Tipologi Pemuda Aceh

Jika Mochtar Lubis memilah manusia Indonesia berdasarkan karakteristiknya yang hampir semuanya bernuansa negatif , maka pada bagian ini penulis menyodorkan tipologi pemuda Aceh berdasarkan karakteristik masing-masing dengan labelling lokal. Tipologi di sini berdasarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas sehari-hari pemuda di beberapa tempat di Aceh, mencakup kawasan pedesaan dan perkotaan. Tipologi pemuda di sini berdasarkan tipe, bukan sifat.

Tipologi berdasarkan tipe adalah tampilan seseorang yang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti lingkungan sosial, pengetahuan dan sebagainya. Tipologi menurut tipe tentu saja berpeluang terjadi perubahan. Seseorang yang pada tahun ini berada pada tipologi “pemuda bom atom”, misalnya, memiliki peluang beralih menjadi “pemuda gigeh” dan seterusnya. Sementara tipologi berdasarkan sifat memiliki sifat menetap, permanen dan mengandung faktor biologis yang tentu saja terlalu sulit untuk mengubahnya.

Dari hasil observasi, wacana melalui media sosial serta wawancara dengan beberapa pemuda, penulis menyimpulkan pemuda Aceh dalam beberapa tipologi berikut:

1. Pemuda Gigeh
“Gigeh” bermakna gigih, ulet dan kreatif. Pemuda golongan ini memiliki ciri-ciri sangat aktif, optimis, tidak suka mengeluh dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan sehingga nyaris tidak ada waktu yang terbuang. Pemuda gigeh selalu tampil dalam setiap acara, berani memperkenalkan diri dan duduk di bangku depan agar menonjol.

Pemuda gigeh tetap menjaga pergaulan. Di tengah kesibukannya dia memiliki waktu luang untuk ngobrol bareng kawan-kawan sambil ngopi. Dia mampu mengatur waktu dengan baik termasuk dalam urusan ibadah. Pemuda tipe ini memiliki semangat juang tinggi, bahkan menyakini sanggup mengubah besi tua menjadi emas.

Jika dia seorang mahasiswa, maka dia selalu hadir tepat waktu, duduk di bangku depan agar dikenal oleh dosen, selalu bertanya atau memberi pendapat, mengerjakan tugas sebelum deadline dan mengisi waktu luang di perpustakaan, bekerja sampingan atau kegiatan-kegiatan extra kurukuler lainnya.

Pemuda tipe gigeh biasanya meraih kesuksesan dalam usia relatif muda, antara 25-35 tahun. Secara alamiah mereka mampu memilah fase kehidupan. Usia kanak-kanak (di bawah 10 tahun) secara alami digunakan untuk bermain sambil belajar mengamati lingkungan. Usia 10-20 tahun sudah mulai mencari identitas (jati diri) sehingga aktivitasnya mulai terarah dan memiliki cita-cita yang jelas. Usia 20-30 merupakan masa pemantapan jati diri dan menjadi fase awal kesuksesan. Selanjutnya pada usia di atas 30 tahun pemuda tipe ini sudah mapan, berjaya dan menikmati hasil perjuangan gigehnya.

2. Pemuda Teupat

“Teupat” bermakna lurus atau lugu. Kata teupat biasa digunakan oleh orangtua masa lampau di kampung-kampung untuk menunjukkan pada anak yang patuh dan tidak banyak ulah. Ciri utama pemuda teupat adalah selalu berjalan atas rel, tidak mau melanggar aturan walau tanpa sanksi atau pengawas.

Pemuda teupat memili hobby membaca, agak pendiam dan cenderung memilih teman sealiran dalam pergaulan. Kalau diminta, mereka mampu berbicara secara sistematis dan penuh referensi. Mereka kerap menghabiskan waktu luang di perpustakaan atau tempat-tempat kajian ilmiah. Pria tipe ini tidak mudah menyalahkan pendapat orang lain dan cenderung menghindar jika berhadapan dengan “orang tapi ngotot”.

3. Pemuda Peh Tem

“Peh tem” adalah kosa Aceh yang bermakna memukul kaleng sehingga mengeluarkan suara nyaring. Sebutan peh tem sering diberikan kepada orang yang banyak membual. Ciri utama pemuda peh tem adalah mengira diri pintar, mengira kebenaran hanya satu, menampik peluang kebenaran ganda, fanatik dan suka menyalahkan orang lain.

Ciri lainnya adalah patuh dan menuruti petuah guru atau orang yang diidolakan. Pemuda kategori peh tem nyaris tidak mau berimprovisasi terhadap sesuatu yang baru sebelum ada petuah dari idolanya. Terkadang ada beberapa diantara mereka mengarah pada sikap fanatik berlebihan kepada idolanya, karenanya tidak jarang ketika menerima berita yang sesuai dengan hayalannya langsung disebarluaskan tanpa mau memastikan kebenarannya.

4. Pemuda Boh Leupieng

“Boh leupieng” adalah kata dalam Bahasa Aceh yang bermakna buah kelapa yang telah digigit oleh tupai. Dari penglihatan sekilas dari jauh, boh leupieng tampak utuh, tapi kalau diperhatikan dari dekat akan terlihat lobang bekas gigitan tupai. Boh leupieng masih memiliki daging kelapa di dalamnya tapi orang-orang tidak mau memakannya karena telah dilobangi oleh tupai untuk mengambil airnya.

