Safari Ketua Menjelang Hari H

Telepon genggam aceHTrend berdering. Jarum jam masih menunjukkan angka 09.00 WIB. Terlalu pagi untuk memulai aktivitas bagi orang yang memulai “malam” pasca subuh.

“Jikalau ada waktu serta raga sedang fit, boleh menyertai saya. Hari ini saya akan keliling ke wilayah barat Bireuen untuk melihat persiapan Pilkada yang dihelat besok pagi, 15 Februari 2017,” kata suara dari seberang telepon.

“Siap! Satu jam lagi insya Allah saya tiba ke warkop itu. Tunggu saja,” timpal aceHTrend.

***
Lelaki berbaju kemeja putih bermotif warna warni halus–nyaris tak terlihat dari jauh– duduk sembari menikmati segelas sanger arabica. Begitu ia melihat aceHTrend tiba, lelaki itu segera tersenyum dan mempersilahkan duduk.

“Sebentar lagi kita ke TPS Cot Gapu. Di sana sudah ada Kapolres Bireuen dan Dandim. Santai saja dulu, silahkan dinikmati minumannya seenjoy mungkin,” ujarnya.

Lelaki itu adalah Mukhtaruddin, SH,MH, Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Bireuen. Lelaki yang sudah menjadi komisioner di KPU Bireuen kala konflik mendera Aceh, dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul, humanis dan rendah hati.

Hari ini, Selasa (14/2/2017) handphone Nokia berles merah di genggamannya tidak punya waktu berdiam lebih dari lima menit. Ada saja pihak yang menelpon. Baik dari keluarga, petugas pilkada hingga aparat keamanan. Bila bukan panggilan masuk ya telepon keluar.

Setengah jam kemudian kami pun beranjak menuju Kecamatan Juli. Tiba di kantor camat, kami disambut oleh PPK Juli di bawah komando Razi Irawan, A.Md dan aparat kepolisian dari sektor setempat.

Sembari berdiri, Mukhtaruddin menanyakan perkembangan kepada PPK. Ia juga berdiskusi dengan Kapolsek, terkait dengan pengamanan dan lainnya. Ia nampak serius, pun demikian masih sempat ia mengeluarkan joke- joke yang membuat hadirin tertawa.

Setengah jam di Juli, kami pun memutar haluan. Mobil CRV yang ia kendarai meluncur mulus di aspal hitam yang melenggak-lenggok mengikuti kontur alam. Tak sampai 15 menit kami pun tiba di TPS Cot Gapu. Di sini, Selain Kapolres Bireuen Heru Novianti, Dandim Bireuen Adekson. Juga hadir perwira dari Polda Aceh.

Mukhtar kemudian berkeliling TPS sembari beramah tamah dengan petugas KPPS yang sedang menyiapkan tempat pemungutan suara. Puas berbincang-bincang dengan penyelenggara kelas akar rumput, ia berbalik dan berbicara dengan Kapolres, Dandim dan sejumlah pihak lainnya.

***
Bakda Dhuhur, kami bergerak ke barat Bireuen. Sembari menyetir ia memandang sekeliling. Di tiap kantor camat ia berhenti sejenak. Ia memastikan tiap spanduk sosialisasi terpasang dengan baik. Bila ada yang kurang beres, ia segera menelpon Ketua PPK.

“Segera dirapikan. Spanduk jangan menumpuk di satu tempat. Pasang di tempat strategis dan bisa dilihat oleh banyak orang,” kata Mukhtaruddin kepada lawan bicaranya di seberang telepon.

Satu persatu kecamatan kami lalui. Lagu balada yang dinyanyikan oleh Doel Sumbang terus merentak di tengah laju ban mobil. Lagunya cukup lawas karena sudah sangat lama sekali.

Di Samalanga, Mukhtaruddin menjumpai sejumlah pihak. Termasuk juga mengunjungi TPS yang ada. Di Gampong Namploh Papeun ia sempat menyidak persiapan akhir. Ketua PPS yang tidak mengenali Ketua KIP Bireuen agak bingung ketika ditanya.

“Kamu kenal saya?,” Tanya Mukhtar.

“Tidak Pak. Tapi wajah Bapak tidak asing bagi saya,” jawab pemuda itu.

“Saya Mukhtaruddin, Ketua KIP Bireuen,” terang mantan Lurah Bandar Bireuen tersebut.

Begitu mengetahui siapa yang sedang berbincang dengannya, lelaki itu semakin semangat menjelaskan terkait persiapan.

“Jangan lupa, semua petugas KPPS diambil sumpah. Ingat, pembacaan sumpah bagian wajib yang harus dilaksanakan. Kalau tidak, proses pemungutan suara tidak sah dan bisa digugat oleh saksi,” kata Mukhtaruddin menjelaskan urgensi sumpah untuk panitia pemungutan suara.

Merasa cukup, kemudian kami kembali mengaspal. Kali ini yang dituju adalah Wahyu dkk, yang merupakan PPK Samalanga. Lelaki hitam manis itu memberikan laporan hasil kinerja lapangan hari ini.

“Semua logistik sudah kami antar. Kondisi aman terkendali. Bantuan dari unsur keamanan mempermudah gerak pengangkutan logistik,” lapor Wahyu.

Dari curi-curi dengar pembicaraan intel dan aparat keamanan, Samalanga merupakan kawasan yang menjurus panas. Pada Selasa malam, sejumlah tim pemenangan bergerak dengan misi mading-masing. Sempat terjadi bentrok. Namun bisa didamaikan. Serangan ija krong (pembagian kain sarung bermerek paslon-red) dan bagi-bagi uang menjadi bahagian lain, betapa semua tim pemenangan tak mengenal minggu tenang.

“Tadi malam kami tak sempat tidur. Usai menengahi ribut di lomadi A, eh ribut pula di lokasi B,” ujar seorang aparat yang berpakaian sipil.

***
Ketika kami tiba di Kota Bireuen, jarum jam sudah menunjukkan angka 19.50 WIB. Handphone sang ketua tak kunjung diam. Berbagai pihak menelpon dirinya. Mulai dari persoalan kecil hingga hal-hal besar menurut kadar masing-mading pengadu.

“Alhamdulillah, insya Allah pemungutan suara tanpa kendala,” katanya kepada aceHTrend. []

KOMENTAR FACEBOOK