Tu Sop – Haji Saifan, dan Kisah Dipintu Surga

Pernah dengar cerita tiga orang di pintu surga? Begini alurnya. Di pintu surga ada ulama, pejuang dan dermawan. Ulama dan dermawan mempersilahkan pejuang untuk lebih dahulu masuk surga. Sebabnya, Allah menjanjika surga bagi pejuang yang syahid.

Tapi, pejuang tidak mau, dan mempersilahkan ulama untuk lebih dahulu masuk surga, alasannya tanpa ilmu pengetahuan dari ulama, ia tidak tahu arti sebuah perjuangan dan keutamaan syahid.

Begitu ulama melangkahkan kakinya, ia berhenti, dan mempersilahkan si dermawan untuk masuk lebih dahulu. Alasannya, berkat kedermawanan tempat kemaslahatan wujud, seperti mesjid, dayah, balai, panti dan lainnya. Berkat zakat, infaq, waqaf dan sadaqah dermawan pendidikan berjalan dan jihad bisa terlaksana.

***

Tu Sop sebagai ulama dengan gerakan arus kebaikannya telah membangun kesadaran masif pentingnya kebaikan dengan menghadirkan agama dalam kekuasaan agar kekuasaan tidak menjadi petaka.

Haji Saifan sebagai saudagar juga berpotensi menghadirkan arus rezeki bagi rakyat Bireuen melalui kegiatan pembangunan yang mendorong pertumbuhan ekonomi keluarga atau rumah tangga. Dan, ini juga bagian penting dari arus kebaikan yang didambakan dan dibenarkan.

Tentu, untuk mewujudkan keduanya membutuhkan kerja sama. Arus kebaikan membutuhkan dukungan kekuasaan, dan kekuasaan yang mendatangkan rezeki juga membutuhkan kebaikan-kebaikan. Pertemuan dua arus ini (kebaikan dan rezeki) adalah perjuangan tanpa henti.

Perjuangan tidak difinitif pada melawan penjajahan semata. Perjuangan juga kegiatan bersama tanpa henti dalam menghadapi penjajahan baru, seperti melawan kemiskinan struktural, melawan birokrasi yang lamban, melawan kultur yang mendominasi, termasuk melawan ketergantungan pada sumber ekonomi APBD.

***

Hanya saja, semua itu tidak bisa diwujudkan dalam mantra bin salabin, sebab butuh beragam proses yang terkadang tidak mudah, dan bisa jadi penuh kecewa. Tapi, ketika semua pihak bersatu dalam tiga tekat utama Bireuen sebagai kota juang, kota dagang dan kota santri maka arus kebaikan dan arus rezeki akan menjadi arus perjuangan baru semua rakyat Bireuen.

Tidak ada cara lain, selain semua pihak kembali move on paska hari pemilihan sebab tanpa itu, pintu-pintu bagi munculnya amarah akan terus terjadi, dan itu taruhannya sangat besar, rusaknya relasi sosial, benturan sosial, minimal perpecahan yang membangun blok-blok politik yang lama kelamaan makin tidak sehat dan rusaknya citra baik Bireuen.

Dan, dalam situasi ini, orang bermental “peng ateuh bareh peng” akan berkeliaran, dan mereka akan menegosiasikan data dan bukti menjadi rupiah, sementara publik Bireuen sendiri terjebak dalam perpecahan, minimal di dunia maya yang kini makin efektif dijadikan alat penekan. Semoga Allah selalu melindungi. Amin!

@Rahmat, warga Bireuen, penikmat kopi sore.

KOMENTAR FACEBOOK