Beragama Utopis

Akhir-akhir ini kita melihat gejala keagamaan yang semakin menunjukkan bentuk-nya yang paling sakit. Beragama yang sejatinya merupakan jalan menuju pengabdian kepada Tuhan, telah berganti menjadi alat untuk meraih dukungan dan kekuasaan. Agama yang sejatinya jalan kedamaian dijadikan justifikasi untuk menuai berbagai permusuhan. Agama yang sejatinya menawarkan pluralitas dan persamaan dalam perbedaan menjadi ter-ilusi pada nafsu penyeragaman. Agama yang sejatinya jalan persaudaraan untuk saling menguatkan disulap menjadi alat untuk memblokir, membungkam, mengintimidasi, menghinakan dan merendahkan.

Kita ambil contoh bagaimana disetiap menjelang pesta-pesta demokrasi, agama senantiasa menjadi lipstik dan lipsing untuk meraih dukungan. Kita lihat bagaimana semua kandidat dalam pemilihan berlomba-lomba berebut paling soleh hanya demi kepentingan pilkada. Dan setelah menang, setelah kursi dapat dicapai, agama-pun dibiarkan tergeletak di pinggir jalan.

Masyarakat sepertinya juga tidak jeli, tidak melihat siapa yang pakai peci? Atau memang kita sudah ditakdirkan untuk mudah ditipu dengan agama. Dan siapapun ia, pembunuh, peselingkuh, koruptor, preman dan anak Abu Jahal sekalipun, hanya dengan mengandalkan peci, surban dan jubah, maka akan terlihat seperti ahli surga. Naif.

Utopis dalam menjegal lawan…
Dalam menjegal lawan-pun tak tanggung sama. Kita pasti menyayangkan Ahok dan menuntut penyelesaian hukum secara adil. Namun naïf jika kesalahan tersebut dibesar-besarkan sedemikian rupa dengan niat supaya Ahok terjegal dari Pilkada. Apakah tidak ada cara lain yang lebih elegan untuk mengalahkan Ahok selain dengan membesar-besarkan kesalahan yang masih tersilang pendapat? Jujur jika boleh berharap, saya pribadi lebih menginginkan Ahok diperiksa atas kecurigaan korupsi Sumber Waras, Reklamasi Teluk Jakarta atau apapun itu yang lebih keren daripada harus di hukum karena silap bahasa.

Utopis dalam menalar kebenaran…
Dalam menalar kebenaran, prilaku-prilaku utopis sengaja atau tidak sengaja telah memicu pertentangan, perusak persaudaraan sesama muslim dan melecehkan mereka yang berbeda pemahaman, beda penafsiran. Padahal tidak semua masyarakat muslim menyepakati bahwa Ahok telah benar-benar menghina agama. Padahal tidak semua nalar muslim menyetujui bahwa Ahok telah melecehkan Al-Qur’an. Atau jika memang semua sepakat bahwa kata-kata Ahok telah melecehkan Agama, tidak semua orang menginginkan Ahok di penjara. Mungkin ada yang menginginkan supaya Ahok dimaafkan dan kejadian ini dilupakan saja. Toh, dalam Islam, juga ada ajaran untuk memaafkan?

Persoalannya kemudian menjadi rumit ketika terjadi pemaksaan pemahaman, penafsiran maupun pendapat. Dimunculkanlah statement-statement totalitarian seperti, “Siapa yang tidak mendukung aksi 144, 212 dan 112 serta 313 dan diragukan keimanannya!” atau “Hanya orang-orang munafik yang mengatakan bahwa Ahok tidak menghina Al-Qur’an!” Statemen-statemen ini seolah menutup perbedaan pendapat, perbedaan penafsiran. Lebih jauh kemudian, statemen-statemen ini juga membungkam keanekaragaman pandangan. Seorang muslim yang nalar pikirannya menafsirkan bahwa Ahok tidak menghina al-Qur’an menjadi diragukan keimanannya. Atau seorang muslim yang meyakini Ahok telah menyinggung hati umat Islam namun baginya, Ahok meminta maaf sudah cukup, tak usah dibesar-besarkan, malah dituduh munafik.

Sikap-sikap totalitarian yang mengabaikan keragaman pandangan seperti ini jelas berbahaya bagi keberlangsungan toleransi dan persaudaraan. Lebih jauh lagi, sikap-sikap tidak mau menerima perbedaan pendapat, perbedaan penafsiran dan perbedaan pandangan justru akan merenggangkan lini-lini keislaman itu sendiri.

Tidak ada yang dapat memastikan siapa yang sebenarnya munafik dan siapa yang sebenarnya diragukan keimanannya? Apakah mereka yang mengajukan untuk memaafkan Ahok, atau mereka yang berdiri serak di atas panggung agama minta Ahok diadili? Tidak ada yang dapat memastikan, amalan siapa yang diterima. Mereka yang tidak mengekspos berapa uang sumbangannya, dan apa saja yang dia lakukan untuk agama, atau mereka yang tidak membiarkan sekecil apapapun “amal baiknya” menjadi rahasia antara dirinya dengan Allah, lalu diumbar sedetail mungkin pada pesbuk, pada yu tub dan jejaring sosial?

Utopis dalam memaknai kebangsaan…
Dalam memaknai kebangsaan, orang-orang Utopis akan selalu membentur-benturkan antara agama dan Negara. Mereka akan mengumbar-umbar meme betapa Negara sudah tidak adil kepada umat Islam. Mereka akan mengumbar-umbar kesalahan orang-orang yang dituding sebagai kaki tangan musuh-musuhnya, walau ulama sekalipun. Mereka akan mencari-cari kesempatan bagaimana caranya supaya rakyat tidak lagi percaya pada negaranya. Padahal kepercayaan rakyat adalah lini terbesar keutuhan sebuah Negara.

Sebagian dari mereka akan berusaha membawa agenda dagangannya disetiap perhelatan dan aksi-aksi yang katanya membela agama. Kita tidak bisa memungkiri betapa agen-agen trans-nasional bermain disana. Kita melihat HTI secara nyata terlibat dalam barisan. Kita juga mencurigai bahwa ISIS juga ambil bagian. Mereka sedang memanfaatkan kerapuhan dan merusak kepercayaan. Karena agenda terbesar mereka adalah bagaimana rakyat tidak percaya lagi pada Bangsa, dan bagaimana bangsa yang besar ini akan dihancurkan.

Inilah yang kurang disadari oleh mereka-mereka yang beragama secara utopis. Mereka tidak tahu bahwa jihad ‘ala’ Nusantara bukanlah jihad konfrontatif melawan negara, bukan jihad untuk menang atau kalah, bukan jihad untuk mati atau hidup. Tapi Jihad ‘ala’ Nusantara adalah jihad komunikatif dan jihad persuasif. Jihad yang tidak ada kalah, yang ada hanya menang; jihad yang tidak ada mati, yang ada adalah kehidupan. Jihad yang mencintai keragaman perbedaan; Jihad yang mengedepankan toleransi, musyawarah, hikmah, kebijaksanaan dan saling memaafkan. Bukankah jihad seperti ini yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita? []