Laila, Potret Dunia yang Terbalik

SALUT, kagum, bercampur geram niscaya akan hinggap dibenak jika kita mendengar kisah hebat dari perempuan luar biasa yang satu ini, Laila Abdul Jalil. Laila adalah seorang arkeolog Aceh lulusan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Untuk ukuran Aceh kompetensi ini sungguh terbilang langka. Bisa jadi ia adalah salah satu dari sangat sedikit putra Aceh yang pernah kita tahu memiliki label akademis sebagai arkeolog, konon lagi dengan fakta ia adalah seorang perempuan.

Sebagai Arkeolog, Laila menaruh minat dan perhatian besar terhadap berbagai aspek kebudayaan (material) Aceh. Terkait minat dan kompetensinya ini, Laila telah menuliskan tiga buku berbasis riset. Pertama adalah Arsitektur Mesjid Kuno di Aceh : Kajian Terhadap Masjid-Masjid Kuno Di Pesisir Timur Aceh. Buku ini adalah tesisnya di Paska UIN Ar-Raniry, Prodi Sejarah Peradaban Islam. Tesis ini menjadi tesis terbaik di Paska UIN Ar-Raniry Banda Aceh tahun 2012 lalu. Dengan predikat ini, berkat masukan dan dukungan dari berbagai pihak khususnya civitas UIN Ar-Raniry, tesis ini lalu dibukukan oleh penerbit Bandar Publishing, Banda Aceh. Dalam judul bahasa Inggris Ancient Mosques In Aceh, dengan rekomendasi dari Prof. Eka Sri Mulyani di UIN Ar-Raniry, tesis ini oleh Laila pernah diajukan sebagai syarat untuk mendapat kesempatan short course di National University of Singapura. Proposal Laila mendapat apresiasi dari pihak NUS namun sayang ia gagal mendapatkan kesempatan yang idam-idamkannya berhubung statusnya yang belum full master, waktu itu.

Buku kedua juga berbicara tentang mesjid, dengan judul Mesjid-Mesjid Kuno di Aceh. Berbeda dengan buku pertama yang membedah aspek arsitektural, maka buku kedua ini lebih merupakan sejarah ringkas, semacam album, tentang keberadaan mesjid-mesjid kuno di Aceh. Sementara buku ketiga berjudul Tenun Aceh : Tradisi Yang Tergerus”, akan diterbitkan dengan dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh pada bulan April tahun ini dan rencanaya akan dilaunching pada moment pelaksanan event Pekan Kebudayaan Aceh tahun depan. Sebelumnya ia sempat bingung mencari sponsor untuk menerbitkan bukunya ini.

Materi buku ini dalam judul bahasa Inggris Aceh Songket Weaving : Opportunity and Challenge pernah ia ajukan sebagai paper dalam forum International Conference and Cultural Event (ICCE) of Aceh, di Australia dan diapproved! Namun sayang, sekali lagi kesempatannya untuk go international mempresentasikan papernya ini kembali kandas, terkendala karena tidak ada sponsor. Ia gagal mendapat sponsor setelah lelah meminta dukungan dari berbagai pihak terkait, padahal forum ini adalah momentum yang sangat penting dan strategis untuk mempromosikan khasanah kebudayaan khususnya kain tradisional Aceh ke luar negeri. Meski begitu Laila tetap berbesar hati walau telah dua kali gagal tampil marasakah atmosfir ilmiah di luar negeri. Ia tetap bahagia setidaknya karyanya diakui dan diapresiasi, dan memang tidak ada yang lebih penting bagi dia selain itu.

Kedepan Laila sudah berancang-ancang untuk menulis tentang Karawang Gayo dan “Sejarah Islam di Maluku Utara. Untuk yang disebut terakhir sudah pada tahap pengumpulan data. Penulisan buku ini termotivasi dan terkondisi karena lokasi kerja baru Laila di Ternate, mengikuti suami yang kebetulan bertugas disana. Selama di Ternate Laila melihat situs-situs nisan yang berdasarkan hipotesanya memiliki hubungan historis dengan nisan-nisan kuno yang ada di Aceh, naggroe asalnya yang selama ini juga telah menarik perhatiannya. Informasi yang diperolehnya dari masyarakat Ternate tentang sejarah keberadaan seorang ulama Aceh yang menyiarkan Islam di Ternante, dan kemiripian motif-motif nisan kuno di sana dengan yang ada di Aceh, mengundang rasa ingin tahunya untuk meneliti lebih lanjut tentang sejarah Islam di daerah ini.

