Menakar Bahasa Politik Apa Karia

Zakaria Saman bersama Hasan Tiro (Dokumen Haekal Afifa)

Adalah Mark Reolofs, seorang Ilmuwan Politik yang mengungkapkan dalam bukunya The Language of Modern Politics (Dorsey Press, 1967) bahwa pada hakikatnya politik adalah tentang berkomunikasi dengan orang-orang. Lebih tepatnya, politik adalah berbicara dalam arti yang lebih inklusif, baik dengan simbol, kata, gambar, gerakan, pakaian, atau sikap.

Definisi ini mengingatkan saya pada komunikasi politik yang dipraktekkan oleh Zakaria Saman atau akrab disapa Apa Karia dalam panggung kontestasi Pilkada Aceh 2017. Banyak pihak menganggap setiap pernyataan Apa Karia selama ini hanyalah candaan atau haba bangai semata yang diucapkannya untuk sekedar plöh brôn dan tidak memiliki makna apapun. Walaupun saya tidak pernah bertemu atau mendukung Apa Karia dalam Pilkada Aceh kali ini, menarik bagi saya untuk menganalisa dan menakar strategi bahasa politiknya. Setidaknya dalam taksonomi komunikasi, atau tegasnya komunikasi propaganda apa yang dipraktekkan oleh Zakaria Saman dengan jargon politik khasnya merupakan taktik dan strategi komunikator profesional, dalam istilah Kenenth E. Boulding (The Image:1971) disebut dengan korelasi antara pesan dan citra.

Bagi pendukung fanatik, lawan atau orang yang bekerja untuk melawanya sangat sulit menemukan pesan dan citra dari bahasa politik yang kerap disampaikan oleh Apa Karia. Jika tidak jeli, orang yang mengaku intelektual sekalipun akan terjebak dalam narasi pesan bahasanya.

Hal ini terbukti, istilah-istilah khas Aceh atau lainnya yang sering disebut oleh Apa Karia di media massa atau ruang publik seperti; Kaméng gampông, defacto dejure, lagéna aju, tét-tét, dan janéng serta lain sebagainya, tanpa sadar kita menulis menjadi status atau sekedar hastag di media sosial, serta mengucapkan kembali dalam setiap obrolan di warung kopi, bahkan direproduksi dalam ragam bentuk lainnya, padahal (misalnya) kita sedang tidak mendukungnya.

Tanpa disadari, bahasa yang dianggap oleh sebagian orang haba pantéu jaga yang tidak berbobot itu justru menjadi kutipan bagi media massa di Aceh, setidaknya pada tataran gaya, komunikasi politik Apa Karia berhasil menjadikannya sebagai sosok media darling yang ditunggu pernyataannya.

Maka bagi saya, kehadiran Zakaria Saman dengan bahasa khasnya setidaknya telah memberi warna baru dalam panggung Pilkada Aceh 2017, terlebih dengan kondisi demokrasi Aceh yang menurut saya hanya diisi oleh ureung söt, haba söt, numböi söt, ayat söt dan mungkin yang “dipeungeut” pih awak-awak söt.

Oleh karenanya tidak heran, Apa Karia yang sebelumnya “tidak diperhitungkan” justru berubah sebagai energi baru dengan komunikasi gampông-nya. Setidaknya, Apa Karia menjadi simbol dinamisasi dan elegansi ditengah iklim politik Aceh yang kaku, apalagi ia tokoh baru yang tidak memiliki cacat dan dosa politik secara langsung dengan Rakyat.

Pesan-Citra Dalam Bahasa Politik
Sebagai mantan Menteri Pertahanan GAM, tentunya Zakaria Saman tidak asing dengan taktik dan strategi. Bahkan alm. Tengku Hasan di Tiro sekalipun memujinya sebagai sosok laki-laki yang berkarakter kuat (strong character), pintar dan setia (veryable and loyal), pemberani (decisive), cerdik dan berpendirian (possessed extraordinary courage). Kemampuan strategi yang dimiliki oleh Apa Karia mampu membuatnya lolos dan melarikan diri saat ia ditangkap oleh TNI pada Maret 1978. Tidak hanya itu, sebelum ia bertemu dengan Hasan Tiro pada 20 Januari 1978 di asrama Aluë Seupôt, Tangse, Apa Karia mampu mengajak penduduk Blang Malô untuk mendukung Aceh Merdeka serta menyerahkan uang kepada Hasan Tiro sebesar 1 Juta sebagai bentuk konsistensi dan loyalitasnya kepada perjuangan Aceh (Tiro:1982).

