Reference Power Sang Panglima

(Photo: Koleksi Haekal Afifa)

Kehadiran empat tokoh mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam panggung Pilkada Aceh 2017 adalah suatu hal yang menarik. Dominasi politik lokal masih berada dalam kepungan para elit Aceh yang semuanya memiliki orientasi pembangunan berbasis Aceh interes (kepentingan Aceh). Suatu yang lumrah, kelemahan dan kekuatan dalam membentuk kepemimpinan seseorang tidak bisa dihindari. Namun, hampir semua pakar (khususnya dalam dialetika barat) sepakat bahwa kepemimpinan adalah seni dalam mempengaruhi.

Dalam artikel ini, saya tidak akan menulis kekuatan yang dimiliki oleh semua tokoh mantan petinggi GAM dalam kontestasi Pilkada 2017 yang menurut saya memiliki beragam variable untuk saling memberi pengaruh. Tetapi, yang menarik bagi saya adalah kemunculan Muzakir Manaf atau akrab disapa Muallem sebagai kandidat Gubernur Aceh yang berada diantara dua kekuatan; Tokoh tua GAM (Zaini Abdullah – Zakaria Saman) dengan tokoh muda (Irwandi Yusuf). Perebutan pengaruh hanya terpusat pada kalangan muda GAM yang memiliki kekuatan progresif dan militan. Dan menurut saya, hanya Muallem satu-satunya kontestan Pilkada 2017 yang memiliki reference power (kekuatan rujukan) secara kompleks. Mengapa?

Karena, pondasi terkuat dalam kepemimpinan adalah kepercayaan. Sebuah kepercayaan akan terbentuk jika memiliki integritas, kompetensi, loyalitas, konsistensi dan keterbukaan. Dominasi dari lima unsur kepercayaan ini sebenarnya telah dimiliki oleh Muallem dari dulu hingga ia dipercaya untuk menggantikan alm. Teungku Abdullah Syafi’i yang syahid pada 22 Januari 2002 selaku Panglima Pusat GAM. Hubungan emosional antara Muallem dan bawahannya telah terbentuk secara kuat jauh sebelum ia mencalonkan dirinya sekarang ini, sehingga ia memiliki kemampuan untuk membangkitkan kekuatan secara rasional dan emosional para pengikutnya. Hal inilah, menurut saya akan sangat ditakuti oleh banyak lawannya, khususnya Jakarta.

Bawaan Muallem yang pendiam, tenang, dan saat konflik sangat dikenal sebagai sosok misterius (jarang muncul dan memberi pernyataan) di hadapan publik secara perlahan dan terpola sebenarnya membentuk menjadi kekuatan personal bagi dirinya pasca damai Aceh. Sifat ini telah melahirkan kewibawaan dan kebijaksanaan dari seorang Muallem, atau apa yang disebut oleh Stephen Robbins sebagai identifications-based trust (kepercayaan berbasis identifikasi) dalam bukunya Essentials of Organizational Behavior (1984). Basis inilah yang menurut saya menjadi salah satu alat yang membuat Zaini Abdullah menang dalam Pilkada 2012 lalu. Karena ia berpasangan dengan sosok rujukan seperti Muallem.

Kekuatan Rujukan (reference power) Muallem pastinya masih terasa sampai saat ini. Kalangan muda GAM di beberapa daerah masih menaruh harapan kepada sang panglima. Tidak sebatas hubungan emosi antara ia dan pengikutnya, tapi unsur ‘suka’ atau liking dari publik Aceh mengidentifikasi-kan bahwa Muallem masih memiliki kualitas dan persyaratan yang di inginkan Aceh. Setidaknya, ia menjadi representasi kuat untuk menyatukan para kombatan dan memenuhi harapan para korban konflik, dan yang paling penting Muallem menjadi simbol kekuatan untuk membela kepentingan Aceh (Aceh interest) dari Jakarta.

Indikasinya terbukti, Muallem masih memiliki konsistensi yang tinggi untuk tetap menjadi lokomotif bagi Partai Aceh sebagai kekuatan partai lokal saat ini, dimana sekarang Partai Aceh dan dirinya ditinggalkan dan dibiarkan sendiri oleh banyak pendahulunya. Akan tetapi, legitimate power Partai Aceh di DPR Aceh menjadi kekuatan yang tidak bisa dinafikan atau dianalogikan se-sederhana jargon Zakaria Saman (de fatco-de jure). Lebih lagi, Indonesia yang masih menganut sistem trias politika dan masih memandang partai politik sebagai representasi dan aspirasi politik masyarakat.

Memang, diakui atau tidak sosok Muallem memiliki kelemahan dalam komunikasi publik. Dapat dimaklumi, karena ia besar dalam kultur perlawanan yang identik dengan militer dimana bahasa Indonesia yang dulu dianggap lawan olehnya tidak terlalu dominan untuk dikuasai. Sehingga ia lebih banyak berkomunikasi dengan bahasa Melayu sebagaimana banyak petinggi GAM lainnya yang pernah menjadi pelarian di luar negeri. Kelemahan ini banyak dimanfaatkan sebagai alat propaganda oleh lawannya untuk menjatuhkan kredibilitas dirinya.

Akan tetapi, saya merasa reference power yang dimiliki oleh Muallem sangat sulit untuk ditaklukkan, apalagi dimata loyalisnya. Disamping itu, T.A Khalid yang memiliki expert power (kekuatan keahlian) sebagaimana politisi akan mengimbangi Muallem untuk membangun komunikasi politik bagi keduanya.

Secara tidak langsung, legitimate power (kekuatan sah) Partai Aceh di DPR Aceh dan expert power (kekuatan keahlian) sosok T.A Khalid akan tetap ‘tunduk’ dibawah reference power (kekuatan rujukan) Muallem selaku Panglima. Oleh karenanya, kehadiran Muallem dengan segala kekuatan yang dimiliki dalam pentas Pilkada Aceh 2017 akan tetap dianggap sebagai lirik lagu Nyawông; Panglima Prang katrök geuwö, ngôn Radja Nanggröe haté lam suka. Wahée adeun lôn Panglima Prang, hate lôn seunang hana ngön peusa. Tijöh ie mata kareuna girang, Teuku neuriwang ubat peunawa. Semoga.