Pemuda boh leupieng memiliki ciri penampilan parlente tapi isi dompet sering kosong. Penampilan ditambah omongan yang tinggi hanyalah fatamorgana dalam mengelabui lawan bicara. Seseorang akan terpesona pada pertemuan pertama, mulai memudar pada pertemuan kedua dan akhirnya tidak lagi terpesona pada pertemuan berikutnya. Kaum perempuan kerap menjadi sasaran korban fatamorgana pemuda boh leupieng sehingga banyak yang terngiang-ngiang pada awalnya dan berakhir kecewa.

5. Pemuda Uem Bruek Teu-ot

“Uem bruek teu-ot” adalah kosa kata Aceh yang bermakna memeluk batok lutut. Julukan uem bruek teu-ot ditujukan kepada kepribadian yang malas, tidak ada inisiatif serta banyak alasan untuk menghindari pekerjaan. Di kampung-kampung pemuda uem bruek teu-ot banyak menghabiskan waktu di meunasah, balai desa atau pos jaga.

Pemuda golongan ini tidak memiliki pekerjaan yang menghasilkan secara finansial, membebani orangtua dan nyaris tidak ada penambahan teman baru. Ketika ada orang yang memotivasinya untuk bekerja pemuda tipe uem bruek teu-ot akan mencari-cari alasan sembari menunjuk contoh orang-orang yang pernah mengalami kegagalan sebagai bantahan.

Pada sisi lain pemuda tipe ini sangat senang ketika bantuan uang tunai, ditraktir makan, minum, rokok dari orang-orang yang sudah sukses.

6. Pemuda mumang

“Mumang” adalah kata dalam bahasa Aceh yang bermakna pusing, berdekatan maknanya dengan galau. Ciri utama pemuda tipe ini adalah bicaranya sering ngawur, terkadang tidak memahami substansi yang dibicarakan tetapi tetap percaya diri dengan omongannya, seakan dirinyalah yang paling benar.

Pemuda tipologi mumang kebanyakan adalah mereka pengguna narkoba, mantan pengguna narkoba, atau perokok berat tapi tanpa penghasilan tetap. Terkadang, ketiadaan penghasilan di tengah tingginya kebutuhan ikut menyebabkan mereka pada gangguan/kelainan kejiwaan, bahkan gila.

7. Pemuda Warung Kopi

Aceh terkenal sebagai daerah sejuta warung kopi (warkop). Semua lelaki Aceh pasti pernah bersentuhan dengan warkop. Rasanya belum gaul anak Aceh kalau tidak memiliki warkop langganan. Pemuda tipologi warkop memiliki ciri menjadikan warkop sebagai “mitra sejati”, bahkan ada yang level “isteri”.

Pemuda warkop dapat dipilah dalam dua golongan. Pertama, pemuda yang menjadikan warkop sekedar tempat bertemu dengan rekan sepergaulan, mitra politik atau bisnis. Banyak dari mereka bukan penggemar kopi tapi setiap hari ke warkop. Golongan ini biasanya hanya sejenak di warkop, bisa pada pagi sebelum masuk kerja atau sore setelah pulang kerja sambil ngopi bersama dan saling bertukar informasi kondisi terkini.

Pemuda warkop kelompok ini kebanyakan adalah dari kalangan mapan, terdidik dan memiliki pekerjaan tetap. Keberadaan mereka di warkop hanya sekedar untuk bercengkrama dalam meluruskan urat-urat saraf. Pertemuan para pemuda mapan ini di warkop dapat melahirkan ide dan kreasi baru.

Kedua, terdapat sekelompok pemuda yang beraktivitas sepanjang hari di warkop. Mereka memosisikan warkop ibarat kantor untuk mengerjakan berbagai tugas sambil browsing, membuat laporan berita, mengerjakan job orderan yang semuanya menghasilkan uang. Tak jarang diantara mereka yang mampu menyelesaikan tugas akhir kampus, seperti skripsi, tesis, disertasi hingga buku. Bagi mereka warkop adalah tempat menyenangkan sambil mencari uang.

8. Pemuda Bom Atom

Istilah “bom atom” dalam konteks pemuda yang menghabiskan waktu pagi, siang hingga larut malam di warung kopi pertama sekali dimunculkan oleh Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA, pada 22 Maret 2016. Keberadaan warkop yang menampung anak muda 24 jam untuk begadang dianggap sebagai ancaman bagi masa depan Aceh, melebihi bahaya bom atom di Jepang dalam Perang Dunia II. Farid Wajdi sangat khawatir keberadaan anak muda yang menjadikan warung sebagai rumahnya akan menimbulkan gejolak sosial suatu saat nanti.

Ciri anak muda golongan ini adalah menghabiskan waktu dari pagi, siang hingga malam di warkop yang menyediakan fasilitas wifi. Mereka rata-rata memiliki laptop dan HP android untuk menjalankan aktifitas kehidupan di dunia maya. Mereka juga umumnya perokok, penampilan acak-acakan dan dompet sering tipis. Kehidupan mereka seperti musang, banyak bermunculan menjelang petang hingga larut malam. Keberadaan mereka di warung kopi umumnya adalah main game online, chating, nonton film dan mencari hiburan lainnya. []

KOMENTAR FACEBOOK