Catatan Meymey: Wakuncar dan Pidie Jaya

MATAHARI pagi itu masih muda ketika mobil jemputan berhenti di depan rumah unguku, sejurus menuju ke meeting point di kantor yayasan di seputaran Peunayong Banda Aceh. Kelihatan tim bersiap menaikkan perlengkapan bermain dan belajar untuk anak-anak ke mobil box.

iya hari ini adalah perjalanan ke-6 kalinya aku menuju negeri bencana yang bernama Pidie Jaya, kali ini tujuannya adalah Trienggadeng, tepatnya di gampong Deah Teumanah dengan thema PEURUNOE DAN PEUMEU’EN ANEUKMIT, Pendampingan dan Pemulihan Trauma Anak-anak Korban Gempa Bumi, bekerja sama dengan salah satu lembaga hukum yang aktif di bidang kemanusiaan.

Aku merasa beruntung dan bersyukur karena diikutsertakan dalam kegiatan ini, karena mengunjungi dan menyapa aneukmit di sana adalah kemewahan dan kebahagiaan tersendiri bagiku. Ntah mengapa setiap mendengar kejadian bencana, jiwaku terasa ada panggilan yang amat sangat untuk berbuat sesuatu walaupun hanya sedikit dan semampunya.

Badan belum sepenuhnya pulih dari kambuhnya asam lambung yang mengakibatkan harus diinfus beberapa saat yang lalu, tetapi semangat ini mengalahkan semua rasa yang ada. Lets go! We can do it!

Perjalanan kali ini terasa beda banget auranya karena tim yang berangkat adalah para senior pengurus Yayasan Hakka Aceh yang bergerak dibidang sosial. Berasa banget jadi junior yang dilindungi dan disayangi dengan berbagai peuneutoh dan bimbingan yang aku dengarkan sepanjang jalan, diiringi musik lagu mandarin yang sebagian besar dapat ku ikuti bersenandung karena cukup akrab ditelinga berhubung Mama di rumah juga senang dengan lagu-lagu tersebut.

Ru guo da hai neng gou dai zou wo de ai chou, jiu siang dai zou mei diao he liu (terjemahan : kalau samudera sanggup bawa pergi dukaku, seperti membawa pergi setiap aliran sungai yang mengalir; lirik lagu Da Hai)

Tidak terasa kami memasuki Padang Tiji. “Pada tahun 60-an, saya sering naik kereta api dari Banda Aceh kemari untuk kunjungi pacar yang telah menjadi ibu dari anak-anakku haha,” ujar Pak Kiku yang hobi menyanyi ini, habis imlek nanti telah genap berusia 80 tahun. “Masih terasa enaknya GULA U yang sering kami makan disini,” kenang beliau.

Gula u adalah penganan yang terbuat dari daging kelapa dicampur tepung dan gula aren yang dibungkus menyerupai tabung dengan ON GEURSONG (daun pisang kering), salah satu kue khas daerah Pidie.

“Dahulu di sekitar dekat sini banyak warga keturunan Tionghua,” cerita Pak Kiku sambil menyebutkan beberapa nama orang tua dari kenalanku lengkap dengan nama daerah asal mereka.

Wah, ternyata dari dulu keberagaman juga udah terbentuk dengan sangat damai di daerah terpencil, salut. Pak Kiku ini adalah teman dari orang tuaku, beiau punya usaha toko pakaian pria sejak puluhan tahun yang lalu yang sekarang udah hand over ke anaknya.

Di usia senja ini beliau masih sangat energik dan semangat tinggi dengan jiwa sosial dan penyayang yang tinggi, sehat terus ya Pak!

Sampai di Deah Teumanah, kami disambut rombongan anak-anak dan perangkat desa disertai tim dari lembaga yang bekerjasama. Kegiatan dimulai dengan kata sambutan dari beberapa tokoh berkepentingan, kemudian dilanjutkan dengan PEUSIJUEK dan perkenalan diri para relawan kemanusiaan berdedikasi tinggi yang terdiri dari wanita-wanita super, misalnya Bunda Rini yang guru profesional berasal dari pulau Jawa yang telah menetap di Bireuen sepuluh tahunan karena bersuamikan putera Aceh, dengan fasihnya berbahasa Aceh yang menurutku cute dan smart, juga ada Bunda Munizar yang psikolog di RS Bireuen, dan beberapa Bunda lain yang juga guru dan ustazah, really respect and appreciate it! You rocks para Bunda-bunda super! Cara pendekatan mereka ke anak-anak itu luar biasa, salut setinggi-tingginya.

Rencana pendampingan anak-anak korban gempa ini akan berlangsung selama sebulan penuh dengan mengambil waktu setelah jam sekolah, tentunya diselingi dengan permainan yang inovatif mendidik dan fun supaya mereka tidak bosan. Sambil observasi apakah terdapat anak dengan kasus trauma berat akibat gempa untuk diambil tindakan selanjutnya, mudah-mudahan tidak ada ya, Amin!

Kegiatan berlanjut dengan penyerahan Quran, perlengkapan sekolah dan olahraga secara simbolis. Kami disuguhi penganan khas Aceh, salah satunya TIMPHAN, hey its my favorite haha, setiap coffee time bersama teman di warkop ataupun cafe, aku selalu mencari timphan labu kuning isi asoekaya, konon kata teman, jangan makan yang isi kelapa, itu asoemiskin! Glek! Haha guyonan buat selingan tentunya.

Suasana PEUMULIA JAMEE sangat kental terasa ditambahi dengan ramahnya sambutan para perangkat desa dan masyarakat. Anak-anak yang bersemangat tinggi mengikuti kegiatan, jujur saja aku sangat senang melihat mereka tersenyum kembali.

Anyway, kali ini tidak ada kata “KOREA.. KOREAAA! Ataupun JEPANG!” yang menyambut kedatanganku seperti perjalanan yang sudah-sudah, mungkin karena kali ini aku datang dengan komunitas Tionghoa, harap maklum casing alias penampilan aku kadang menipu, sudah terbiasa dikirain orang luar, gak heran banyak anak-anak remaja ngajak fotoan selama perjalanan ke Pidie Jaya ini, berasa celeb!

Petang mulai menyonsong, senja datang menyapa, saatnya kami pamit undur diri, perlahan kami jalan meninggalkan desa. Tidak lupa singgah di Saree belanja buah dan sayur segar seperti bengkoang, timun padi, pete, labu, pisang, ubi di lapak-lapak yang tersebar di beberapa titik sepanjang perjalanan pulang ke kota kelahiranku Banda Aceh. []

KOMENTAR FACEBOOK