Pentingnya Partisipasi Politik

Ozzy Reza Dhafi*
2017, tahun pesta demokrasi di Aceh kembali memanas karena ada pemilihan Gubernur/wakil Gubernur Aceh dan juga bupati/wakil bupati seluruh Aceh. Aroma persaingannya sudah terasa dan sudah banyak terjadinya psywar ataupun saling menyidir satu sama lain.

Kalau kita melihat ke belakangan, tepatnya pada pemilu 2012 angka golput di Aceh mencapai 24 persen atau 787.533 orang, berarti masih banyak masyarakat yang menganggap pemilu itu urusan sepele(budaya politik kaula). Mereka beranggapan bahwa politik itu buruk dan tidak baik, sehingga mereka memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya.

Beranjak dari pengalaman lampau, banyaknya angka golput di Aceh, seharusnya mendapat perhatian yang serius oleh Pemerintah, khususnya KIP agar lebih aktif dan efektif lagi dalam menyelenggarakan sosialisasi tentang perlunya suara masyarakat.

Menarik melihat kutipan dari Beltolt Brecht,seorang penyair dan dramawan Jerman. Menurut Brecht, buta paling buruk ialah buta politik, karena orang buta politik tidak sadar bahwa biaya hidup bergantung dari keputusan politik, akibatnya adalah perampokan, krisis ekonomi, dan yang terburuk adalah korupsi dan perusahaan multinasional yang menguras kekayaaan negeri.

Artinya sangat penting mengerti politik dan berpartisispasi dalam suatu pesta demokrasi. Jika masyarakat mengawasi jalannya pemerintahan maka itu sejalan dengan hukum demokrasi yang mana bahwa dari rakyat, kepada rakyat, dan untuk rakyat. Seharusnya memang seperti itu, dalam Demokrasi, Rakyat memang memegang kendali penuh dalam menmgawasi jalannya suatu pemerintahan.

Peran Mahasiswa

Mahasiswa khususnya dari jurusan Ilmu Politik seharusnya menjadi wadah ataupun tempat masyarakat menanyakan tata cara dan juga siapa calon yang memang pantas untuk dipilih dan untuk memimpin Aceh ini. Karena dengan ilmu yang dimiliki oleh seorang mahasiswa, akan cukup rasanya dia berbagi ilmu dengan masyarakat dalam halnya pemilu, dan bahkan perlu sosialisasi dari Mahasiswa ataupun Organisasi dari kampus untuk mengkampanyekan perlunya suara dari masyarakat itu sendiri untuk masa depan Aceh ini.

Dan tidak mesti mahasiswa ilmu politik saja, tapi mahasiswa pada umumnya seharusnya memang perlu mengerti tentang tata cara pemilu. Toh, yang menjadi calon Gubernur/Wakil Gubernur Aceh bukan hanya dari Jurusan Ilmu politik, tapi dari berbagai kalangan pun bisa, asalkan memenuhi sebagai seorang calon melalaui tes. Mahasiswa kalau bisa kita katakan memang punya andil besar dalam suksesnya pemilu yang damai, adil dan juga bermartabat.

Harapannya semoga pemilihan umum 2017 ini berjalan dengan lancar dan damai, tidak ada perseturuan antara suatu kubu dengan kubu yang lain, bisa memuaskan semua pihak dan tentunya bisa membawa perubahan ke Aceh ini ke arah yang lebih baik.

*Mahasiswa Ilmu Politik , Fisip , UIN Ar-raniry Banda Aceh

KOMENTAR FACEBOOK