Mengenal Lagi Monisa, Ketika Barus Jadi Perhatian

Barus, kini sedang menjadi perhatian, bersebab sudah ditetapkan sebagai Kilometer Nol Peradaban Islam ke Nusantara. Peresmian itu, bagai terkena irisan “luka” bagi Aceh, yang sejak lama disebut dengan bangga sebagai awal mula Islam menyebar ke nusantara.

Arus utama sejarah yang menyebut Aceh sebagai sejarah mula Islam di nusantara kini bagai terhenti, meski di Aceh sendiri usaha membuktikan antara Pasai dan Perlak masih saja menjadi kajian. Sampai 1978, Pasai disebut sebagai peradaban Islam Melayu pertama di nusantara. Dua tahun kemudian, 1980 mata sejarawan mulai tertuju ke Peureulak.

Ini tulisan tujuh tahun lalu yang ditulis oleh Mulyadi Nurdin, Lc, alumni Al Azhar, Cairo dalam blog pribadinya. Sebuah tulisan yang mengupas soal Monumen Islam Asia Tenggara, berserta permasalahan diseputarnya. Selamat membaca.

***

Adalah sebuah peristiwa yang sangat spektakuler telah terjadi pada tahun 1980 di Kuala Simpang dimana para ahli sejarah berkumpul dalam sebuah forum ilmiah untuk membedah sejarah Islam. Peristiwa bersejarah itu diberi tema: Seminar Sejarah Masuk Dan Berkembangnya Islam Di Aceh Dan Nusantara, yang dihadiri oleh sejarahwan dan budayawan dari dalam dan luar negeri. Berdasarkan data yang tersedia sebanyak 199 orang turut serta dalam acara yang diprakarsai oleh Ali Hasjmi tersebut, termasuk Prof. DR. HAMKA.

Dari seminar tersebut dilahirkan beberapa kesimpulan, di antaranya: Peureulak adalah daerah pertama masuknya Islam di Nusantara, bahkan menjadi kerajaan tertua di Asia Tenggara yang dimulai dengan diproklamirkannya kerajaan Peureulak oleh sultan Said Maulana Abdul Aziz Syah pada tahun 225 Hijriah bertepatan dengan 840 Masehi. Dengan dikeluarkannya hasil seminar tersebut dengan sendirinya mengukuhkan bahwa kerajaan Peureulak lebih tua dari kerajaan Pasai (Pase) yang baru dimulai pada abad ke 11 Masehi.

Untuk memugar kembali situs sejarah Peureulak yang telah lama terbengkalai, seminar merekomendasikan untuk dibangun sebuah monumen sejarah, untuk itu perlu dibentuk sebuah badan yang bekerja khusus untuk program tersebut yang diberi nama Yayasan Monumen Islam Asia Tenggara disingkat dengan MONISA.

Maka pada tahun 1981 yayasan monisa didirikan, dari susunan strukturnya terpancar optimisme bahwa lembaga tersebut akan sanggup melaksanakan amanah yang dibebankan kepadanya, karena sangat banyak tokoh intelektual dan pejabat publik pada masa itu terlibat dalam struktur, bahkan siapa saja yang menjadi Bupati Aceh Timur secara otomatis menjadi ketua yayasan.

Optimisme pun berbinar-binar dimata masyarakat Aceh khususnya penduduk peureulak sehingga satu persatu masyarakat yang tanahnya masuk dalam site plan monisa bersedia melepaskan tanah mereka dengan ganti rugi alakadarnya, sehingga dalam waktu singkat tanah seluas 122.292m2 yang terletak di desa Paya Meuligoe yang diyakini sebagai bekas kerajaan Peureulak berhasil dibebaskan oleh pengurus monisa.

Dukungan pemerintah pun terlihat sangat serius, setiap tahun Pemda Aceh Timur ikut menganggarkan dana untuk pembangunan situs bersejarah tersebut, dukungan masyarakat secara pribadi juga sangat antusias, pada tahun 1983 sebuah gedung serba guna yang menurut rencana akan dijadikan sekretariat monisa berhasil dibangun atas sumbangan H. Abu bakar Abdy.

Dalam bidang perencanaan, monisa membentuk tim khusus yang dikenal dengan tim 4 dipimpin oleh Ir. Abdul Hadi, cs. Dalam hal ini monisa telah menyiapkan denah yang sangat detail di lokasi monisa mulai dari bangunan induk yang merupakan gedung yang sangat apik dan indah, dilengkapi dengan komplek pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi, juga ada dayah tradisional untuk melestarikan ciri khas budaya Aceh, maket rumah yang berciri khas budaya dari berbagai negara ASEAN, maket rumah adat dari berbagai suku di Indonesia, ada kolam Nurul A’la, pemandian air panas, danau Banta Amat, taman bunga dan lain-lain, bahkan mereka sudah membuat sebuah maket monumen yang sangat indah, maket tersebut sering dipajang pada acara-acara pameran dan sering menimbulkan decak kagum pengunjung atas keindahannya.

