Kesatria di Pilkada 2017

ACEHTREND.CO, Bireuen – Pemenang di Pilkada bukan hanya calon yang memperoleh suara lebih banyak dari calon lainnya.

Calon lainnya juga pantas disebut pemenang bila secara kesatria memberi jalan bagi yang menang untuk menjalankan mandat rakyat.

Sebab, di atas dua pemenang itu, ada yang sejatinya menjadi pemenang, yaitu rakyat itu sendiri. Melalui mandat yang diterima melalui Pilkada itulah rakyat menanti piala kemenangannya yaitu negeri yang lebih baik bagi usaha semua untuk memperbaiki kehidupan.

Itulah sebabnya dibutuhkan kesatria-kesatria yang mampu rendah hati dan besar hati. Bagi yang menang, sudah semestinya tetap rendah hati, sehingga tidak menambah luka hati bagi yang kalah. Inilah sikap kesatria.

Sebaliknya, bagi yang kalah, dengan sikap iklas hati juga bisa menerima dengan lapang dada kemenangan pihak lawan. Ini juga sikap kesatria.

Jika dua sikap kesatria ini berkumpul maka jalan lebih mudah untuk membuktikan kemenangan rakyat dapat makin bisa dicapai.

Jika kita kembali mengenang pidato menyambut MoU Helsinki dahulu, inilah wujud demokrasi sejati yang dimaksudkan, dimana rakyat secara bebas dapat menentukan siapa yang diinginkannya sebagai pelayan rakyat atau pemimpin pemerintahan yang melayani rakyat dan membaguskan negeri.

Dalam pidato yang disampaikan Malik Mahmud yang kini menjadi Wali Nanggroe Aceh itu, juga ditegaskan bahwa masa lalu sudah ditempatkan di belakang sebab kini tugas semua menjemput masa hadapan yang lebih baik.

Sikap kesatria sebagai prasyarat sangat dibutuhkan, meski diakui bukan hal mudah untuk dilakukan, dan itu sudah ada contohnya. Misalnya, kerelaan Illiza (Banda Aceh) dan Agus Harimurti (DKI) menerima kekalahan mereka. Apakah di Aceh kesatria itu cuma dari “Cut Nyak Dien” masa kini bernama Illiza? Tentu saja tidak! []

KOMENTAR FACEBOOK