Tu Sop dan Haji Saifan dalam Timbangan Hasil Pilkada 2017, Berpengaruhkah Politik Uang?

HASIL perhitungan bebas saat ini menempatkan pasangan calon (paslon) H. Saifannur, S. Sos dan DR. H. Muzakkar A Dani, SH, M. Si sebagai pemenang. Sementara paslon H. M. Yusuf Abdul Wahab dan dr. Purnama Setia Budi, Sp. OG berada diperingkat kedua.

Dari hail entry data di Portal KPU, perolehan suara paslon nomor urut 6 ada di angka 35,08 person, sedangkan suara paslon nomor urut 3 ada di angka 28,61 person. Keduanya menghasilkan selisih di angka 6,47 person.

Mengapa paslon nomor urut 6 bisa meraih kemenangan? Apakah politik uang menjadi penyebab kekalahan paslon nomor urut 3. Mari kita simak peta politik dan peta perolehan suara berikut.

Sebelumnya, mari kita melakukan kilas balik sejenak. Di luar calon petahana, banyak orang memprediksi bahwa dua paslon yang menjadi petarung kuat adalah Tu Sop dan Haji Saifan. Setidaknya, prediksi itu pernah disampaikan oleh tokoh pemuda Bireuen, Zulfikar Muhammad.

Menurutnya hanya ada dua tokoh dari dua bakal calon bupati Bireuen yang memiliki peluang besar untuk menang, yaitu Tu Sop melalui jalur independen dan Haji Saifan dari jalur partai politik.

Prediksi pada Agustus 2016 itu terbukti. Dari data suara hari ini, keduanya berada di atas 4 paslon lainnya.

Memang, pernah ada survey yang menyatakan bahwa Tu Sop berpotensi besar untuk memenangkan Pilkada Bireuen 2017. Namun, survey itu dilakukan ketika Haji Saifan tidak ada dalam daftar paslon yang diumumkan KIP Bireuen akibat H. Saifan terganjal masalah kesehatan.

Paska kembalinya H. Saifannur dan Muzakkar A Gani setelah ditetapkan oleh KIP Bireuen dengan nomor urut 6 peta potensi pemenang menjadi kabur. Tidak ada lagi survey yang hasilnya memprediksi Tu Sop bakal keluar sebagai pemenang.

Meski begitu, dari perbincangan bebas, kedua paslon ini, diluar paslon petahana masih tetap sebagai paslon kuat, dan keduanya diperkirakan sebagai kompetitor yang hebat.

Pertanyaannya, apa yang membuat Haji Saifan unggul dari sisi perolehan suara?

Pertama, ini pertarungan dua spirit berbeda, spirit arus kebaikan versus spirit melawan penzaliman. Tim Tu Sop tampil dengan spirit arus kebaikan, sedangkan Tim Haji Saifan tampil dengan spirit sebagai paslon yang dizalimi.

Bagi paslon nomor urut 6, klaim sakit yang dijatuhkan kepada H. Saifan ditafsir sebagai wujud penzaliman agar H. Saifan terganjal sejak dini di Pilkada 2017.

Dan, perlawanan total yang dilakukan oleh H. Saifan melalui jalur hukum dibalas oleh tim dan pendukungnya untuk meraih kemenangan di Pilkada 2017. Hampir disemua pendukung Haji Saifan punya tekad yang besar untuk berjuang secara total sebagaimana yang sudah ditunjukkan oleh H. Saifan di jalur hukum.

Harus diakui, secara psikologis, spirit melawan penzaliman ini lebih kuat membangun motivasi untuk meraih kemenangan dibanding dengan spirit arus kebaikan. Banyak sekali kemenangan-kemenangan politik yang diraih oleh paslon yang oleh masyarakat diposisikan sebagai paslon terzalimi.

Kedua, mari kita perhatikan peta perolehan suara kedua paslon ini, dan peta suara ini membuktikan bahwa politik uang tidak berkerja di hari H Pilkada Bireuen 2017, yaitu tanggal 15 Februari 2017. Apa buktinya?

Kalau wilayah pemilihan kita bagi dalam 3 wilayah, maka ada wilayah timur, wilayah tengah, dan wilayah barat. Wilayah timur adalah tempat tinggalnya H. Saifan, sedangkan Tu Sop tinggal di wilayah barat. Sedangkan wilayah tengah menjadi wilayah “pertempuran” bersama, dan siapa saja yang dapat menang maksimal di Kota Juang akan menentukan akhir Pilkada Bireuen 2017.

Pertanyaannya, wajarkah jika calon bupati menang di wilayahnya sendiri? Secara jujur kita harus mengatakan wajar dan sudah seharusnya menang. Dan itu dibuktikan oleh keduanya, Tu Sop dan Haji Saifan. Tu Sop berhasil menang di wilayah barat, sebagai orang setempat, dan Haji Saifan menang di wilayah timur sebagai orang setempat.

Tu Sop menang besar di Jeunib, daerah utamanya, hingga 59,7 persen. Di daerah ini paslon FAKAR tidak berdaya, hanya 2,5 persen. Ini kekalahan telak di 43 TPS yang ada di Jeunib.

