Menghiperbola Canda Irwandi

“Irwandi Yusuf memang cepat sekali marah. Akan tetapi ia bukan tipe pendendam. Hatinya akan segera pulih dari luka. Bahkan ia sanggup memaafkan orang yang mati-matian hendak membunuh dirinya pada Pilkada 2012. Untuk perihal candanya terhadap Zakaria Saman, yang oleh sebagian “analisator” kelas facebook beranggapan bahwa Teungku Agam, sudah melakukan sesuatu yang tak pantas dimaafkan, saya kira ini sudah masuk dalam kategori politik menjelang pilkada. Para analisator itu bukan orang-orang lugu. Jelas bahwa mereka bagian dari pemain yang juga punya hajat untuk merontokkan Irwandi,”

Demikian kalimat penutup diskusi saya dengan salah seorang tokoh Aceh yang telah lama malang melintang dalam dunia politik. Dalam kacamata sang tokoh, kalimat Irwandi yang bernada canda kepada Zakaria Saman, memang di luar kepantasan. Atas kekhilafan itu Irwandi sudah menyampaikan permohonan maaf.

Seharusnya masalahnya pun selesai. Namun ternyata kian merembet-rembet. Beberapa orang yang merasa ikut disindir oleh Irwandi–padahal Irwandi hanya bercanda dengan Zakaria Saman– pun tak kunjung berhenti mengutuk Irwandi. Ragam analisa pun bermunculan. Ada yang tidak berani mengutuk dengan kalimat sendiri, mungkin karena tersandera dengan berbagai kepentingan, ada pula yang terang-terangan menyerang dengan ragam kalam bertulis. Pada ujung-ujungnya hanya ingin menyampaikan, Irwandi tidak layak dipilih. Irwandi harus kalah di Pilkada. Irwandi intelektual tak beretika dan harus dilawan secara beramai-ramai. Ya hanya itu, pesan yang sesungguhnya.

Maka tidak heran, beberapa kalangan–untuk membenarkan opininya– mencatut nama-nama penggagas ide dari luar negeri dengan berbagai istilah yang melatin dan mengeropa. Seolah-olah sebuah pandangan yang adil dan sangat ilmiah. Ujung-ujungnya, setelah merapal berbagai mantera pemikir luar negeri, dengan kesimpulan sendiri yang absurd, si penulis mengatakan bahwa Irwandi tetap hana utak, hana etika, hana adab dan tidak layak dipilih. Sekali lagi, hanya itu pesannya.

Tulisan-tulisan yang demikian tentu tidak mengandung niat baik. Kenapa? Karena jelas bahwa permintaan maaf Irwandi tidak menjadi bagian dari fondasi dari tulisan. Bahkan permintaan Irwandi dan Darwati, diabaikan begitu saja. Seakan-akan Irwandi tidak pernah meminta maaf.

***
Anggap saja bahwa saya adalah seorang yang fanatik buta terhadap Irwandi–walau pendapat itu salah– dan tulisan ini hendak membela Irwandi tanpa dasar. Saya melihat bahwa Anda sudah sangat menghiperbola kalimat Irwandi. Pengandaian yang Anda buat sudah terlalu jauh dari kasus yang terjadi. Dengan bahasa gampong bisa saya ilustrasikan begini: Kasus yang sebenarnya hanyalah dakwa-dakwi biasa antara dua orang teman yang memang sudah sangat lama bergaul. Si A sembari tertawa berkata kepada si B. “Ikah peugah nyoe-peugah jeh, meu aneuk keuh tan. Pat nyang ka hebat keuh that?,” Ketika si A mengucapkan kalimat itu, si C dan si D melintas. Kebetulan si C tidak punya anak. Ia merasa tersindir–walau si A tidak bermaksud menyindirnya– dan kemudian marah-marah sembari menambahkan bumbu. “Si A telah melecehkan semua pasangan mandul di dunia. Ia telah menghina martabat manusia. Menghina ciptaan Tuhan,” ucap si C.

Si D, yang jauh-jauh hari memang tidak menyukai si A, pun mengambil kesempatan. Ia pun mulai menyusun kalam ” Si A tidak pantas dipilih sebagai Geuchik, karena ia hana utak, hana adab, meu ekbus serta hana layak dijak pimpin manusia. Ini penistaan terhadap Tuhan.”

Si E yang kebetulan ikut mencalonkan diri sebagai geuchik, pun memanfaatkan isu itu dengan kalimat “Sungguh sangat saya sayangkan. Kalimat itu sungguh tidak pantas. Zalim sekali kalimat yang demikian. Sungguh hati saya trenyuh mendengar kata-kata yang demikian.”

Awalnya hanya dakwa-dakwi kecil dua sahabat, pada ujungnya seakan-akan si A adalah Nazi, si B Yahudi yang terzalimi oleh si A, si C pendakwah, si D penjaga moral dan si E orang tua yang orang tua yang bijak.

***
Anggap saja saya bersimpati kepada Irwandi. Anggap saja saya familinya Irwandi. Atau tuduh saja saya adalah timses Irwandi atau jongos Irwandi atau apalah. Terserah Anda. Konon juga bahwa Anda pula telah menuduh media yang saya pimpin adalah corong Irwandi dan anti kepada Apa Karia. Tuduh saja demikian, toh tidak semua pembaca bisa Anda tipu.

Namun satu hal yang ingin saya sampaikan, menghiperbola sesuatu di luar konteknya, tidak akan menjadikan Anda naik kelas. Menyeret-nyeret sesuatu yang di luar Anda, dan kemudian mencitrakan bahwa Irwandi ikut menghina Anda, hanya akan melahirkan ketidakstabilan jiwa. Baper, tidak pernah membuat seseorang menjadi besar. Bila Anda bukan bagian dari timses, maka berhentilah menjadi orang yang seolah-olah selalu berhujjah tentang nilai kebenaran, namun selalu out of contect dengan kebenaran itu sendiri. Akan tetapi, bila Anda adalah bagian dari timses, tak mengapa bila merasa ikut terzalimi. Itu hak Anda.

Satu lagi, bila Anda beranggapan bila Irwandi adalah seseorang yang sangat jahat, Anda telah salah. Irwandi bukan hanya bisa memaafkan orang yang memfitnah dirinya. Bahkan teungku Agam bisa memaafkan orang yang nyata-nyata ingin menghabisi dirinya di Pilkada 2012. Apakah Anda sudah mencapai maqam yang demikian? Akhirnya, tak ada gading yang tak retak. []

KOMENTAR FACEBOOK