Atra Kupi dan Kesetiaan Pada Komitmen

ACEHTREND.CO,Bireuen-Lelaki muda kelahiran 1988 itu menyesap rokok sigaret kretek. Asap putih mengepul di udara. Samalanga yang dibekap dingin karena didera hujan lebat, mendadak hangat di dalam tubuh lelaki semampai itu. Sejenak kemudian satu tegukan kopi robusta menambah hangat hari menjelang magrib.

Namanya Habibi, sarjana pendidikan jebolan Universitas Almuslim. Ia yang lulus 2012 itu pernah menjabat sebagai Gubernur BEM FKIP Umuslim dan Menteri Agama di Pemerintah Mahasiswa kampus yang sama. Hari-harinya dihabidkan sebagai “tauke” di unit usaha yang dibangun sendiri yaitu tempel ban dan usaha kreatif pot dari ban bekas. Ia membuka “workshopnya” di Kedai Jeunib.

Sembari menikmati robusta dari tangan terampil yang menggoyang saringan kopi, ia bercerita tentang Atra Kupi–warkop tempat kami minum kopi sembari menunggu hujan reda– yang legendaris.

“Pemilik warkop ini Pak Nurdin. Ia sudah bekerja di warkop sejak tahun 1981. Awalnya sebagai pekerja kasar di warkop ini yang tokenya adalah warga Tionghoa,” kata Habibi,Kamis (12/1/2017).

Tahun 1998, ketika etnis Tinghoa terpaksa meninggalkan Aceh, warkop yang berada di Kota Samalanga itu diserahkan ke Nurdin. Setelah take over itulah, Nurdin menjalankan warkop itu sebagai unit bisnis yang dikelolanya secara mandiri.

Habibi berkisah, banyak pemilik warkop di Samalanga merupakan jebolan “akademi” Atra Kupi. Sebagai orang yang merintis usaha dari nol, Nurdin paham satu hal, bahw siapapun yang ingin tumbuh, harus diberikan kesempatan.

“Bahkan Pak Nurdin bersedia menjadi pemasok bubuk untuk semua warkop yang dibuka oleh mantan anak buahnya. Kualitas bubuknya tetap sama,” kata Habibie.

Ya, kopi produk Atra Kupi memang sudah melegenda, setidaknya untuk Samalanga dan sekitarnya. Untuk itulah, walau tanpa jaringan internet, warkop ini tetap ramai oleh pengunjung dari berbagai usia.

Menurut Habibi yang menjadi pelanggan kelas “ekstrim”, dari waktu ke waktu Atra Kupi tetap memiliki rasa yang konsisten. Komitmen pemilik warungnya tidak pernah pudar, memberikan pelayanan terbaik dengan citarasa yang sama dari masa ke masa.

***
Hujan belum reda. Habibi sudah menghabiskan segelas kopi robusta. Kami belum beranjak karena langit masih bersuka ria membasahi bumi. Wajahnya tetap santai, walau satu jam lebih kami menembus hujan lebat untuk sebuah keperluan. Magrib pun datang. Kumandang azan terdengar sayup dari pengeras suara sebuah mesjid. []

KOMENTAR FACEBOOK