Surat Dari Rimba: Abu Doto, Jangan Ganggu Mante

Ilustrasi Mante

Tabik dan salam kehadirat segenap putera maha tinggi di Pendopo peninggalan kaphe penjajah Netherland, di Kutaraja. Segala penghormatan pula kepada segenap cendekia di seputar pinggang penguasa. Serta ke hadapan segenap dendayang, pembisik, segala kabinet di Negeri 1001 hibah yang tak pernah dipertanggungjawabkan.

Gubernur Aceh yang terhormat! Akhir-akhir ini saya –atas nama Bangsa “Mante”– yang merupakan “pribumi” di tanah yang kelak oleh indatu Anda diberinama Aceh, mulai khawatir. Tiada perihal lain yang membuat segala rona gelisah itu muksa–belum berupa murka– dan menjadi kegelisahan yang tak bertepi. Itu semua diawali oleh rencana Paduka Gubernur Aceh yang berencana hendak meneliti kami, dengan melibatkan segenap alim ulama Islam. Tujuannya–menurut Anda– untuk memperkaya khazanah keacehan.

Sebelum semuanya terlambat. Hendak saya sampaikan bahwa, bila Anda menerjemahkan kami sebagaimana kepercayaan yang diawali oleh tulisan seorang kafir harbi bernama Snouck Hurgronje, Anda telah terjebak dalam paradigma yang salah tentang kami. Andaikan program riset itu lahir karena video amatir itu, Anda bukan saja terjebak dalam pandangan keliru, tapi telah tersesat mengenali kami.

Dalam terjemahan bangsa Aceh–bukan pribumi– kami ini sekumpulan penduduk asli yang melarikan diri ke hutan belantara dikarenakan menolak menjadi bagian dari Atjeh yang Islam. Kemudian lambat laun, cerita kian berona warna, bahwa Mante –kami– bertubuh kecil, berambut keriting, kulit hitam, rambut tak pernah digunting, telanjang, bar-bar, tidak ramah kepada pendatang dan tak mengenal aturan dalam melampiaskan arus bawah. Kami primitif dan tak bertuhan.

Benarkah demikian? Benarkah kami menolak Islam? Bila benar, lalu agama kami apa? Hindu? Budha? Animisme? Bila kami bukan Islam, kenapa pula riset yang Anda rencanakan itu harus melibatkan ulama? Emang kami bisa menerima kehadiran ulama? Bukankah kami tidak menerima Islam di masa lalu?

Tuan Gubernur yang terhormat. Anggap saja tulisan ini lelucon. Atau seperti biasa, bahwa segala tulisan yang tujuannya hendak mengingatkan, anggap saja berasal dari hater yang ingin dapat perhatian dari Saudara. Abaikan saja dan bila perlu maki saja. Toh ini juga tak berpengaruh lagi bagi kekuasaan. Tak berguna lagi untuk pencitraan. Bukankah bulan Agustus 2017, negeri penjajah “Mante” serta jajahan Indon ini sudah memiliki gubernur baru.

Wahai Gubernur Aceh. Secara keacehan lama–meminjam kearifan lokal Aceh– bahwa Mante itu tidaklah berupa sebuah bangsa. Ia tidak juga manusia primitif, atau primata sekalipun. Mante adalah kata sifat, sekedar ibarat saja. Snouck menulis Mante untuk mengejek asal-usul Aceh. Sama seperti Orientalis lain yang menciptakan istilah Batak.

Untuk itu, Mante selalu dinarasikan sebagai bangsa yang primitif, berlari kencang, bertubuh kerdil, telanjang, menolak beriman, hidup dalam rimba secara personal, rakus dan anti terhadap pendatang. Pak Gubernur, mari merenung, segala narasi itu ditunjukkan kepada siapa? Terlalu pintar si Snouck itu –Semoga Allah menyiksanya di dalam kubur– mengejek Aceh. Bahkan karena terlalu agungnya ejekan itu, sehingga Anda pun terjebak dalam pemahaman yang keliru.

***
Pada akhirnya, sebagai Duta Besar “Mante” hendak saya sampaikan bahwa, bila hendak melakukan riset, Abu Doto tidak perlu bersusah payah membentuk tim dan menusuri rimba. Karena Mante tidak berada di sana. Semua pengakuan tentang pernah melihat Mante, tidak ada yang benar. Semua menggunakan logika dangkal. Kadang cit aneuk jen nyang dikalon lam rimba.

Hasil riset terakhir, bahwa jumlah Mante sekitar 30.000 jiwa. Tersebar di seluruh Aceh. Mereka berada di semua sektor yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Tugas mereka mengurangi kualitas pembangunan, menggelapkan hibah, menjual belikan HGU, membunuh saudaranya yang berbeda haluan, menebar kebencian, mengorupsi anggaran. Memotong hak anak yatim dan fakir miskin, menipu janda korban konflik. Menjadi centeng pengusaha nakal. Dll.

Terkait kelihaian mereka dalam berlari, sampai sekarang Mante yang demikian tak tak pernah ditangkap oleh polisi. Atau jangan-jangan?

Abu Doto, demikian surat dari rimba ini saya sampaikan. Semoga bermanfaat untuk melahirkan kewarasan menjelang turun tahta.

Abu Doto, jangan ganggu “Mante” karena ia tak pernah ada.

Gunong Geureudong– Seulawah Agam,
3 April 2017.

An. “Mante”

KOMENTAR FACEBOOK