Secara historis Aceh sangat layak untuk memiliki monumen tersebut, kalau saja hal itu betul-betul dapat diwujudkan maka Aceh akan kaya dengan berbagai monumen berkelas internasional seperti Monumen Tsunami, Monumen Perdamaian, dan tentu saja Monumen Islam Asia Tenggara.

Namun sangat disayangkan setelah melewati waktu yang sangat lama monumen Islam yang menjadi harapan masyarakat Aceh terutama masyarakat Peureulak yang telah rela mewakafkan tanah mereka untuk proyek tersebut tak kunjung tiba. Sebuah gedung serba guna yang pernah dibangun 25 tahun silam, kini tak terurus dan telah menjadi bak kandang sapi, maket monisa yang sering menjadi bahan pameran kini telah rusak dan hilang entah kemana.

Permasalahan
Kini setelah 28 tahun berlalu, generasi telah berganti, sebagian orang yang turut serta memperjuangkan monisa telah satu persatu menghadap Ilahi, mungkin sebagian lagi masih ada yang diberi umur oleh Allah swt sehingga sempat membaca tulisan ini, namun sayup-sayup gema monisa lenyap ditelan zaman, saksi-saksi persitiwa seminar itupun hampir lenyap, sebuah gedung di komplek pertamina yang dulunya menjadi tempat seminar telah kusam, dan nyaris tak terurus lagi, yang tinggal kini hanya tanah kosong seluas 12 hektar di Paya Meuligoe yang merupakan wakaf masyarakat, beberapa plang nama pada simpang jalan di Peureulak dan beberapa makam tua yang diklaim sebagai raja.

Banyak orang yang bertanya-tanya apa sebab pembangunan monisa gagal di tengah jalan, sebelum pertanyaan itu dijawab oleh yang berkompeten, penulis mencoba menaganalisa beberap sebab yang menghambat atau memperlambat pembangunan monisa tersebut. sebagian analisa disini merupakan hasil kajian dan pembahasan bersama pengurus monisa yang baru yang mulai bertugas pada tahun 2008, permasalahan tersebut antara lain:

1. Kebanyakan pengurus monisa adalah birokrat dan pejabat publik, sehingga tidak fokus dalam masalah monisa, sejak pertama didirikan ketua harian monisa adalah Bupati Aceh Timur, siapa saja yang menjadi bupati dialah yang menjadi ketua monisa. Hal itu menjadi salah satu faktor terlambatnya pergerakan monisa karena bupati dengan kesibukannya tentu saja sangat sedikit waktu untuk mengurus hal seperti itu.

Menyadari banyaknya kendala struktural di tubuh yayasan, maka pada tahun 2008 dilakukan revisi pengurus secara total dengan melibatkan lebih banyak pihak yang umumnya merupakan tokoh muda, juga merangkul tokoh-tokoh dari luar Aceh Timur sehingga kesan ekslusifisme monisa dapat dihilangkan.

1. Tidak dilakukan penggalian arkeologi secara mendalam pada lokasi yang diyakini sebagai bekas kerajaan Peureulak, sejauh ini keyakinan bahwa Peureulak sebagai kerajaan Islam Pertama di Asia Tenggara didapati dari literatur baik lokal maupun asing seperti marcopolo, namun lokasi kerajaannya secara persis masih bersumber dari informasi lisan masyarakat setempat, memang ada dilakukan penggalian nisan sebelum seminar diadakan dengan menghadirkan Tgk. H. Abdullah Ujong Rimba yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Daerah Istimewa Aceh, namun penggalian yang dilakukan beliau perlu dikuatkan lagi oleh arkeolog sehingga hasilnya betul-betul dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Sebelumnya Ketua Lembaga Dinas Purba kala Pusat Jakarta Drs. Hasan Ma’arif Ambary telah hadir di Peureulak dan ikut dalam seminar tahun 1980 bahkan menyampaikan makalah dengan judul: bangun dan berkembangnya Islam di Peureulak ditinjau dari segi arkeologi, namun beliau datang ke Peureulak hanya sekedar meninjau lokasi bekas kerajaan bukan untuk melakukan penggalian, sehingga dalam makalahnya beliau merekomendasikan supaya dilakukan penelitian arkeologi yang lebih mendalam lagi di masa yang akan datang. Namun rekomendasi tersebut sampai saat ini belum dilakukan.

Sebagian tokoh masyarakat di kawasan Paya Meuligoe meyakini dari hasil penggalian nisan yang dilakukan oleh Tgk. H. Abdullah ujong Rimba terdapat tulisan Abdul Aziz pada nisan tersebut namun tulisan itu telah tertanam ke dalam tanah sehingga tidak dapat dibaca lagi, penulis pun sudah melihat foto nisan tersebut setelah diangkat dari makam, namun masih meragukan kebenaran informasi tersebut.

