Cara Kautsar Melihat Manusia

Di Bireuen sedang ada perdebatan tentang ulama yang berkeinginan menjadi umara. Sebagian ada yang setuju dan sebagian lagi beranggapan ulama ialah ulama dan bukan umara; tidak boleh mencampuri diantara keduanya.


Kalau saya setuju saja jika ada ulama berkeinginan menjadi umara. Silakan, biar semua kita tahu bahwa ulama juga manusia biasa : Need to power dan punya potensi untuk korup.

Tulisan di atas adalah status facebook Kautsar, S.H.I, politisi Partai Aceh yang juga Ketua Fraksi PA di DPRA. Status itu diupdate ke media sosial pada 13 Januari 2017, pukul 22.55 WIB. Walau tidak begitu menarik perhatian “jamaah” facebook, namun apa yang dituliskan oleh mantan aktivis mahasiswa itu cukup menggelitik. Dalam sebuah komentarnya, ia mengatakan bahwa dirinya penganut keseteraan, semua manusia memiliki persamaan hak dan kemuliaan serta semuanya punya kesempatan berbuat cela. Right!

Apa yang diutarakan oleh Kautsar, S.H.I, oleh sebagian khalayak dianggap sebagai bentuk serangan kepada Teungku H. Muhammad Yusuf A. wahab ( Tu Sop) yang maju pada Pilkada Bireuen 2017 dari jalur independen. Secara kebetulan juga, Kautsar merupakan “duta besar” yang dikirimkan oleh Muzakkir Manaf –Ketua Umum Partai Aceh– ke Bireuen untuk memenangkan Pilkada 2017 dengan jagoan partai H. Khalilis, S.H-Yusri Abdullah.

Sebagian lainnya mencoba menerjemahkan kalimat Kautsar bahwa yang bersangkutan antipati terhadap ulama dan cenderung ingin membangun image negatif–khususnya– terhadap Tu Sop. Sebagai ahli strategi politik di tubuh Partai Aceh, Kautsar dinilai punya kepentingan terselubung di balik status facebooknya itu. Meunyo hana sipu yang ditot, pane patot asap meubura. Meunan kira-kira kheun ureung yang kalon dari cara laen.

No body is perfect. Tidak ada manusia yang sempurna. Semua punya sisi lemah. Apakah ia ulama, cendekia sekular, mahasiswa, ibu rumah tangga, aktivis dan sebagainya. Bahkan tukang pangkas rambut sekalipun. Manusia tidak pernah bertukar posisi sebagai malaikat, sehingga berpeluang untuk maksum dari dosa. Manusia adalah sumber alpa dan lupa.

Apa yang disampaikan oleh Kautsar, merupakan sebuah peringatan kepada siapapun, bahwa manusia tidaklah diciptakan sebagai sebuah makhluk yang tidak memiliki cacat. terlepas ia sudah khattam Quran tujuh kali. Sudah membaca kitab sebanyak 700 eksamplar. Tidak peduli akan itu semua, pastinya manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Perihal positif dan negatif, itu tergantung kecenderungan hati.

Saya sepakat dengan cara Bang Kautsar–saya memanggilnya demikian– melihat manusia. Ia tidak berdiri pada hitam dan putih. Siapapun manusia itu, selama belum mendapat legitimasi sebagai malaikat, maka ia tetap sebagai hamba Allah yang lemah. Walau ia ulama sekalipun, peluang berbuat salah tetap terbuka lebar, titik!

Bila Bang Kautsar mengatakan bahwa seorang ulama sekalipun butuh alat kekuasaan–tepatnya tergoda untuk berkuasa– serta berpotensi untuk berbuat curang (corrupt), lalu bagaimana dengan yang bukan ulama? Siapa yang akan lebih bakhil antara ulama dengan yang bukan ulama? Siapa yang akan lebih punya kecenderungan untuk memanifestasikan diri dalam perbuatan curang?

Pada akhirnya, mari sukseskan Pilkada 2017. Mari datang ke TPS pada 15 Februari 2017. Tentukan pilihan seduai hati nurani. Coblos salah satu, tapi jangan coblos semuanya.

Terima kasih atas pandangan yang luar biasa darimu Bang Kautsar. Krak![]

KOMENTAR FACEBOOK