Bireuen, Kota Tanpa Sastra

Bireuen adalah kota yang tegang. Minim cinta dan selalu saja memancar aura garang. Mudah meletup dan kerap menjadi pusat tindak lanjut dari perwujudan niat busuk. Sejarah sudah mencatat, tiap kali rencana besar hendak dilakukan, Kota yang penuh romantisme revolusi republiken ini, selalu menjadi starting point letupan. Setidaknya, dalam masa kontemporer, segala prahara besar dimulai dari sini, yang aktor dan produsernya adalah tetangga.

Daerah yang dijuluki Kota Juang oleh Bustanil Arifin–karena peranannya di masa mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia– adalah kota yang sepi dari riak sastra. Di sini, kata dan sastra seakan terpaut pada jurang yang berbeda. Bilapun bibit penulis sastra pernah dan terus tumbuh, namun acapkali mati sebelum berkembang, atau pula failed setelah sekian lama mencoba bertahan.

Ah, keseringan sastrawan di sini, mati sebelum berkembang. Mereka terkungkung setelah habis terang gelap pun tak kunjung pergi. Ia abadi dalam ketidakpedulian.

Di sini, dongeng dibangun secara paksa dengan meminimalkan cinta. Kisah Sultan Jeumpa dikarang seadanya dan penuh tipuan belaka. Kota ini, diklaim pernah menjadi sebagai ibukota RI saat agresi Belanda II. Semua kisah itu dikarang secara kasar dan dipaksa ditelan mentah-mentah oleh generasi muda yang buta sejarah. Ah, untuk berbohong saja, harus sembari marah-marah.

Selebihnya, Kota ini merangkak tanpa sastra. Dan hanya diisi dengan ocehan propaganda yang minim data. Kata adalah senjata hanya dihargai lima tahun sekali, dengan harga yang sangat murah. Bahkan lebih murah dari harga terasi. Bayangkan, untuk sebuah kabar bohong yang disebut berita, hanya dibayar 50.000 saja. Padahal harga diri harganya tak pernah terjangkau angka.

Seseorang pernah berkata, seharusnya di tengah derita, sastra tumbuh subur untuk melawan ketidakidealan. Puisi progresif semacam karya Widji Tukul, atau cerpen selayak Pram bisa tumbuh subur di sini. Orang-orang lapar seyogyanya harus melawan.

Orang itu lupa, Bireuen Kota yang aneh. Elit mahasiswanya kerap kali berubah menjadi borjuis kecil, bila sudah dekat dengan penguasa. Bahkan mulut dan telunjuk mereka bisa lebih berbahaya dibanding baron bengis di Mexico kala zaman dulu. Mereka tak sungkan menjadi bulldog yang menuding tanpa data.

Secara kimiawi, di mana ada kampus, di situ sastra bertumbuh. Sastra lahir dari rahim yang menderita. Ia takkan sempurna lahir dari mereka yang sudah mencapai titik nyaman tingkat maha. Karena biasanya, pada tahapan yang demikian, otak sudah beku. Ia akan terlelap sempurna. Namun, segala teori itu bubar di sini, sepertinya tanah ini mendapat kutukan dari masa lampau. Ah, terlalu dramatis bila cerita itu diungkapkan.

Kota ini pernah punya Nazar Djeumpa. Seorang cerpenis berkelas yang tidak dikenali oleh pegawai negeri di Dinas P&K. Seorang perawi terbaik era millenium ketiga yang bekerja serabutan di tengah pasar kota. Seorang alumnus universitas swasta yang berbakat. Segala cerpennya kerap menghiasi ruang budaya media mainstream.

Namun, hingga nyawa berpisah dari badan karena serangan jantung, sang sastrawan tak pernah dikenal oleh penguasa dan abdi dalemnya. Puih! Ternyata para penikmat berita penuh sensasi nan osani –olah sana olah sini– itu tak punya kemauan membaca tulisan yang berkualitas. Pantas saja mereka tak tahan kritik dan kerap memaki melalui akun palsu media sosial.

Nazar Djeumpa saja tak dikenali. Saya pun ragu bila mereka mengenali Teuku Hamid Azwar, perwira militer asal Samalanga yang menulis tiga novel revolusi di usia senja. Bahkan saya tak percaya bila mereka mengenal Cut Nyak Manyak yang menulis belasan puisi tentang perjuangan dan kemerdekaan.

Satu lagi, saya haqqul yakin, mereka tak pernah tahu bahwa Nur Djuli adalah penerjemah novel Eropa ke dalam Bahasa Melayu Malaysia, kala bekerja di Kedubes Prancis.

Tanpa sastra, Bireuen bukan kota yang berkata-kata. Tanpa sastra, Bireuen mengalami kelumpuhan cinta. Tanpa sastra, kita merangkak mati dalam sepi yang tidak bermakna. Karena sastra adalah jiwa. Karena sastra adalah cinta yang bercahaya. Tanpa sastra kita menjadi buta. []

Sumber foto: internet.

KOMENTAR FACEBOOK