“Nyepi”

SAUDARA sebangsa kita dari penganut Hindu sedang merayakan Nyepi beserta Hari Raya Nyepi. Meminjam makna Nyepi dari saudara sebangsa atau se bumi ini, Nyepi adalah sepi, sunyi, lenggang, tidak ada kegiatan.

Jika dikaitkan dengan Hari Raya Nyepi sebagai waktu kemenangan Raja Kaniskha atas keadaan porak-porandanya kehidupan sebelumnya, maka Nyepi berrserta Hari Raya Nyepi bisa disebut hari kontemplasi, refleksi dan proyeksi untuk terus membangun semesta diri dan semesta alam senantiasa berada dalam kedamaian dan kemakmuran, perubahan untuk kebangkitan.

Ibarat seorang yang berlayar di sungai nan panjang dengan perahu selama 356 hari, adakalanya sehari berhenti, untuk merenungi perjalanan yang sudah dilalui, untuk kemudian berlayar kembali, sampai waktu ditentukan berhenti.

Cara pandang hidup itu, juga memiliki jejak kesadaran di Aceh, sebelum kepercayaan Islam menjadi cara pandang hidup dan mati ureung Aceh. Jejak Hindu yang ada di Aceh pada Indrapurwa, Indrapatra dan Indrapuri bukan sekedar jejak benda, tapi juga jejak kesadaran.

Hidup memiliki masa lalu nan jauh, yang terkadang tidak bisa diraba dan ditelusuri, sangat purwa (purba) bahkan bisa lebih jauh lagi. Hidup bukan suatu yang ada begitu saja, ia punya riwayat dan tahapan hingga titik yang mencipta kehadiran.

Kesadaran masa lampau atau perjalanan itu penting dan menjadi modal untuk menhadirkan patra (kemakmuran, kedamaian, kesentosaan, darussalam). Masa lampau adalah buku berisi pengalaman berharga menghadapi hidup, sekaligus menjadi material untuk mewujudkan kehidupan lebih lanjut. Tapi, masa kini yang makmur dan damai bukan awal, apalagi akhir, melainkan modal pengalaman bagi melanjutkan perjalanan sampai akhir menyatakan dirinya sudah tiba.

Untuk itu semua, baik pengalaman lampau maupun capaian kekinian (patra berupa pencapaian, kemakmuran dan perdamaian) yang merupakan “harta” bagi generasi pelanjut hidup sebagai pemilik mikrokosmos dan makrokosmos haruslah di jaga, dibentengi (puri) dengan kekuatan kekuasaan, ilmu, dan relegi.

Tanpa kekuasaan fisik, ilmu dan relegi yang padu dan padan maka seluruh “harta” pengetahuan masa silam dan capaian masa kini akan hilang atau tergerus pelan-pelan. Kebijakan, kebijaksanaan, dan kearifan mengelola hidup akan lemah, dan akhirnya masa depan bukan lagi negeri yang darussalam, melainkan negeri darul harb, negeri yang kacau balau. Negeri yang tidak bergerak ke depan, melainkan meluncur ke masa tertinggal.

Sekarang, mari kita “nyepi” atau kontemplasi sejenak, sudah dimanakah kita (Aceh) saat ini? Bergerak maju atau kembali mundur? Salah satu cara menjawabnya bisa dengan melihat bagaimana kita memperlakukan Pegawai Negeri Sipil.

Membandingkannya dengan Indonesia, pada 1974 dan 1999 perlakuan bagi PNS masih bersifat monoloyalitas kepada penguasa dan partai politik yang mendukung penguasa sehingga budaya rekruetmen pegawai sarat dengan KKN. Tahun 2014, melalui UU No.5/2014 barulah ada koreksi besar. PNS diletakkan sebagai agent of concept, pelican publik yang keratin dan berintegritas, pelayan publik profesional, bebas dari intervensi politik, tidak boleh lagi double jabatan dan lainnya, sehingga dibutuhkan seleksi terbuka dan kompetitif bagi pejabat tinggi.

Dengan cara itu tercipta birokrasi yang profesional, netral dan independen dalam menjalankan tugas kenegaraan tanpa tergantung politik pemerintahan, dan ini dilakukan dengan memutus alur hirarki pegawai negeri sipil dengan kepala daerah.

Cara lebih baik yang kini dipakai Indonesia lewat UU ASN pernah diterapkan di Aceh pada periode 2006 – 2012. Jadi, jika saat ini, iklim pegawai negeri sipil kembali ke zaman 1974 – 1999 maka artinya Aceh tidak sedang bergerak ke depan, melainkan kembali ke belakang, ke musim yang sudah ditinggalkan Indonesia. Coba hitung, berapa jarak tertinggal kita Aceh dengan Indonesia yang dahulu pernah disebut sebagai negeri yang tidak berkemajuan, tidak memberi kemakmuran, dan tidak akan berubah dari cengkraman orde baru?

Dalam Islam sadar diri tidak lagi membutuhkan hari utama seperti nyepi, tapi harus selalu bersedia untuk mengevaluasi diri agar bisa melakukan taubat nasuha, yaitu perbaikan sehingga hidup labih baik lagi. Bersediakah? Jika tidak, mari kita terus dorong kesadaran, sampai batas maksimal, agar apa yang tidak mungkin kita lakukan, yang Maha Mampu akan menolong kita semua. Amin!

KOMENTAR FACEBOOK