Sejenak di Cot Panglima

Lelaki kurus berambut lurus itu, duduk di kursi plastik uzur, di pinggir jalan yang berbelok menanjak. Ia terlihat sangat menikmati mie instan berkuah yang sudah “diacehkan” oleh pemilik lepau sangat sederhana yang dibangun di pinggir jurang.

Matahari yang biasanya cerah dan menguning emas, memilih bersembunyi di sebalik awan hitam yang meraja di seantero langit. Rerimba yang tersisa hanya sedikit di antara bukit-bukit yang botak dan nun terpaut tidak begitu jauh telah berubah menjadi perkebunan sawit, menjadi penanda bila tempat di mana lelaki itu duduk, telah mengalami banyak penderitaan.

Ia, dengan tatapan mata senjanya, melihat detail tiap kontur alam yang kian berbeda. Ya, Cot Panglima di km 28, yang kini masuk teritorial Gampong Suka Tani, Kecamatan Juli, Bireuen, telah berevolusi.

Lelaki itu adalah Adi Djuli. Orang memanggilnya Tu Adi. Ia merupakan Ampon yang masih tersisa di negeri Jeumpa. Semenjak muda telah menjadi wartawan di berbagai media massa, ia pun merupakan seorang guru SD dengan jabatan saat ini sebagai Kepala Sekolah. Dua kali terpilih sebagai Ketua PWI Bireuen, ia dikenal sebagai wartawan yang selektif dan detail.

Udara Minggu (22/1/2017) di Cot Panglima yang sejuk, begitu ia nikmati. Ia acap tersenyum dan bercanda dengan Tamam–seorang sejawat seperjalanan– yang ikut duduk di depan Pimred Koran Bireuen itu.

Ia memuji rasa mie instan yang telah diacehkan itu. Ia juga tak protes ketika pemilik lepau itu menggoreng telur mata sapi dengan minyak yang sangat irit. Walau hasilnya, telur goreng dengan ornamen rada-rada hitam dan bentuk tak keruan.

Ada sekitar tujuh ekor pipit yang bercericit tenang di reranting belukar di dekat Tu Adi duduk. Dari tingkahnya, burung-burung itu baru pulang dari mencari rezeki. Paruh mereka terlihat membulat. Dua ekor di antaranya sempat beberapa kali saling menempel kepala. Mungkin. Sepasang burung itu adalah kekasih, atau pula pasangan suami istri yang berbahagia. Tentu tak mungkin mereka sebagai pasangan gay atau lesbi. Binatang tak pernah punya selera serendah manusia.

Cot Panglima sekarang adalah tempat singgah yang lumayan ramai. Lepau-lepau sangat sederhana dibuka dengan jajanan instan. Tidak sedikit yang tidak ramah bagi ginjal. Tak ada lagi pohon-pohon besar. Dengan demikian hilang pula rangkong, monyet, dan berbagai binatang rimba lainnya. Jangan berharap ada aliran air bersih yang terjun dari bebukitan. Sumber air yang dulu melimpah, kini tinggal kenangan.

Bukitnya telah kehilangan daya magis. Keserakahan manusia terlihat nyata di sana. Seiring dengan hijrahnya berbagai arwah yang dulu sempat menjadikan jurang-jurang di sekitar Cot Panglima sebagai markas besar membangun koloni hantu. Korban-korban pembantaian revolusi 1965, DOM, Operasi Cinta Meunasah, Darurat Militer dan bahkan korban kekejaman Belanda, Jepang, telah tak pernah terlihat lagi, walau sekedar usil mengganggu pemotor di malam hari. Mungkin cuaca dan suasana tak lagi mendukung.

Tu Adi menyapu pandangan ke sekeliling. Ia tak terlihat ingin memotret. Ia terus berbicara–tak serius–sembari tersenyum ke orang-orang yang kebetulan bertatap pandang dengannya.

Ia juga bertanya tentang siapa yang akan dipilih untuk Bupati Bireuen. Nyaris semua memang menyebut nama kandidat yang punya track record yang baik.

Tiga dara yang datang dengan sepeda motor matic,sibuk memotret diri dengan swafoto yang dibantu tongsis. Mereka terus-menerus memotret diri dengan mimik yang berbeda-beda. Gadis-gadis belia itu, ah lucu melihat tingkah mereka. Apakah mereka rahu, bila negeri di mana mereka berdiri ini, sedang dan terus berevolusi. Menggerus apapun yang lemah. Menikam siapapun yang kalah. Ah, semoga mereka sadar.
[]

KOMENTAR FACEBOOK