Aji, Putra Aceh Dalam Pasukan Perdamaian PBB-Uni Afrika

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Tidak mudah untuk lulus sebagai pasukan perdamaian PBB-Uni Afrika dari Indonesia atau yang disingkat dengan UNAMID – United Nations African Union Mission in Darfur. Hal itulah yang dirasakan oleh Brigadir Aji Azwardi (31 tahun), putra Aceh kelahiran Peusangan, Bireuen yang dalam waktu dekat ini akan berangkat ke Darfur-Sudan sebagai salah satu personel dalam operasi hybrid yang bertugas memberi perlindungan terhadap warga sipil dan berkontribusi untuk keamanan serta kemanusiaan.

“Banyak tes yang harus dilewati, mulai dari kesehatan, kemampuan, wawancara, dan bahasa,” ujar Aji.

Seleksi yang diadakan di bagian Hubungan Bilateral Internasional (Hubbinter) Mabes Polri ini merupakan program Formed Police Unit (FPU) Tahun Seleksi 2016 dan diikuti kurang lebih 6.000 personil Polri dari seluruh Indonesia. Dari ribuan peserta itu, yang memenuhi syarat untuk berangkat hanya 140 orang, dan ia salah satunya dari 50 peserta yang ikut seleksi di Polda Aceh.

Lahir dari keluarga sederhana, pasangan dari Muhammad Nur dan Basmiyah ini telah melewati jalan berliku hingga akhirnya menjadi anggota Polri. Ayahnya merupakan pensiunan Polisi dan ibunya berprofesi sebagai Guru Agama di Sekolah Dasar. Kemampuan intelektualnya sudah terasah sejak kecil. Terbukti, Sekolah Dasar di Alue Bili, Kec. Baktiya, Aceh Utara dijalaninya hanya lima tahun. Karena kecerdasannya, kelas 5 ia sudah di izinkan untuk mengikuti ujian EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) hingga akhirnya ia lulus.

Konflik Aceh telah mengajarinya bagaimana menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga, Ia yang tumbuh dan besar di Alue Ie Puteh, Aceh Utara ini memilih kuliah di Akper Depkes, Banda Aceh pada tahun 2002, sebagai bentuk dorongan jiwanya untuk mendedikasikan diri bagi kemanusiaan.

“Tahun 2005 (setelah Tsunami Aceh) saya bekerja di YEU (Yakkum Emergency Unit) dan salah satu NGO Australia saat itu di Banda Aceh. Dan itu memberikan saya banyak pengalaman” cerita Aji. Pasca penandatanganan MoU Helsinki antara pihak GAM dan RI, pria yang kerap menjalani Puasa Senin-Kamis ini mendaftarkan diri sebagai anggota Polri dari jalur Caba (Calon Bintara) khusus tahun 2006 atau disebut juga dengan Ba Gasum Plus (Polisi dengan kemampuan Brimob). Saat itu, gempa dan tsunami Aceh telah merenggut ribuan korban termasuk dari pihak Kepolisian Daerah Aceh. Disamping itu, konsensus perjanjian damai antara RI-GAM membatasi jumlah personel Polri yang bertugas di Aceh. Maka, pendaftaran Caba Khusus ini dibuka sebagai bentuk kebijakan saat itu dan dibiayai oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, dan pendidikan Brimob dijalaninya di Pusdik Brimob Watukosek, Jawa Timur.

Di kepolisian, pria yang menyaru sebagai pedagang pakaian secara online ini bertugas di Subbid Provos Bid Propam Polda Aceh, hingga kini ia lulus sebagai Pasukan UNAMID dari Indonesia yang bertugas selama satu tahun di Benua Afrika. Setelah lulus tes, ia mengikuti kegiatan pra operasi di Pusat Latihan Multi-fungsi Polri di Cikeas, Jawa Barat. “Kami dibekali dengan pelatihan kegawat-daruratan dan wawasan tentang penyakit Ebola,” tuturnya.

Salah satu klasifikasi yang membuat pria lajang ini lulus adalah kemampuan dan pengetahuannya tentang medis, manase (memasak), driver, dan menembak. Tapi baginya, ia menganggap apa yang selama ini dicapai merupakan berkah dari doa kedua orangtuanya. Ia mengakui, motivasinya untuk menjadi pasukan perdamaian adalah nilai kemanusiaan serta ingin menambah wawasan dan meningkatkan karir di kepolisian. “Dalam dua hari ini, Insya Allah kami akan berangkat ke Sudan, mohon doanya” ujar pria yang cinta kepada ilmu agama ini.

Harapannya, selesai tugas nantinya ia bisa menunaikan ibadah Umrah dan membawa kedua orangtuanya ke Tanah Suci. Semoga.
Selamat bertugas dan sukses selalu. Demi kemanusiaan, Aceh bangga memiliki mu.[]