Oleh karenanya, jangan heran istilah mantöng maén Abée (masih main debu) yang ditujukan kepada para kombatan GAM sekelas (misalnya) Irwandi Yusuf atau Muzakir Manaf sebenarnya bukan sekedar menarasikan fakta (pesan), tapi juga menjadi kekuatan (citra) dalam membangun branding dirinya yang meu-Aceh. Dalam komunikasi Propaganda, teknik ini dinamakan Glittering Generalities; mengasosiasikan sesuatu dengan “kata menarik” dan membuat orang lain untuk menerima serta menyetujuinya tanpa harus memeriksa lebih dulu. Dalam dunia komersil, teknik ini bekerja seperti asosiasi “Yang Penting Rasanya Bung” (iklan-nya) Djarum Super, dan lain sebagainya

Kekuatan pesan-citra yang dibangun oleh Apa Karia dalam komunikasi politik pada setiap jargon khasnya adalah tidak semata-mata membangkitkan emosi negatif, mengabaikan faktor intelektual dan rasio, sehingga nilai objektivitasnya selalu diperhatikan (Nurudin:2001). Walaupun saat lawan politik menyerang pribadinya, dia akan tetap menjawabnya dengan “bijak”. Seperti dalam Debat Sesi Akhir Pilkada Aceh di Gedung Amel Convention saat Irwandi Yusuf “mengejek” nya, Apa Karia mampu menanggapinya dengan “bijak” dan khas; Ka jikap geutanjöe lé Asèe, bek ta balah kap Asèe.

Sebenarnya, komunikasi propaganda dengan sifat Ad Hominem (menyerang pribadi) pernah dipraktekkan oleh Israel kepada Palestina dan di era Nazi juga pernah dilakukan oleh Hitler terhadap bangsa Yahudi. Tidak heran, karena bagi Hitler hal yang terpenting dari propaganda adalah bertambahnya jumlah pengikut, bukan anggota. Maka, pertimbangan humanism, etika dan estetika harus disingkirkan (Dan Nimmo: 1993). Hal yang sama juga terjadi dalam Pilpres 2014, yakni saat Jokowi diserang dengan isu “Antek Cina” dan Prabowo dihantam dengan isu “Pelanggaran HAM”.

Maka tak perlu panik, jika kita melihat seseorang yang sebelumnya konsisten dengan nilai-nilai kemanusiaan atau demokrasi, lantas dalam politik dia akan terjebak untuk membenarkan apa yang dilakukan atau diperintahkan “majikan”nya. Karena memang, komunikasi dalam politik dan propaganda bekerja untuk menyampaikan pesan dan citra, terlepas dari buruk atau baiknya. Hanya saja, norma dan etika dari suatu budaya atau agama yang semestinya perlu menjadi pijakan komunikasi. Kôn meuka ta hâh babah ladju ateuh djeumöh göp, apalagi dipraktekkan dalam ruang publik oleh orang yang sudah dianggap tokoh, pelopor, atau apalah sebutannya.

Oleh karena itu, gaya komunikasi dan bahasa politik yang dibangun oleh Zakaria Saman memberikan jawaban bagi saya; bahwa Apa Karia bukanlah sosok lugu, bodoh, pelawak, atau pelengkap sebagaimana dipersepsikan oleh sebagian orang yang fanatik buta selama ini. Justru, Ia seakan paham bagaimana menempatkan pesan dan citra dalam setiap bahasanya yang dianggap oleh sebagian orang khas pantëu djaga atau haba bangai. Tapi malah menjadi kekuatan secara politik bagi dirinya. Dalam komunikasi Aceh sering disebut; Blöe siplöh peublöe sikureung, lam ruweung meuteumée laba. Karena hakikatnya, Apa Karia sedang menelanjangi nalar bangai Anda. Salut, Apa!

KOMENTAR FACEBOOK