Untuk memastikan pernyataan tersebut pengurus monisa yang baru, mengundang beberapa orang pakar untuk melakukan kajian langsung terhadap makam dan nisan yang diyakini milik sultan Said Maulana Abdul Aziz Syah. Penggalian itu dilakukan pada tanggal 17 Agustus 2008 dibawah pimpinan arkeolog muda Aceh, Dedi Satria, namun setelah nisan digali sampai ke akarnya tidak juga ditemukan nama sebagaimana yang diharapkan, walau demikian arkeolog tersebut mengakui kalau nisan itu telah berumur lebih dari 800 tahun.

Penggalian arkeologis sangat diperlukan untuk menyatakan pada dunia tentang keabsahan historis suatu situs bersejarah, sehingga tidak menimbulkan kesalahan di masa yang akan datang.

1. Kebanyakan penulis sejarah termasuk Prof. Ali Hasjmi sering mengutip kitab IDHARUL HAQ FI MAMLAKATIL FIRLAK WAL FASI, karya Abu Ishak Al-Makarani sebagai rujukan, karena disana mengandung sejarah Peureulak dan silsilah raja-rajanya, malah lembaran lepas dari kitab tersebut yang berisi silsilah raja peureulak sempat dibawa ke tempat seminar di Kuala Simpang pada tahun 1980, foto copy lembaran itu juga ada sama penulis, namun lebih dari itu belum ada kabarnya. Dalam dokumen monisa dituliskan bahwa kitab itu secara utuh ada sama seorang warga Peunaron yang bernama pang Akob atau Lebai Akob, namun setelah dilakukan penelusuran ternyata yang bersangkutan telah meninggal dunia dan kitab itu belum ada kabarnya dimana.
Seorang budayawan Aceh Nab Bahany As mengakui pernah melihat kitab itu di simpang balik Aceh Tengah pada tahun 1980-an sedang diterjemahkan oleh Teungku Adu atau Kek Adu yang berasal dari Matang Rubek Aceh Utara, lalu pada tanggal 18 Agustus 2008 kami bersama pengurus monisa pergi ke Matang Rubek untuk mencari orang yang disebutkan oleh Teungku Nab Bahaby, namun Teungku Adu tersebut juga telah lama meninggal dunia.

Pencarian ke pustaka-pustaka juga sudah dilakukan, termasuk ke museum Aceh dan Museum Ali Hasjmi namun hingga kini belum ada yang bisa menunjukkan kitab yang menjadi juru kunci sejarah Peureulak tersebut, sehingga berbagai informasi penting tentang sejarah Peureulak dan silsilah raja-rajanya masih menjadi misteri. Semoga bagi siapa saja yang menyimpannya bisa berbagi dengan yang lain demi kemaslahatan sejarah Aceh.

1. Sebagian sejarah ada yang berbau mitos, hal itu lumrah terjadi dimana saja apalagi jika sejarah itu tidak didokumentasikan dengan jelas. Umumnya masyarakat kita menyampaikan sejarah kepada generasi berikutnya melalui lisan sehingga akurasi data makin lama makin berkurang atau malah hilang sama sekali. Demikian halnya dengan kisah tentang kerajaan Peureulak, kebanyakan masyarakat hanya mendengarnya lewat hikayat, syair, dan cerita orang-orang tua.

Dalam konteks monisa, sebagian besar informasi tentang sejarah Peureulak seperti kisah Nurul A’la, Banta Amat, Nurul Qadimah dan raja-raja bersumber dari cerita orang tua-tua, sehingga akurasi datanya berkurang apalagi cerita itu sudah diwariskan oleh beberapa generasi sehingga berbagai modifikasi bisa saja terjadi dalam penyampaiannya.

Demikianlah, apapun rintangannya kita tertantang untuk membuktikan jejak sejarah bangsa kita, secara historis penulis sepakat dengan kesimpulan seminar tahun 1980 bahwa Islam telah masuk ke Aceh pada abad pertama hijriah tepatnya di Peureulak, namun yang terpenting menurut penulis adalah melakukan pembuktian arkeologis pada lokasi sejarah tersebut, baru dilanjutkan dengan pembangunan monumen, supaya tidak adanya bongkar pasang pada bangunan yang dibangun di tempat yang tidak seharusnya. Semoga pengurus monisa yang baru mampu melakukan tahapan yang benar dalam membangun monisa ke depan sehingga kita tidak terperosok ke lobang yang sama di masa yang akan datang. Wallahu a’lam.

*penulis adalah alumni Universitas Al-Azhar Cairo, Ketua IKADI Banda Aceh

KOMENTAR FACEBOOK