa adanya namun jenaka.

Melihat Apa dalam beberapa kesempatan, dengan penampilan yang lage na laju, mengingatkan saya pada situasi kampung dengan tokoh-tokoh jambo jaga yang juga lage na laju. Dengan penampilan sangat sederhana–dengan kain sarung yang kadang tak jelas cara menggulungnya, serta rokok yang dibeli batangan– para tokoh jambo jaga adalah raja debat dengan kalimat sederhana, tanpa estetika, serta memiliki segudang kalimat menohok yang membuat segenap lawan bicara –termasuk Teungku Imum– tak kuasa peusabe puk.

Ya, Apa Karia sejauh pengetahuan saya memang tampil dengan gaya yang demikian. Tanpa beban, bicara crah beukah tanpa tedeng aling-aling dan kerap mengungkapkan kritikan dengan gaya jenaka. Menghibur pendengar namun menimbulkan sakit sampai ke ulu jantung bagi yang dikritik.

Mualem alias Muzakir Manaf, TA. Khalid, Irwandi Yusuf serta baru-baru ini Tarmizi Karim sudah merasakan bagaimana sakitnya “dibully” oleh Apa. Ya begitulah Apa Karia, tidak menunggu lama untuk memberikan “tendangan super” –meminjam istilah KBH RX Super One– kepada lawan tandingnya.

Semua tentu sepakat bila apa yang ditampilkan oleh Apa Karia bukanlah sesuatu yang ideal untuk ukyran seirang calin Gubernur Aceh. Bahkan jauh dari konsep yang disebut unggul. Namun Aceh kadung jatuh cinta. Karena seserius apapun Apa “membully” lawan politiknya, ia tetap terlihat jenaka di depan orang lain. Sama halnya ketika tokoh jambo jaga membully geuchik, yang akan terlihat sangat lucu di depan peserta dengar proh beurakah.

Tulisan ini tidak dalam rangka hendak menyudutkan Apa Karia. Namun justru ingin menyampaikan bahwa bila tanpa ada Apa, sungguh pilkada ini sangat membosankan. Saya pribadi sudah jenuh dengan meukloknya PA dan PNA yang tak kunjung padam. Serta aksi-aksi teror politik yang dilakukan oleh kaum tak punya etika. Untung saja Apa muncul, ya dengan gayanya yang khas gampong.

Kita tentu pantas berkata “Terima kasih Apa, karena Anda kami bisa tertawa.”

Pesan saya, jangan coba-coba membully Apa, kalau tak ingin dipeusijuk di dalam lung di depan rumahnya. []

KOMENTAR FACEBOOK