Supir Taksi Jujur

Kejujuran dan keikhlasan sudah menjadi barang langka di negeri kita. Sebaliknya, saling tipu dan saling sikut telah menjadi semacam kebiasaan yang dibenarkan. Segala sesuatu kini sentiasa diteropong dengan materi dan atau uang.

Bukan rahasia lagi, betapa bobroknya pelayanan publik di negeri kita. Itu pula sebabnya secara perlahan, tapi pasti, kebanyakan calon investor yang telah melakukan survey ke daerah yang katanya meutuah ini, mundur teratur. Sebab terlalu banyak biaya ekstra yang tidak masuk akal.

Dari tingkat paling bawah, misalnya, untuk mengurus sebuah surat di kantor kepala Desa, tak sedikit oknum yang masih mengedepankan uang ekstra kala melayani warganya.

Jelasnya, harus ada uang sekian terlebih dahulu, baru kebutuhan warga dipenuhi segera. Bila tidak, bisa dipastikan, akan lebih lama waktu dalam pengurusannya.

Oleh karena itu, sering sekali kita justeru merasa aneh ketika menemukan ada orang dan atau lembaga/komunitas yang masih memegang teguh kedua prinsip dasar –jujur & ikhlas- tersebut.

***

Perjalanan kami sekeluarga selama 7 hari (1-7/3/2017) ke negeri jiran kita, Malaysia untuk rekreasi dan menimba inspirasi diawali dengan sebuah kisah yang menggetarkan jiwa. Kami brangkat dari rumah ke Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda pada Rabu (1/3/2017) pagi termasuk pengalaman baru, belum pernah dialami sebelumnya.

Pagi itu suasana masih gelap. Selesai adzan subuh, shalat di rumah, langsung berangkat. Dalam perjalanan menggunakan taksi, istri mencoba mengirimkan pesan dan arahan via aplikasi sosial media WA dan Line ke beberapa tim RUMAN (Rumah Baca Aneuk Nanggroe), Lembaga Pendidikan yang saya dan istri bina sejak 8 April 2013 lalu.

Pada saat bersamaan, ternyata dara kami, Zia dan abangnya, Faiz minta tidur di pangkuan istri. Mereka katakan masih ngantuk. Lantas, tertidur juga mereka.

Nah, takkala tiba di bandara, selepas memastikan proses chek in. Kami minum teh panas manis dan makan kue beberapa potong. Saat mau lihat HP, rupanya sudah tidak ada lagi dalam tas.

Seketika itu juga terlintas pertanyaan, apakah tinggal di rumah atau tertinggal di taksi? Untuk memastikannya, istri coba menghubungi orang dekat RUMAN. Namun tak terjawab.

Begitu hubungan HP direspons, ternyata tertinggal di taksi. Setelah bertanya dimana posisinya, sang supir mengatakan kalau ia akan mengantar ke bandara.

Kita semakin takjub, sebab posisinya sedang jauh dari bandara. Istri pun telah siapkan uang seharga tiket one way (sekali jalan) sebagai ganti argo taksinya.

Namun, tanpa dinyana, si abang supir tidak mau menerima uang itu. “Enggak apa-apa bu, enggak usah bu, makasih bu”, ujarnya berulang kali.

Alhamdulillah. Masih ada barang barang baik seperti abang supir itu di Banda Aceh. Benarlah ungkapan bijak berikut, “Selama mentari bersinar, akan selalu ada orang yang memegang kokoh nilai-nilai kejujuran dan keikhlasan”.

Nah, bagi pembaca setia AcehTrend.co yang ingin menggunakan jasa taksi di seputaran Banda Aceh –yang katanya- Kota Madani. Silahkan menghubungi abang supir nan jujur tersebut.

Oh ya, namanya, Mashraf. Nomor HP-nya, 085288257575. Orangnya sopan, ramah, segar dan baik budi. In sya Allah.

Oleh: Ahmad Arif | Pendiri Lembaga Pendidikan RUMAN (Rumah Baca Aneuk Nangroe)

KOMENTAR FACEBOOK