Kala Sulthan Ditipu Menteri

Sulthan yang telah sekian lama cuti dari singgasana, kini telah kembali. Untuk menandai sang gagah perkasa telah menginjakkan kaki kembali ke mahligai, dibuatlah sebuah perjamuan. Segenap menteri dan kurcaci lapangan, dikumpulkan dalam sebuah majelis makan minum penuh dengan makanan dan minuman serba wah. Mereka, selalu terpingkal-pingkal seirama kala sang Sulthan membicarakan sesuatu.

Malam ini, Sulthan sangat bahagia. Ia kembali bertapak–sekalian makan, minum dan berak– di istana yang selama ia bermuhibah politik jelang suksesi sulthan lima tahunan, diduduki oleh Sulthan Ubit yang selalu mencintai tanah airnya penuh takzim.

“Bagaimana laporan perkembangan dari Kementerian Sosial?,” tanya Sulthan penyuka warna purple.

“Ampun Paduka beribu ampun. Titah paduka sudah Hamba tunaikan. Segenap selimut dan sarung dari Balai Kepanikan Mendadak sudah Hamba bagikan kepada segenap jelata. Tentu dengan mengatakan bahwa kain itu sumbangan pribadi Paduka. Bukan dari Mal Negeri,” jawab Menteri Sosial sembari bersimpuh.

“Dari Kementerian Pendidikan?,” tanya Suthan buta literasi itu.

“Ampun beribu ampun wahai junjungan. Kiranya tiap jiwa di balai-balai pencerdasan rakyat, sudah hamba imbau untuk memilih Tuan. Karena Tuan adalah sosok sulthan yang rendah hati, peduli pendidikan juga alim akan ilmu agama,” jawab Menteri Pendidikan.

Sulthan nampak puas. Ia manggut-manggut. Tak ada satu laporan pun yang membuat ia gundah gulana. Apalagi para kurcaci menambah kemanisan cerita dengan kabar yang dikarang-karang.

***

Sulthan menggebrak meja. Dari perolehan suara pemilihan sulthan negeri, ia tak masuk tiga besar. Sang gagah perkasa murka. Ia tak percaya dirinya kalah dengan angka yang tak beretika. Apa kekurangan dirinya? Padahal segenap usaha sudah diupayakan. Segala fasilitas telah ia berikan. Bahkan, para kurcaci yang sebelumnya tak pernah merasakan nikmatnya tidur di atas alga, berkat dirinya, telah pun berbulan-bulan hidup tanpa beban di dalam istana peristirahatannya di dekat telaga.

Apa pula yang selama ini mereka lakukan? Apakah mereka hanya makan minum dan berak saja di rumahnya. Apakah mereka tak bekerja? Ataukah tampang-tampang mereka tidak disukai jelata? Sang sulthan menatap satu persatu para kurcaci yang menunduk. Ingin rasanya ia menendang bokong satu persatu dari mereka. Namun urung ia lakukan untuk menjaga citra.

“Matikan semua telepon pintar kalian. Jangan ada yang memperkeruh suasana. Mulai saat ini tidak ada lagi makanan di istana ini. Kembalilah ke asalmu, dasar kepala ubi dimakan tikus!” Bentaknya sembari melempar buah gadung ke sudut mahligai.

Ia menekan tuts handphone. Satu persatu ia menelpon para menteri. Lima orang tak mengangkat. Tiga mengangkat telepon tapi bicara alakadar. Empat lainnya malah mengalihkan telepon.

Sulthan dilanda sepi. Ia benar-benar sendiri. Hanya para kurcaci yang masih terlihat di sana. Itupun hanya sebentar lagi. Karena mereka sedang bersiap keluar dari istana, dengan segala kedongkolan hati. Bahkan tidak sedikit yang galau, karena tiba-tiba harus miskin kembali. Padahal baru berbilang minggu mereka bak orang kaya. Bahkan kepongahan mereka setara Donald Trump yang kaya raya.

***
Kini ia tanpa gelar. Sepi pujian dan selalu diiringi sumpah serapah. Tubuhnya terkurung jeruji besi sempit yang dikawal oleh bentara berbaju coklat dan bertombak.

Ia duduk sembari meratap. Sesekali menjambak rambutnya yang tersisa tak seberapa. Terkadang ia berdiri sembari berbicara tenang. Seakan-akan sedang diwawancara oleh wartawan. Kadang ia memasang gaya bak fotomodel.

***
“Lelaki itu tahanan KPK. Dititipkan ke sini, karena mengalami gangguan jiwa. Ia mantan Sulthan Negeri Champa, yang tiran dan korup kala berkuasa,” terang dr. Makhtar Top, kepala RSJ, yang dulunya Menteri Kesehatan yang sangat dipercaya oleh sulthan.

Nun puluhan kilometer dari RSJ, belasan menteri sedang berusaha menipu sulthan yang baru. Dengan bermanis muka mereka hendak mengajak sulthan untuk curang.

“Sudahlah wahai Baginda. Cairkan saja program rehabilitasi tambak. Di sana kan ada juga tambak Paduka dan tambak saya. Tenang, takkan ada yang tahu,” kata Menteri Sosial, yang terkenal pintar bersilat lidah itu.

“Sultan baru itu, manggut. Sejenak kemudian tersenyum. []

Foto sekedar ilustrasi
Dan dikutip dari Gulalives.

KOMENTAR FACEBOOK