‘Duo Brewok’ Bertemu, Publik Punya Bacaan Sendiri?

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Salah seorang pendukung Muzakkir Manaf menulis status yang terbilang kocak:“Ureuëng meubrèwok biasa jih akan geudukung sama-sama yg meubrèwok.”

Status Tengku Jamaica ditanggapi kocak, salah satunya oleh Helmi Yusuf Harun. Ia mengajukan pertanyaan kepada Jamaica: “Man kiban nyoe ngon kamoe hana meubrewok (cit hana brewok) Teungku Jamaica………..soe yg haroh meudukung…..???”

Pertanyaan ini lalu ditanggapi ringan oleh pemilik status: “Meunyo neutém dukung yg meubrèwok leubèh gòt, tapi meunyo hana neutém dukung kakeuh hana pupuë syit. Demokrasi.”

Terhadap beredarnya kabar pertemuan Surya Paloh dengan Muzakkir Manaf, Jamaica menaruh perhatian khusus. Bahkan ia membuat meme yang dibawahnya tercantum Salam Pang 5 beh.

Bukan hanya Jamaica, foto pertemuan dua sosok yang sama-sama memiliki brewok itu juga banyak ditanggapi oleh fesbukers lainnya.

Taufik Almubarak menulis: “Pertemuan Surya Paloh dan Mualem mendekati pemilihan, pasti banyak yang bikin deg-degan. Tapi, beginilah politik, lam anggok na asek. Meme ini bukan kampanye, hanya mengomentari dinamika politik. Kepada semua kandidat, teruslah optimis bahwa Anda-lah sang terpilih itu…” #nomention #pilkadaaceh #aceh2017

Adly Jay Lanie bahkan mengulas panjang soal politik, yang disebutnya sebagai pencerahan bagi mereka yang memandang politik sebagai hitam putih.

Sekali lagi…buat kalian yang masih memandang politik sebagai sesuatu yang hitam-putih atau laksana rumus matematika, ini kupersembahkan lagi satu cuplikan drama yang diperankan oleh para aktor intelektual, yang selama ini terus kalian puja dan kadang juga kalian caci.

Mudah-mudahan, ini jadi pencerahan buat kalian semua agar mampu memahami, bahwa politik tidak seperti yang selama in kalian kira.

– Politik itu tidak kaku dan sangat dinamis ;
– Tidak ada teman atau musuh abadi dalam politik, yang abadi cuma kepentingan ;
– Dalam politik, tikung-menikung itu soal biasa ;
– Politik juga tidak mengenal yang namanya idealisme ; dan
– Terkadang politik juga cenderung tidak rasional.

Orang-oarang yang terekam dalam foto pertama berikut, selama ini getol menyuarakan prinsip dan ideologi mereka masing-masing didepan para pendukung fanatiknya; Yang satu memilih isu Nasionalisme Keacehan sebagai modal jualan, sementara yang satunya memposisikan diri pada isu NKRI Harga Mati serta Restorasi Indonesia.

Disamping itu, dalam konsep penempatan agama dalam kegiatan berbangsa dan bernegera, mereka juga sangat berseberangan dan memilih untuk menjual isu yang berbeda; yang satu pro kepada Islam-ASWAJA, sementara yang satu lagi cenderung lebih moderat bahkan bercitarasa Liberalis.

Itulah setidaknya yang selama ini tergambarkan dari kedua figur ini dimata para pengagum mereka dan bersebab itu pula, mereka rela gontok-gontokan di lapangan, bahkan sampai kepada ayat saling mengkafirkan.

Tapi dibalik itu semua, ternyata para Tuan besar tersebut masih bisa duduk semeja dengan santainya, sambil bertransaksi politik untuk mencapai kepentingan yang saling menguntungkan, dengan alasan silaturrahmi dan mengabaikan ideologi yang selama ini sudah sering diteriakkan di hadapan para pendukungnya, diatas panggung kampanye.

Ya…memang begitulah politk yang sebenarnya. Ia terkadang dianggap tidak beretika dan lazim menabrak batas-batas akal sehat manusia.

Lalu masihkah kita selaku rakyat mau terus dijadikan objek oleh para aktor politik tersebut, lalu tanpa berfikir panjang siap memutus hubungan persaudaran, hanya karna alasan mempertahankan faham politik yang kita yakini benar?

Ulasan berbagai kalangan itu ditanggapi oleh kader NasDem, Auzir Fahlevi.

Pasca pertemuan Muzakkir Manaf alias mualem dengan Ketum Nasdem Kanda Surya Paloh mulai timbul mispersepsi dan artikulasi politik berbeda-beda dari sejumlah pihak menurut aliran politik masing2.saya kira,Surya Paloh sebagai seorang negarawan tengah menunjukkan sikap “kebapakannya” kepada para kandidat cagub aceh,tidak hanya kepada mualem semata.Nasdem memposisikan diri sebagai “sahabat” bagi semua kandidat cagub walau Nasdem sendiri mengusung dan mendukung Tarmizi Karim sbg cagub aceh.sikap ketum Nasdem Surya Paloh patut diapresiasi,bukan digembosi!!!!

Teuku Banta, orang penting di NasDem Aceh juga ikut menulis: Pilkada adalah pesta demokrasi, meskipun berkompetisi tapi kita tetap bersaudara dan harus terus saling bersilaturrahmi. Sehingga setelah pilkada usai, maka kita tidak perlu ada waktu untuk berbaikan dan islah2an, tapi kita akan bisa langsung bersatu untuk bersama membangun Aceh.

Pemenangnya harus seluruh masyarakat Aceh, dan pemimpinnya adalah pemimpin Aceh. []