Ketika Semua Memandang Irwandi Lancang

Awalnya tidak ada yang menarik perhatian saya pada perhelatan debat kandidat calon Gubernur Aceh sesi tiga pada Selasa (31/1/2017) di Amel Convention Center, Banda Aceh. Ya debat itu secara kualitas jauh dari kata hebat. Hanya sekedar kegiatan debat kusir dan haba bangai.

Saya juga tak ambil peduli ketika lagi-lagi Apa Karya mengeluarkan kalimat-kalimat canda yang sejatinya hanya haba bangai belaka. Bahkan sebelumnya saya tak ambil peduli ketika warta yang mengabarkan Apa Karya mengatakan dirinya tak mungkin korupsi, karena sudah tua dan tidak punya anak.

“Long ka tuha aneuk pih tan, meunyoe jeut keu gubernur ho kuba atra nyan bandum. Meunyoe kon karena hana ureueng laen, hana galak lon,” ucap Apa Karya, seperti yang dilansir oleh Portal Satu pada Selasa (30/8/2016.

Hal yang sama kembali diulang ketika debat kandidat putaran pertama di Hermes Hotel, Kamis (22/12/2016)

“Untuk apa saya korupsi dan untuk siapa saya kasih sedangkan calon lain bisa dibawa pulang ke anaknya sedangkan saya anak pun tidak ada “Digop dikorupsi dipuwoe keu aneuk sedangkan ilong meu aneuk kutan ho kuba,” kata Apa Karya, seperti dilansir oleh LintasNasional dan juga bisa di tonton di youtube.

Kenapa saya tak ambil pusing? Ya karena Apa Karya hanya sekedar bicara ploh bron. Sejauh ini tidak ada konsep apapun yang benar-benar mampu dijabarkan oleh Apa, di luar gurauan khas panteu jaga yang tidak berbobot. Walau dalam tiap penyampaiannya selalu terkesan serius, namun tetap saja saya tidak ambil peduli.

Namun saya tiba-tiba harus ambil peduli ketika banyak pihak merasa Irwandi Yusuf berlaku di luar adab yang baik, tak punya etika, angkuh, mengejek nilai kemanusiaan, serta ekbus (bahasa plesetan dari kotoran kemaluan manusia) hanya karena ia bercanda dengan mengatakan : “Begini saja, bikin JKA mudah, tapi lebih mudah lagi bikin anak. Apa Karya tidak bisa itu….,”

Atas kalimat canda itu kepada koleganya sendiri, banyak pihak yang kemudian merasa bahwa apa yang disampaikan Irwandi bukan sekedar penghinaan terhadap Apa Karya, tapi juga penghinaan terhadap pasangan yang belum dikaruniai anak oleh Ilahi. Irwandi dinilai telah melecehkan martabat kemanusiaan. Telah menghina sesuatu yang sangat prinsipil yang berada di luar kemampuan manusia.

Sepertinya Irwandi pun menyadari bahwa apa yang ia sebut sebagai canda tingkat dewa, telah “melukai” Apa dan pendukungnya. Untuk itu melalui jejaring facebook ia pun meminta maaf. Darwati A. Gani, atas nama istri Teungku Agam pun meminta maaf dan menyesali atas keluarnya kalimat itu.

Pun demikian, ternyata banyak pihak yang merasa permintaan maaf itu tidak cukup. Mereka pun kian gencar membully Bapak JKA. Berbagai jurus dikeluarkan, seakan-akan Irwandi adalah public enemy yang tak pantas dimaafkan. Seolah-olah Irwandi adalah musuh bangsa yang pantas ditenggelamkan ke dalam sungai dengan cara-cara keji sekalipun.

****
Sejauh ini, Apa Karya nyentrik bukan karena apa yang ia sampaikan adalah sebuah kebenaran. Ia berhasil terkesan jenaka–walau, bila dipelajari mimiknya ia sangat serius– dengan kalimat-kalimat bahasa Aceh yang meugampong dan sering di luar kepantasan. Walau sejauh ini tak satu pihak pun protes. Tentu publik masih ingat ketika Beliau membully Tarmizi Karim. Yang akhirnya Tarmizi Karim pun berinisiatif minta maaf melalui media.

Juga klaim-klaim Beliau tentang usulan JKA dari dirinya. Bahwa ia yang menunjuk Malik Mahmud sebagai Wali Nanggroe, menunjuk Toto Zaini dan Mualem sebagai Mualem sebagai Gubernur Aceh, dan klaim lainnya. Tentu semua tahu itu, bahwa Apa yang disampaikan oleh Abusyik Karia Saman, tidak sepenuhnya benar. Saya kira Abu Doto, Malik, Mualem dan orang lain sangat tahu itu semua.

Tulisan ini lahir bukan karena saya pendukung Irwandi. Sampai detik ini, jemari tangan saya tidak pernah bersentuhan dengan Irwandi. Artinya kami belum pernah bertemu. Bukan pula sebagai bentuk pembelaan dari orang sekampung–karena ibu dan bapak saya orang Peusangan campur Samalanga– serta bukan pula sentimentil kedaerahan. Ini murni karena saya ingin kita semua tidak berlebihan. Tidak out of coridor ketika membully.

Bilapun Anda hendak mengatakan tidak memilih Irwandi, tidaklah harus seolah-olah terzalimi dengan kalimat candanya kepada Apa. Bila ingin membenarkan diri mencoblos dan mendukung paket C, tidaklah harus menista Irwandi sampai harus mengatakan dirinya sebagai orang berpendidikan tinggi yang meu ekbus.

Pada akhirnya, seekbus-ekbusnya Irwandi, ia adalah pelaksana JKA pertama di Aceh. Seekbus-ekbusnya Irwandi, ia adalah pelaksana program beasiswa yatim pertama di Aceh yang sampai sekarang dirasakan manfaatnya oleh anak yatim dan fakir miskin. Tentu masih banyak hal positif lain yang dilakukan olehnya. Anda?