Sebaliknya, Tu Sop kalah di daerah dimana Haji Saifan tinggal, yaitu Peusangan. Haji Saifan meraih suara 49, 9 persen. Sedangkan Tu Sop meraih suara 17,4 persen. Jika dibanding dengan perolehan Haji Saifan di gampong Tu Sop, Jeunib, maka suara Tu Sop di Peusangan lebih hebat. Masalahnya bagi Tu Sop hanya soal jumlah pemilih. Di Peusangan ada 82 TPS sedangkan di Jeunib hanya 43 TPS. Ini satu point penting dan kunci kemenangan paslon nomor urut 6.

Begitu juga pertarungan di daerah tempat Haji Saifan lahir, Peusangan Siblah Krueng. Haji Saifan menang banyak, hingga 61,3 persen, sedangkan Tu Sop di angka 15, 6 persen.

Sekarang mari kita periksa di daerah barat lainnya yaitu Pandrah, Peudada, Peulimbang, Samalanga, dan Simpang Mamplam. Di lima daerah ini semuanya dimenangkan oleh paslon nomor urut 3.

Sekarang mari kita periksa beberapa daerah di wilayah timur, selain Peusangan dan Peusangan Siblah Krueng, seperti Gandapura, Jangka, Kuta Blang, Makmur, dan Peusangan Selatan. Di lima daerah ini juga menang Haji Saifan.

Dari peta perolehan suara itu, keduanya adalah tokoh yang berpengaruh di wilayahnya masing-masing. Tu Sop berpengaruh di wilayah barat, wilayahnya sendiri, dan Haji Saifan berpengaruh di wilayahnya sendiri, wilayah timur. Sekali lagi, calon bupati yang menang di daerah sendiri sangat wajar.

Ketiga, mari kita periksa peta perolehan suara di wilayah tengah. Di sini ada Kuala, Juli, Jeumpa, dan daerah kunci Kota Juang. Kota Juang kita sebut kunci karena ini pusat pemilih rasional atau pemilih kota. Pertarungan gagasan terjadi di sini, dan siapa yang menyuguhkan program praktis akan lebih diterima ketimbang program abstrak.

Di 26 TPS Kuala, Tu Sop dan Haji Saifan bersaing dan tidak menjadi peraup suara maksimal, meskipun Haji Saifan lebih banyak. Begitu juga di 53 TPS Jeumpa, keduanya juga bersaing meski suara Haji Saifan lebih banyak 8,6 persen. Begitu juga di Juli, kedunya juga memperoleh suara yang lebih dari empat paslon lainnya, meski Haji Saifan lebih banyak.

Pertarungan penentu ada di Kuta Juang. Di 57 TPS ini Haji Saifan mampu memenangkan lebih banyak, selisihnya hingga 15,7 persen. Pertanyaan politik uang sangat rasional kita lihat di daerah ini, karena ini adalah wilayah netral, bukan tempat tinggal Tu Sop dan juga Haji Saifan. Rasanya sangat muskil politik uang berpengaruh maksimal di Kota Juang. Lebih tepat, di Kota Juang yang terjadi adalah pertarungan politik gagasan, wujud program yang ditawarkan.

Jika dilihat dari program yang ditawarkan kedua paslon, maka program yang sifatnya praktis oleh paslon nomor urut 6 lebih diterima dari program yang dinilai lebih abstrak dari paslon nomor urut 3. Arus kebaikan yang ditawarkan Tu Sop belum disambut karena arus rezeki dari program ekonomi yang ditawarkan paslon nomor urut 6 lebih mengena. Dan sosok Haji Saifan sebagai saudagar dibantu oleh sosok Muzakkar sebagai birokrat lebih mengena dari sisi pengelolaan tata kelola pemerintahan.

Dari paparan fakta di atas, dengan tegas dikatakan bahwa politik uang, politik kekuasaan, dan politisasi agama tidak memberi pengaruh dalam pemberian suara oleh pemilih di hari H Pilkada. Sebaliknya, yang membuat pemilih memilih adalah sentimen kedaerahan, pemilih di wilayah barat memilih salah satu calon bupati dari barat, sebaliknya pemilih di wilayah timur memilih calon dari timur. Kenapa sentimen kedaerahan pemilih timur lebih kuat? Pertama, karena mereka lebih ramai pemilihnya dan putra dari Peusangan Raya juga belum pernah menjadi bupati Bireuen.

Sementara pemilih dengan sentimen perjuangan terbagi rata ke tiga paslon lainnya, yaitu Ruslan, Khalili dan Husaini. Sedangkan sentimen keagamaan terbagi ke dua calon, yaitu Tu Sop dan Ruslan yang didukung oleh Abu Tumin. Sayangnya, jumlah pemilih perempuan dalam Pilkada 2017 juga tidak lebih dari 50 persen yang ikut mencoblos, dan ini sangat mempengaruhi daya dorong suara Tu Sop untuk melaju ke puncak atas. Begitulah adanya!

KOMENTAR FACEBOOK