Disamping buku, Laila juga aktif menulis artikel di berbagai media tentang tema-tema kebudayaan. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Majalah Air Mata (Pasiad), dengan judul dan telah diterjemahkan dalam empat bahasa jerman, perancis, turki Inggris), buletin Arabesk (BPCB Aceh), harian Serambi Indonesia, website Aceh Institute, dan berbagai media lainnya. Ia juga sering menjadi narasumber diberbagai forum diskusi dan seminar kebudayaan. Diundang dalam berbagai forum nasional dalam kapasitas profesionalnya sebagai arkeolog : aktivitas yang membuat iri sebagian rekan-rekan kerjanya di kantor yang kecele mengira Laila asyik ber-SPPD ria dengan menguras uang APBA padahal semuanya ditanggung oleh pihak pengundang.

Laila juga pernah beberapa kali menjadi referensi media. Tercatat Trans TV, National Geografic Indonesia, Intisari, mingguan Atjeh Post, Portal Lintas Gayo pernah mewawancarainya terkait informasi tentang Mesjid Raya Baiturrahman, kain tenun Aceh, situs Putri Pukes, dan situs kerajaan Lamuri. Dengan semua aktifitas ini Laila telah bertekad untuk terus mendedikasikan ilmunya, berkhidmat sebagai pawarta dan pelestari budaya Aceh.

Laila adalah seorang PNS. Hingga Juni 2016 lalu, Laila masih tercatat sebagai PNS di birokrasi Pemerintahan Aceh sampai kemudian ia pindah ke Ternate mengikuti suaminya. Karirnya selama menjadi pegawai di nanggroe sangat bertolak belakang dengan potensi, kompetensi, dan prestasi yang telah ditorehkannya. Selama 13 tahun, dengan track record dan pencapaian luar biasa untuk ukuran seorang birokrat ini, bekerak ia HANYA menjadi STAF BIASA di sebuah SKPA di lingkup birokrasi Pemerintahan Aceh, dan inilah bab yang mungkin bagi orang-orang sekitar yang mengenalnya akan prihatin melihat ini sebagai kenyataan paling miris dari perjalanan karir Laila, namun bagi ia sendiri dengan mental peduli setan ia hadapi dengan jiwa merdeka sebagai seorang pemenang. Nggak apa-apa. Aku ambil hikmahnya saja. Bisa jadi itu yang justru membuat aku bisa eksis menulis dan berkiprah di luar. Dunia toh tidak selebar daun kelor, sekali waktu ia pernah berkata.

Kondisi yang ia hadapi di Aceh memang, sungguh sangat berbeda bagaikan siang dan malam dengan apa yang dialaminya di Ternate. Selama enam bulan disana expertise dan potensi besarnya langsung menjadi buah bibir hingga pada suatu malam ia mendapat kejutan yang tidak biasa. Ia ditelepon dari seseorang, dan seseorang itu bukan orang sembarangan. Ketika ia bertanya, ini saya bicara dengan bapak siapa ya?, suara diseberang telepon menjawab, Saya Sultan Tidore. Saya telah banyak mendengar cerita tentang Ibu Laila. Jadi Ibu sudah bisa siap-siap. Saya telah menghubungi dan meminta walikota untuk melantik ibu besok

Laila sempat terkesima, tanpa disangka-sangka cerita tentang potensi, antusiasme, dan kepakarannya berbicara tentang tema-tema kebudayaan, khususnya yang terkait dengan bidang keilmuannya, arkeologi dan sejarah Islam, telah sampai ke telinga dan mendapat perhatian khusus dan istimewa dari Sultan Tidore! Tidak berhenti sampai disitu, bahkan ia juga diminta dan diundang dengan tangan terbuka oleh IAIN Ternate untuk mengajar sebagai dosen istimewa di sana. Mereka menghormati dan mengapresiasi Laila dengan segala kompetensi yang dimilikinya sebagai asset yang bisa memberi kontribusi positif bagi daerah mereka.

Ketika ditanya bagaiamana perasaanya mendapat privellege dari Sultan Ternate dan penerimaan yang sangat terbuka dan bersahabat dari civitas IAIN Ternate itu, ia menjawab, bukan jabatan, tapi perhatian, penerimaan, pengakuan, dan dukungan itulah yang sungguh membuat saya bahagia dan merasa sangat tersanjung”.

What a beautiful to hear that, Laila

So begitulah sepenggal kisah tentang Laila. Kisah yang mewakili sebuah dunia yang terbalik: Hujan apresiasi di negeri orang, hujan sepi di negeri sendiri.

KOMENTAR FACEBOOK